Simpan template dan lihatl Red Bubble Rose: therapy

Kamis, 10 April 2014

therapy


Therapy


Tittle     : Therapy
Cast       : Jung Yong Hwa, Park Yona (OC), Park Sehun, Luhan
Genre     : Romance, Comedy etc.
Author   : RBRose(I)
length    : oneshoot

Happy reading^^

“YONAAAA!!! Yaaa! Bangun pemalas...” teriak seorang wanita paruh baya membangunkan gadis semata wayangnya dengan penuh perjuangan.


“emmh.. sebentar lagi eomma.” Sahut gadis itu sejenak lalu memposisikan tubuhnya menjadi lebih nyaman untuk tidur kembali.
“ck, kelakuanmu. Cepat bangun, kau terlambat lagi. Eomma tidak mau dan tidak akan mau datang ke sekolahmu lagi.”
“Biar saja, ada Appa, ada Sehun oppa atau Jung ahjumma. Lima menit lagi eomma, aku janji. Lihat, aku menyetel alarm. Sudah eomma turun saja.” Gadis itu men-set alarmnya agar berbunyi lima menit kemudian.
“ ck, mana ada anak gadis kelakuannya sepertimu.”
“hmmm..”

5 menit kemudian

KRINGG KRINGG

“cih, mengganggu saja.” Ucap gadis itu lalu membenamkan kepalanya dibawah bantal.

KRINGG KRINGG KRINGG

“aish, berisik sekali-“ gadis itu bangkit dari tidurnya untuk mematikan alarm yang berbunyi tadi “-YAA!!! Sudah siang! Aku kesiangan lagi. EOMMAAA, kenapa  tidak membangunkanku!!” gadis itu kini kalang kabut karena begitu paniknya.

Lihat selengkapnya

‘tadi sudah eomma bangunkan, tapi kau bilang sebentar lagi. Yasudah eomma turun saja.’ Jawab ibunya setengah berteriak dari lantai bawah.
“aish, asdfghjkl!” gadis itu menggerutu tidak jelas.
Gadis itu kini menyambar handuknya dan memasuki kamar mandi.
“ mandi, tidak, mandi, tidak, mandi, tidak..” namun dia malah menggumam di dekat cermin sembari menghitung jarinya tidak jelas.
“tidak usah mandi. Sudah sangat siang.” –keputusan final. Lebih memilih hanya menggosok gigi dan mencuci mukanya dengan sangat brutal. Tidak sampai 3 menit.
Ia sudah berpakaian seragam. Saat keluar dari kamar mandi, dia masih sibuk mengancingkan bajunya

BRUUKK

“ Ya! Sialan..!” naas, dia jatuh terpeleset handuknya sendiri sehingga memar di tangan kanannya. Dan kini dia menggerutu, menyalahi handuk yang diinjaknya.

***

Selesai dengan segala urusan di kamarnya, gadis itu kini menuruni tangga sambil sesekali membenarkan tatanan rambutnya (yang tidak disisir) menggunakan jari jarinya. Saat turun, ia di hadapi pandangan malas dari tiga orang yang duduk di meja makan. Ia mengambil beberapa lembar roti dan makan sambil duduk. Tidak juga sih. Makan sambil memakai sepatu di kursi tepatnya. Ia tidak mempermasalahkan itu.

