Therapy
Tittle : Therapy
Cast : Jung Yong Hwa, Park Yona (OC), Park Sehun,
Luhan
Genre : Romance, Comedy etc.
Author : RBRose(I)
length : oneshoot
Happy
reading^^
“YONAAAA!!!
Yaaa! Bangun pemalas...” teriak seorang wanita paruh baya membangunkan gadis
semata wayangnya dengan penuh perjuangan.
“emmh..
sebentar lagi eomma.” Sahut gadis itu sejenak lalu memposisikan tubuhnya
menjadi lebih nyaman untuk tidur kembali.
“ck,
kelakuanmu. Cepat bangun, kau terlambat lagi. Eomma tidak mau dan tidak akan
mau datang ke sekolahmu lagi.”
“Biar
saja, ada Appa, ada Sehun oppa atau Jung ahjumma. Lima menit lagi eomma, aku
janji. Lihat, aku menyetel alarm. Sudah eomma turun saja.” Gadis itu men-set
alarmnya agar berbunyi lima menit kemudian.
“ ck,
mana ada anak gadis kelakuannya sepertimu.”
“hmmm..”
5 menit
kemudian
KRINGG
KRINGG
“cih,
mengganggu saja.” Ucap gadis itu lalu membenamkan kepalanya dibawah bantal.
KRINGG
KRINGG KRINGG
“aish,
berisik sekali-“ gadis itu bangkit dari tidurnya untuk mematikan alarm yang
berbunyi tadi “-YAA!!! Sudah siang! Aku kesiangan lagi. EOMMAAA, kenapa tidak membangunkanku!!” gadis itu kini kalang
kabut karena begitu paniknya.
Lihat selengkapnya
Lihat selengkapnya
‘tadi
sudah eomma bangunkan, tapi kau bilang sebentar lagi. Yasudah eomma turun
saja.’ Jawab ibunya setengah berteriak dari lantai bawah.
“aish,
asdfghjkl!” gadis itu menggerutu tidak jelas.
Gadis itu
kini menyambar handuknya dan memasuki kamar mandi.
“ mandi,
tidak, mandi, tidak, mandi, tidak..” namun dia malah menggumam di dekat cermin
sembari menghitung jarinya tidak jelas.
“tidak
usah mandi. Sudah sangat siang.” –keputusan final. Lebih memilih hanya
menggosok gigi dan mencuci mukanya dengan sangat brutal. Tidak sampai 3 menit.
Ia sudah
berpakaian seragam. Saat keluar dari kamar mandi, dia masih sibuk mengancingkan
bajunya
BRUUKK
“ Ya!
Sialan..!” naas, dia jatuh terpeleset handuknya sendiri sehingga memar di
tangan kanannya. Dan kini dia menggerutu, menyalahi handuk yang diinjaknya.
***
Selesai
dengan segala urusan di kamarnya, gadis itu kini menuruni tangga sambil
sesekali membenarkan tatanan rambutnya (yang tidak disisir) menggunakan jari
jarinya. Saat turun, ia di hadapi pandangan malas dari tiga orang yang duduk di
meja makan. Ia mengambil beberapa lembar roti dan makan sambil duduk. Tidak
juga sih. Makan sambil memakai sepatu di kursi tepatnya. Ia tidak
mempermasalahkan itu.
“kau itu
anak gadis, berprilakulah seperti anak gadis pada umumnya. Tidak baik perempuan
berprilaku urakan seperti itu.” ayahnya memulai pembicaraan dengan mata yang
tidak lepas dari koran di tangannya.
“ Ya
tuhan. Sembuhkanlah adikku. Ampuni segala dosanya, hilangkanlah segala hal hal
buruk disekitarnya. Aku ingin memiliki adik yang manis tuhan, kabulkan doaku.
Amin.” –kakaknya, Sehun. Mencoba mendramatisir suasana. Ditanggapi dengan
tatapan malas dari yona.
“ kan
sudah aku bilang, yeobo. Anak gadis kita itu harus memiliki namjachingu. Kau
selalu melarang larangnya.” Ibunya menanggapi.
“ apa
hubungannya yeobo? Kalau dia punya kekasih, dia tidak akan fokus ke pelajaran,
prestasinya akan menurun.”
“ tapi,
setidaknya jika dia punya kekasih dia akan punya rasa malu dan dia akan
mengurus dirinya sendiri. “
“ Benar
juga.” Tuan park –ayah Yona- sudah sepenuhnya mengalihkan perhatiannya dari
koran dan mulai memikirkan ucapan istrinya tadi.