“kau itu anak gadis, berprilakulah seperti anak gadis pada umumnya. Tidak baik perempuan berprilaku urakan seperti itu.” ayahnya memulai pembicaraan dengan mata yang tidak lepas dari koran di tangannya.
“ Ya tuhan. Sembuhkanlah adikku. Ampuni segala dosanya, hilangkanlah segala hal hal buruk disekitarnya. Aku ingin memiliki adik yang manis tuhan, kabulkan doaku. Amin.” –kakaknya, Sehun. Mencoba mendramatisir suasana. Ditanggapi dengan tatapan malas dari yona.
“ kan sudah aku bilang, yeobo. Anak gadis kita itu harus memiliki namjachingu. Kau selalu melarang larangnya.” Ibunya menanggapi.
“ apa hubungannya yeobo? Kalau dia punya kekasih, dia tidak akan fokus ke pelajaran, prestasinya akan menurun.”
“ tapi, setidaknya jika dia punya kekasih dia akan punya rasa malu dan dia akan mengurus dirinya sendiri. “
“ Benar juga.” Tuan park –ayah Yona- sudah sepenuhnya mengalihkan perhatiannya dari koran dan mulai memikirkan ucapan istrinya tadi.
“ Tapi dia seperti itu eomma, lihat penampilannya. Siapa juga namja yang mau nempel dengannya.” Sehun ikut menyahut.
“ siapa bilang? Ada kok. Kau, appa, dan satu lagi yonghwa. Sahabatku nomer satu. Kalian namja kan? Dekat denganku kan? Sudahlah, kalian mulai bicara yang aneh aneh. Aku sudah kesiangan. Aku pergi dulu. Bye.” Yona pun pergi setelah sebelumnya mengecupi pipi anggota keluarganya.
“ Sial. Sudah jam segini, mereka bicara lama sekali. Aku harus berlari lagi sepertinya.”
Dia pun berlari menuju sekolahnya seperti sedang dikejar petugas razia, sesekali meminta maaf karena menabrak para pejalan kaki.


***
“ Hosh hosh hosh.. untung tidak tertangkap.. hosh..” yona sudah sampai sekolahnya dengan selamat. Tidak juga. Hampir mati dikejar security. Untung dia bisa bersembunyi sehingga gorila jelek –yona yang memberi nama-  itu tidak lagi mengejarnya.
Dia lalu mengendap ngendap menelusuri lorong sekolah, dan tiba di depan kelasnya.
“ Gawat. Mrs. Kim sudah datang. Aku harus melakukan jurus ini.” Lalu dia mengetuk pintu kelasnya.
Tok Tok Tok
“ Masuk.”
“ Sorry Miss, i’m late.” Ucap yona menunjukkan wajah yang melas semelas melasnya (?)
“ Apa alasanmu kali ini?” tanggap Mrs. Kim
“ Ada sedikit kecelakaan tadi di rumah.” ‘terpeleset’ tambahnya dalam hati.
“ Baiklah saya maafkan. Sayang sekali, kau itu murid pintar di sini. Lain kali kau harus bisa merubah sikapmu.”
“ Baik saem, maafkan saya.”
“ oke, duduk di tempatmu.”
Ia pun menuju tempat duduknya di sebelah sahabatnya, Yonghwa.
“ Dasar, kebiasaan.” Ucap yonghwa masih terus menulis.
“ diamlah, kau berisik sekali.”
***
Bel tanda istirahat sudah berbunyi. Tersisa dua orang saja di kelas XI-8 itu. Yang laki laki sedang membereskan alat tulisnya. Sedangkan yeoja yang satunya sedang memposisikan kepalanya untuk tidur di atas meja. Tapi tidak untuk tidur. Mengistirahatkan diri saja sepertinya. Namja yang sudah beres membereskan alat tulis itu memerhatikan kelakuan sahabatnya. Lalu ikut memposisikan dirinya seperti sahabatnya itu, namun dengan wajah yang berhadapan.
“ Wae?” namja itu memulai pembicaraan.
“ Kau tau sendiri.” Jawab yeoja itu sesekali menutup kedua kelopak matanya.
“ Keluargamu?”
“ Hmm..”
“ apa yang mereka lakukan?”
 “ seperti biasa.”
“ menurutku, ini memang kesalahanmu. Kau itu seharusnya bisa sedikit saja merubah sikap dan penampilanmu seperti gadis normal pada umumnya. Sedikiiit saja.”
“ kau mengataiku tidak normal?” yona mulai jengah kepada sahabatnya itu.
“ bukan begitu. Ck, kau ini sensitif sekali.”
“ ck, berpenampilan seperti yeoja yeoja centil itu?”
“ tidak selamanya penampilan yeoja itu centil. Maksudku kau harus berdandan sedikit lebih rapi dari biasanya. Lalu bangun pagi dan melakukan aktivitas yang biasanya seorang yeoja lakukan setiap pagi..”
“ hmm.. kedengarannya itu tidak bagus Tuan Jung. Malas sekali harus seperti itu.”
“ ck, dasar keras kepala.”
“ biar saja.”
Lalu hening sesaat. Mereka masih bertahan dengan posisi menidurkan kepala di meja.
“ kau tau, tadi pagi mereka semakin bicara yang aneh aneh.” Yona membuka suara
“ maksudmu?” tanya yonghwa kebingungan.
“ eomma bilang aku harus punya namjachingu supaya aku bisa malu di depan namjachinguku sendiri dan nantinya aku bisa mengurus diriku sendiri. Ck, dikemanakan akal sehat mereka.”
Yonghwa tetap diam dan mendengar baik baik apa yang dikatakan sahabatnya itu.
“ kupikir appa akan membelaku untuk tidak punya namjachingu, tapi akhirnya dia malah asal menyetujui usul eomma.” Yona masih melanjutkan pembicaraannya.
“ dan oppaku, ah.. malas aku membicarakannya. Aku tidak mood sekarang.”
“ sepertinya aku punya ide.” Tiba tiba yonghwa menyahut.
“ apa?”
“ hmm, kupikir aku bisa sedikit membantumu. Biar kuberi tahu. Katakan saja saat ini kau akan menjalani sebuah terapi. Dan aku akan membantu dengan berpura pura menjadi namjachingumu.”
“ Mwo? Kau gila?” yona bangkit dari tidurnya. Dan diikuti oleh yonghwa.
“ kan aku bilang pura pura. Hanya pura pura bodoh, hanya dihadapan keluargamu saja. Lagian aku juga menyukai Seohyun, anak kelas sebelah. Ini demi kau juga, bukankan kau malas di beri wejangan setiap harinya oleh appa dan eommamu?”
“ iya juga sih. Tapi aku tidak yakin ini akan berhasil.”
“ kita belum mencobanya babo.”
“ aish, baiklah. Berhenti mengataiku babo. Tidak mungkin aku bodoh jika aku juara umum tiap tahunnya.” Yona mulai menyombongkan dirinya. Yonghwa memutar bola matanya malas.
“ Baiklah. Mulai sekarang bilanglah pada keluargamu kalau kau berpacaran denganku. Arra?”
“ hmm..”
“ yasudah, ayo kita pesan makanan. Aku lapar chagiya, hihihi.” Ucap yonghwa lalu merangkul pundak sahabat sekaligus kekasih –pura pura-nya
“ cih, menjijikan.”
***
“ aku pulaang..” teriak yona di kediamannya.
“ oppa, kau tidak pergi kuliah? Kenapa sepi sekali? Yang lain kemana?” tanya yona pada Sehun yang sedang menonton acara televisi.
“ aku baru saja pulang. Aku tidak tau eomma kemana, tadi pergi keluar. Appa belum pulang.”
“ oh..”
Selesai melepaskan sepatunya, yona menghampiri kakaknya dan merampas cemilan di tangan kakaknya itu.
“ ck, kau bau. Pergi mandi sana!”
“ malas.”
“ cih, kebiasaan.”
“ biar saja.”
Lalu mereka menonton tv bersama. Saat acara tersebut iklan, yona membuka suaranya.
“ oppa, kau tau?”
“ tidak.”
“ jangan memotong ucapanku!”
“ oke, baiklah lanjutkan.”
“ aku punya namjachingu sekarang.”
“ aku tidak percaya.”
“ aku serius.” Lalu Sehun memutar badannya, memandang adik semata wayangnya yang masih mengunyah cemilan itu.
“ aku berpacaran dengan yonghwa.” Lanjut yona.
“ Mwo??!! Kau serius?”
“ ne. Tanya saja pada orangnya kalau tidak percaya.”
“ wah daebak! Sahabat jadi cinta. Seperti di fanfiction.” Ucap Sehun berbinar binar membayangkan yona dan yonghwa sebagai aktor di fanfiction yang biasa di bacanya.
“ tapi, bagaimana bisa?” tanya Sehun.
“ ya bisa saja. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.”
“ wah, eomma dan appa harus tau masalah ini. Baiklah, oppa harap kalian langgeng. Dan untukmu, semoga kau bisa merubah sifatmu itu, arra?”
“ arraseo..” jawab yona menunjukkan senyumannya.
“ adikku sudah besar ternyata.” Ucap Sehun mengusak surai adiknya dengan penuh kasih sayang.