“ Tapi
dia seperti itu eomma, lihat penampilannya. Siapa juga namja yang mau nempel
dengannya.” Sehun ikut menyahut.
“ siapa
bilang? Ada kok. Kau, appa, dan satu lagi yonghwa. Sahabatku nomer satu. Kalian
namja kan? Dekat denganku kan? Sudahlah, kalian mulai bicara yang aneh aneh.
Aku sudah kesiangan. Aku pergi dulu. Bye.” Yona pun pergi setelah sebelumnya
mengecupi pipi anggota keluarganya.
“ Sial.
Sudah jam segini, mereka bicara lama sekali. Aku harus berlari lagi
sepertinya.”
Dia pun
berlari menuju sekolahnya seperti sedang dikejar petugas razia, sesekali
meminta maaf karena menabrak para pejalan kaki.
***
“ Hosh
hosh hosh.. untung tidak tertangkap.. hosh..” yona sudah sampai sekolahnya
dengan selamat. Tidak juga. Hampir mati dikejar security. Untung dia bisa
bersembunyi sehingga gorila jelek –yona yang memberi nama- itu tidak lagi mengejarnya.
Dia lalu
mengendap ngendap menelusuri lorong sekolah, dan tiba di depan kelasnya.
“ Gawat.
Mrs. Kim sudah datang. Aku harus melakukan jurus ini.” Lalu dia mengetuk pintu
kelasnya.
Tok Tok
Tok
“ Masuk.”
“ Sorry
Miss, i’m late.” Ucap yona menunjukkan wajah yang melas semelas melasnya (?)
“ Apa
alasanmu kali ini?” tanggap Mrs. Kim
“ Ada
sedikit kecelakaan tadi di rumah.” ‘terpeleset’ tambahnya dalam hati.
“ Baiklah
saya maafkan. Sayang sekali, kau itu murid pintar di sini. Lain kali kau harus
bisa merubah sikapmu.”
“ Baik
saem, maafkan saya.”
“ oke,
duduk di tempatmu.”
Ia pun
menuju tempat duduknya di sebelah sahabatnya, Yonghwa.
“ Dasar,
kebiasaan.” Ucap yonghwa masih terus menulis.
“
diamlah, kau berisik sekali.”
***
Bel tanda
istirahat sudah berbunyi. Tersisa dua orang saja di kelas XI-8 itu. Yang laki
laki sedang membereskan alat tulisnya. Sedangkan yeoja yang satunya sedang
memposisikan kepalanya untuk tidur di atas meja. Tapi tidak untuk tidur.
Mengistirahatkan diri saja sepertinya. Namja yang sudah beres membereskan alat
tulis itu memerhatikan kelakuan sahabatnya. Lalu ikut memposisikan dirinya
seperti sahabatnya itu, namun dengan wajah yang berhadapan.
“ Wae?”
namja itu memulai pembicaraan.
“ Kau tau
sendiri.” Jawab yeoja itu sesekali menutup kedua kelopak matanya.
“
Keluargamu?”
“ Hmm..”
“ apa
yang mereka lakukan?”
“ seperti biasa.”
“
menurutku, ini memang kesalahanmu. Kau itu seharusnya bisa sedikit saja merubah
sikap dan penampilanmu seperti gadis normal pada umumnya. Sedikiiit saja.”
“ kau
mengataiku tidak normal?” yona mulai jengah kepada sahabatnya itu.
“ bukan
begitu. Ck, kau ini sensitif sekali.”
“ ck,
berpenampilan seperti yeoja yeoja centil itu?”
“ tidak
selamanya penampilan yeoja itu centil. Maksudku kau harus berdandan sedikit
lebih rapi dari biasanya. Lalu bangun pagi dan melakukan aktivitas yang
biasanya seorang yeoja lakukan setiap pagi..”
“ hmm..
kedengarannya itu tidak bagus Tuan Jung. Malas sekali harus seperti itu.”
“ ck,
dasar keras kepala.”
“ biar
saja.”
Lalu
hening sesaat. Mereka masih bertahan dengan posisi menidurkan kepala di meja.
“ kau
tau, tadi pagi mereka semakin bicara yang aneh aneh.” Yona membuka suara
“
maksudmu?” tanya yonghwa kebingungan.
“ eomma
bilang aku harus punya namjachingu supaya aku bisa malu di depan namjachinguku
sendiri dan nantinya aku bisa mengurus diriku sendiri. Ck, dikemanakan akal
sehat mereka.”
Yonghwa
tetap diam dan mendengar baik baik apa yang dikatakan sahabatnya itu.