***
Drrrttt drrrttt
“ menyebalkan. Siapa yang menelepon dipagi buta seperti ini?” walau begitu yona tetap mengangkat panggilan untuknya itu.
“ yeoboseyo” ucap yona dengan suara serak khas pagi hari.
‘ ck, pemalas. Pasti masih tidur. Sudah jam 6. Bangun, berpakaian rapi dan kerjakan pekerjaan rumah.’ Ucap suara di seberang sana.
“ kau berisik sekali. Ini masih sangat pagi. Kau mengganggu tidur cantikku.”
‘ oh, sesange! Bahkan ini hampir setengah tujuh. Seorang yeoja harusnya bangun subuh subuh. Kau harus menuturi apa kata kekasihmu.’
“ cih, kau menggunakan itu sebagai alasan. Baiklah aku bangun.”
‘ kau bohong. Kau akan kembali tidur kan?’
“ tidak, kau sok tahu se-“
‘ aku melihatmu. Ingat, kita tetangga. Aku memperhatikanmu lewat teropong.’
“ cih, dirimu menyebalkan sekali. Geurae, aku bangun.” Ucap yona malas malasan dan menuju  kamar mandi.
Yona pun menuruti apa kata ‘Kekasihnya’ itu. Dia sudah mandi, rapi dan wangi. Kini dia menghampiri eommanya di dapur.
“ kau sudah bangun? Tumben sekali? Benar kan eomma bilang, efek punya pacar itu seperti ini. Hihihi.” Eommanya sedikit menggoda putrinya itu.
“ apa sih eomma?” yona menanggapi dengan berpura pura malu malu dan mencubiti pipinya sendiri agar terlihat efek pipi merona malu. Ckckck
“ tuh kan, anak eomma malu malu begitu.” Goda eommanya lagi karena melihat pipi yona yang memerah –efek di cubiti-
Yona tertawa dalam hati.
***
Hubungan kekasih pura pura mereka sudah berjalan cukup lama. Sekitar 3 bulan, selama itu pula kebiasaan yona sedikit sedikit bisa berubah. Mereka masih berpura pura menjadi sepasang kekasih di hadapan keluarga yona maupun yonghwa, namun bersahabat seperti biasa di luar itu.
Seperti saat ini, di hari libur biasanya Yonghwa akan mengajak jalan jalan Yona dengan sebelumnya mengunjungi rumah Yona terlebih dahulu untuk meminta izin kepada tuan dan Nyonya Park.
Hari ini mereka memutuskan ‘kencan’ ke taman.
“ Aku lelah, duduk sini saja.” Putus Yona berlalu kearah kursi panjang di taman itu. Diikuti Yonghwa di belakangnya.
“ Yong, aku ingin berterimakasih. Sepertinya aku sudah sembuh. Hihihi..”
“ Benarkah? Syukurlah jika seperti itu. Jadii.. apa kita masih menjalani terapi?”
“ Entahlah.”
Lalu keheningan melanda diantara mereka, terkesan seperti canggung.
“ emm, Yong. Apa kau masih menyukai Seohyun?”
“ Entahlah. Kenapa memangnya?”
“ Tidak. Hanya bertanya.”
“ Yonghwa-ssi! Kesini sebentar!” entah kebetulan atau apa, ada Seohyun juga di taman itu. Tiba tiba memanggil Yonghwa untuk menemuinya.
“ Yon, aku kesana sebentar. Kau tidak apa apa sendiri disini? Jangan kemana mana, aku hanya sebentar.” Ucap yonghwa mengusak sebentar pucuk kepala Yona lalu menemui Seohyun.
“ Hmmm..” Yona membalas dengan gumaman. Terdengar tidak suka. Entahlah.
“ Ada apa Seohyun-ssi?”
“ Aku mau minta tolong padamu. Bolehkah?”
“ Tapi aku sedang bersama Yona, lain kali saja bagaimana?”
“ Tapi ini penting sekali. Jebal Yonghwa-ssi. Hanya sebentar. Aku yakin sahabatmu akan memakluminya.”
“ Baiklah, tapi aku bilang ke Yona dulu.” Yonghwa hendak menemui Yona namun tangannya terlebih dahulu dicekal oleh Seohyun.
“ Tidak perlu. Hanya sebentar, jebal..”
“ hhh.. baiklah kajja.”
Mereka pun pergi meninggalkan Yona yang masih bertahan di taman itu.

15 menit
30 menit
1 jam
2 jam
5 jam
5 jam dia bertahan di taman itu, langit pun mulai menjingga. tapi tidak ada yang menunjukkan tanda tanda Yonghwa akan kembali. Namun dia tidak ada sedikitpun niatan untuk beranjak dari tempat itu. Dia percaya Yonghwa tidak akan mengingkari janjinya. 

Dia tetap menunggu.

6 jam
7 jam

7 jam berlalu. Dia mulai lelah. Hari mulai gelap. Hujan mulai membasahi tubuhnya. Dia tetap tidak beranjak. Dia masih menunggu, walaupun keyakinannya mulai runtuh.
“ hiks..” satu isakan lolos dari bibirnya.
Namun ia masih disitu.

Ditempat lain

“ Seohyun-ssi, kurasa hari ini sudah cukup. Kita bisa berlatih lain kali. Atau kau minta tolong saja pada Kris, dia leader tim basket. Pastinya di lebih ahli dari aku. Aku harus pulang.”
“ Sebentar lagi Yonghwa-ssi, aku masih belum bisa shooting. Lagipula sahabatmu itu pasti sudah pulang dari tadi. Lihat, sudah mau turun hujan.”
Deg
‘Yona?’ Batin Yonghwa
“ Arrgghh.. aku tidak peduli. Aku pergi.”
“ Ya! Yonghwa-ssi! Kau tidak boleh pergi dulu! Yonghwa-ssi! Jung Yonghwa!” namun percuma teriakan dari Seohyun. Yonghwa sudah berlari sangat cepat menuju taman, walau diguyur hujan sekalipun.
‘ oh, Ya Tuhan. Maafkan aku.’ Batinnya disela sela larinya.
Sesampainya ditaman, dia melihat sosok itu. Dia masih disana. Betapa bencinya dia terhadap dirinya sendiri melihat sosok itu begitu terlihat memprihatinkan karenanya. Perlahan dia mendekati sosok itu.
“ Yona..” Yonghwa bersimpuh di hadapan Yona yang duduk dikursi taman.
“ k-kau kembali, hiks..” segera direngkuhnya tubuh mungil itu kedalam dekapan hangatnya setelah mendengar isakan kecil dari Yona.
“ aku kembali. Mianhae. Maafkan aku, maafkan aku.” Yonghwa terus menggumam kata maaf sambil terus mengelus surai Yona.
“ hiks.. hiks.. tak apa, kau sudah kembali.” Ucap Yona di sela isakannya. Kini mulai membalas pelukan Yonghwa.
“ Ayo kita pulang.” Ucap Yonghwa lalu jongkok membelakangi Yona.
“ Ayo naik ke punggungku.”
“ tidak usah. Aku bisa berjalan sendiri.”
“ Aku tidak terima penolakan.”
“ hhh.. baiklah”
Merekapun pergi setelah hujan reda. Sebelumnya Yonghwa telah memakaikan jaketnya untuk Yona. Keheningan melanda selama perjalanan itu.
Sesampainya di depan rumah Yona, Yonghwa melepas gendongannya. Mereka berdiam diri disitu.
“ Masuklah. Mandi dengan air hangat dan pakai baju hangat. Jangan lupa minum obat.” Ucap Yonghwa.
“ Kau juga. Cepat pulang dan pakai baju hangat.”
“ Baiklah, aku masuk dulu.” Dibalas anggukan singkat dari Yonghwa.
“ Yona!”
“ ya?”
“ emm, tidak. Selamat malam.”
“ nado..” Yona pun kembali menuju pintu utama rumahnya. Namun saat di depan pintu, ia kembali berbalik dan menghampiri Yonghwa.
“ ada apa?” Tanya Yonghwa
“ Tidak. Aku hanya ingin berterimakasih padamu.”
“ terimakasih?”
“ Ya. Atas idemu tentang terapi itu. Aku sangat berterimakasih padamu.”
Yonghwa diam. Dia mulai tidak suka.
“ Terimakasih atas semuanya. Kini aku sudah merasa lebih baik.” Lanjut Yona