“ kupikir
appa akan membelaku untuk tidak punya namjachingu, tapi akhirnya dia malah asal
menyetujui usul eomma.” Yona masih melanjutkan pembicaraannya.
“ dan
oppaku, ah.. malas aku membicarakannya. Aku tidak mood sekarang.”
“
sepertinya aku punya ide.” Tiba tiba yonghwa menyahut.
“ apa?”
“ hmm,
kupikir aku bisa sedikit membantumu. Biar kuberi tahu. Katakan saja saat ini
kau akan menjalani sebuah terapi. Dan aku akan membantu dengan berpura pura
menjadi namjachingumu.”
“ Mwo?
Kau gila?” yona bangkit dari tidurnya. Dan diikuti oleh yonghwa.
“ kan aku
bilang pura pura. Hanya pura pura bodoh, hanya dihadapan keluargamu saja.
Lagian aku juga menyukai Seohyun, anak kelas sebelah. Ini demi kau juga,
bukankan kau malas di beri wejangan setiap harinya oleh appa dan eommamu?”
“ iya
juga sih. Tapi aku tidak yakin ini akan berhasil.”
“ kita
belum mencobanya babo.”
“ aish,
baiklah. Berhenti mengataiku babo. Tidak mungkin aku bodoh jika aku juara umum
tiap tahunnya.” Yona mulai menyombongkan dirinya. Yonghwa memutar bola matanya
malas.
“
Baiklah. Mulai sekarang bilanglah pada keluargamu kalau kau berpacaran
denganku. Arra?”
“ hmm..”
“
yasudah, ayo kita pesan makanan. Aku lapar chagiya, hihihi.” Ucap yonghwa lalu
merangkul pundak sahabat sekaligus kekasih –pura pura-nya
“ cih,
menjijikan.”
***
“ aku
pulaang..” teriak yona di kediamannya.
“ oppa,
kau tidak pergi kuliah? Kenapa sepi sekali? Yang lain kemana?” tanya yona pada
Sehun yang sedang menonton acara televisi.
“ aku
baru saja pulang. Aku tidak tau eomma kemana, tadi pergi keluar. Appa belum
pulang.”
“ oh..”
Selesai
melepaskan sepatunya, yona menghampiri kakaknya dan merampas cemilan di tangan
kakaknya itu.
“ ck, kau
bau. Pergi mandi sana!”
“ malas.”
“ cih,
kebiasaan.”
“ biar
saja.”
Lalu
mereka menonton tv bersama. Saat acara tersebut iklan, yona membuka suaranya.
“ oppa,
kau tau?”
“ tidak.”
“ jangan
memotong ucapanku!”
“ oke,
baiklah lanjutkan.”
“ aku
punya namjachingu sekarang.”
“ aku
tidak percaya.”
“ aku
serius.” Lalu Sehun memutar badannya, memandang adik semata wayangnya yang
masih mengunyah cemilan itu.
“ aku
berpacaran dengan yonghwa.” Lanjut yona.
“ Mwo??!!
Kau serius?”
“ ne.
Tanya saja pada orangnya kalau tidak percaya.”
“ wah
daebak! Sahabat jadi cinta. Seperti di fanfiction.” Ucap Sehun berbinar binar
membayangkan yona dan yonghwa sebagai aktor di fanfiction yang biasa di
bacanya.
“ tapi,
bagaimana bisa?” tanya Sehun.
“ ya bisa
saja. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.”
“ wah,
eomma dan appa harus tau masalah ini. Baiklah, oppa harap kalian langgeng. Dan
untukmu, semoga kau bisa merubah sifatmu itu, arra?”
“
arraseo..” jawab yona menunjukkan senyumannya.
“ adikku
sudah besar ternyata.” Ucap Sehun mengusak surai adiknya dengan penuh kasih
sayang.
***
Drrrttt
drrrttt
“
menyebalkan. Siapa yang menelepon dipagi buta seperti ini?” walau begitu yona
tetap mengangkat panggilan untuknya itu.
“
yeoboseyo” ucap yona dengan suara serak khas pagi hari.
‘ ck,
pemalas. Pasti masih tidur. Sudah jam 6. Bangun, berpakaian rapi dan kerjakan
pekerjaan rumah.’ Ucap suara di seberang sana.
“ kau
berisik sekali. Ini masih sangat pagi. Kau mengganggu tidur cantikku.”
‘ oh,
sesange! Bahkan ini hampir setengah tujuh. Seorang yeoja harusnya bangun subuh
subuh. Kau harus menuturi apa kata kekasihmu.’
“ cih,
kau menggunakan itu sebagai alasan. Baiklah aku bangun.”