“ Terimakasih sekali lagi, berkatmu kin-“
“ Berhentilah berterimakasih!” Yonghwa mulai tersulut emosi. “ Omong kosong dengan terapi itu!”
Yona menunduk. Matanya mulai berkaca kaca. Baru kali ini Yonghwa membentaknya seperti itu. Menyadari itu, tatapan Yonghwa melembut.
“ Tidakkah kau menyadarinya? Tidakkah kau merasakannya?”
“ apa maksudmu?” tanya Yona dengan suara bergetar menahan isak tangis.
“ Lupakan. Hanya aku yang merasa disini. Aku yang memulainya, aku yang harus menanggungnya  sendiri. Kau sungguh tidak peka.”
“ apa maksud ucapanmu?” Yona semakin tidak mengerti.
“ Lupakan. Masuklah.” Ucap Yonghwa dingin.
“ AKU TIDAK MENGERTI!”
“ AKU MENCINTAIMU!”
Yonghwa terengah engah menahan emosinya. Akhirnya terucap juga. Tapi tidak ada balasan apapun dari orang yang di ajak bicara. Namun,
“ hiks..” isakan kembali terdengar dari bibir Yona.
Segera Yonghwa merengkuh kembali Yona kedalam dekapannya.
“ Maafkan aku. Anggap saja yang tadi tidak pernah terjadi. Lupakan saja kejadian tadi. Maafkan aku.”
“ hiks.. kau jahat..”
“ Iya. Maafkan aku..”
“ hiks.. kenapa kau baru bilang sekarang?”
“ eh?”
“ aku juga mencintaimu bodoh hiks.. hiks..”
“ Tidak usah mencoba menghiburku. Aku tidak apa apa.” Ucap Yonghwa masih memeluk Yona.
“ Aku mencintaimu Jung Yonghwa bodoh!”
“ kau serius?” Yonghwa melepaskan pelukannya dan beralih menangkup wajah Yona dengan kedua telapak tangannya.
“ Kau pikir aku main main? Hah?”
“ Gomawo.. Jeongmal gomawo.. saranghae.” Ucap Yonghwa penuh keyakinan. Dan kembali membawa Yona kedalam pelukannya.
“ Kau tidak sedang mengatakan cinta atas nama terapi itu kan?”
 “ Berhentilah berterimakasih!Omong kosong dengan terapi itu!” Ucap Yona jahil menirukan ucapan Yonghwa tadi.
“ eh? Kau mulai berani..”
“ Hahahaha..” Yona mulai berlari dan dikejar Yonghwa.
“ dapat kau setan kecil.” Yonghwa mendapatkan Yona dan dipeluknya berputar putar.
“ hihihi.. ampun ahjussi.”
Mereka pun berhenti berputar putar. Dan kini mereka berdiri berhadapan.
“ ah, jadi sekarang ini kita apa?” tanya Yona
“ kita?”
“ iya, kita.”
“ tentu saja aku kekasihmu dan kamu kekasihku.”
“ Benarkah? Tapi aku belum dengar kau memintaku jadi kekasihmu.”
“ baiklah, dengarkan aku baik baik. Yona, maafkan aku atas segala yang telah kuperbuat padamu. Aku tahu aku tidak sempurna-“
“ ck, tidak usah lama lama.”
“ hhh.. baiklah. Yona, will you be mine?”
“ yes, I will.”
“ saranghae..”
“ nado saranghae..”
Merekapun berpelukan dibawah sinar rembulan, walau badan basah kuyup karena kehujanan tadi. Mereka tetap tidak menghiraukannya. Sepertinya mereka akan masuk angin besok -_-
Tanpa mereka sadari, ada yang mengintip mereka sedari tadi. Siapakah itu? Mari kita intip.
“ mereka romantis sekali. Aku jadi ingin.” Ucap sehun masih mengintip Yona dan Yonghwa dari jendela rumahnya, sesekali mengelap air matanya dengan tisu. Dapat bioskop gratis, eoh? Sehun?
“ Aku akan seperti mereka. Lihat saja nanti.” Ucapnya menggebu gebu lalu masuk ke dalam kamarnya.

***
Esok harinya
“ SEHUNAAAA!!! Bangun! Kenapa kau jadi malas begini?” Ucap eommanya tidak habis pikir melihat kelakuan anak satunya.
“ Entahlah eomma, sepertinya aku juga butuh kekasih.” Ucapnya to the point.
“ Baiklah, tapi kau harus bisa berubah, arra?”
“ arraseo eomma..”
‘ Yess! Tinggal meminta tolong pada sahabat. Misi lancar’ ucapnya dalam hati.

Di tempat lain
“ Hatchi..”
“ Hatchi..”
“ Yona, Yonghwa, kalau kalian sakit lebih baik istirahat di UKS saja.”
“ Baik saem..” Kata mereka kompak.
Tuh kan, pasti masuk angin.
Kita kembali ke masalah sehun.
Sehun kini menyusuri lorong kampusnya. Dia berjalan sambil memikirkan ‘mangsanya’.
Sesampainya di kelas, dia duduk di bangkunya.
Tidak lama, seorang lagi masuk ke kelasnya. Seorang namja mungil, tampan sekaligus cantik dalam waktu yang bersamaan. Sehun melotot melihatnya.
‘ Astaga, aku baru ingat. Sahabatku Luhannie, masa iya aku berpacaran dengannya? Jeruk makan jeruk dong?’
“ heh! Kenapa kau melihatku seperti itu? Seperti melihat hantu saja.” Tanya Luhan mendudukkan diri di kursi sebelah sehun.
Sehun hanya geleng geleng. Matanya masih melotot.
“ Kau kesambet Sehunnie. Kau baik baik saja kan?”
“ Aku menghadapi masalah hidup yang sangat berat Luhan.” Jawab Sehun.
“ oh, selamat kalau begitu.”
Sehun kini menatap Luhan dari atas sampai kebawah. Luhan yang melihatnya menjadi heran.
“ kenapa kau melihatku seperti itu? Oh, astaga. Apa jangan jangan kau seorang gay maniak? Dan kau ingin memacariku?” Luhan bertanya sekaligus terkejut
‘Astaga’
-END-

Ya ampun ini apa??? Inspirasinya dari RBRose(S) yang melukai sunbae kita masjid. Wkwk
Okelah, maaf kalau jelek. Belum berpengalaman. Maaf juga untuk typonya. Tadinya mau bikin castnya hunhan (maklum hunhan shipper xD). Tapi nanti aja deh aku bikin hunhan atau chanbaek di akun ffn aku =)
Gomawoo..

0 komentar:

Posting Komentar