‘ kau
bohong. Kau akan kembali tidur kan?’
“ tidak,
kau sok tahu se-“
‘ aku
melihatmu. Ingat, kita tetangga. Aku memperhatikanmu lewat teropong.’
“ cih,
dirimu menyebalkan sekali. Geurae, aku bangun.” Ucap yona malas malasan dan
menuju kamar mandi.
Yona pun
menuruti apa kata ‘Kekasihnya’ itu. Dia sudah mandi, rapi dan wangi. Kini dia
menghampiri eommanya di dapur.
“ kau
sudah bangun? Tumben sekali? Benar kan eomma bilang, efek punya pacar itu seperti
ini. Hihihi.” Eommanya sedikit menggoda putrinya itu.
“ apa sih
eomma?” yona menanggapi dengan berpura pura malu malu dan mencubiti pipinya
sendiri agar terlihat efek pipi merona malu. Ckckck
“ tuh
kan, anak eomma malu malu begitu.” Goda eommanya lagi karena melihat pipi yona
yang memerah –efek di cubiti-
Yona
tertawa dalam hati.
***
Hubungan
kekasih pura pura mereka sudah berjalan cukup lama. Sekitar 3 bulan, selama itu
pula kebiasaan yona sedikit sedikit bisa berubah. Mereka masih berpura pura menjadi
sepasang kekasih di hadapan keluarga yona maupun yonghwa, namun bersahabat
seperti biasa di luar itu.
Seperti
saat ini, di hari libur biasanya Yonghwa akan mengajak jalan jalan Yona dengan
sebelumnya mengunjungi rumah Yona terlebih dahulu untuk meminta izin kepada
tuan dan Nyonya Park.
Hari ini
mereka memutuskan ‘kencan’ ke taman.
“ Aku
lelah, duduk sini saja.” Putus Yona berlalu kearah kursi panjang di taman itu.
Diikuti Yonghwa di belakangnya.
“ Yong,
aku ingin berterimakasih. Sepertinya aku sudah sembuh. Hihihi..”
“
Benarkah? Syukurlah jika seperti itu. Jadii.. apa kita masih menjalani terapi?”
“
Entahlah.”
Lalu
keheningan melanda diantara mereka, terkesan seperti canggung.
“ emm,
Yong. Apa kau masih menyukai Seohyun?”
“
Entahlah. Kenapa memangnya?”
“ Tidak.
Hanya bertanya.”
“
Yonghwa-ssi! Kesini sebentar!” entah kebetulan atau apa, ada Seohyun juga di
taman itu. Tiba tiba memanggil Yonghwa untuk menemuinya.
“ Yon,
aku kesana sebentar. Kau tidak apa apa sendiri disini? Jangan kemana mana, aku
hanya sebentar.” Ucap yonghwa mengusak sebentar pucuk kepala Yona lalu menemui
Seohyun.
“ Hmmm..”
Yona membalas dengan gumaman. Terdengar tidak suka. Entahlah.
“ Ada apa
Seohyun-ssi?”
“ Aku mau
minta tolong padamu. Bolehkah?”
“ Tapi
aku sedang bersama Yona, lain kali saja bagaimana?”
“ Tapi
ini penting sekali. Jebal Yonghwa-ssi. Hanya sebentar. Aku yakin sahabatmu akan
memakluminya.”
“
Baiklah, tapi aku bilang ke Yona dulu.” Yonghwa hendak menemui Yona namun
tangannya terlebih dahulu dicekal oleh Seohyun.
“ Tidak
perlu. Hanya sebentar, jebal..”
“ hhh..
baiklah kajja.”
Mereka
pun pergi meninggalkan Yona yang masih bertahan di taman itu.
15 menit
30 menit
1 jam
2 jam
5 jam
5 jam dia
bertahan di taman itu, langit pun mulai menjingga. tapi tidak ada yang menunjukkan
tanda tanda Yonghwa akan kembali. Namun dia tidak ada sedikitpun niatan untuk
beranjak dari tempat itu. Dia percaya Yonghwa tidak akan mengingkari janjinya.
Dia tetap menunggu.
Dia tetap menunggu.
6 jam
7 jam
7 jam berlalu. Dia mulai lelah. Hari mulai gelap. Hujan mulai membasahi tubuhnya. Dia tetap tidak beranjak. Dia masih menunggu, walaupun keyakinannya mulai runtuh.
“ hiks..”
satu isakan lolos dari bibirnya.
Namun ia
masih disitu.
Ditempat lain
“ Seohyun-ssi, kurasa hari ini sudah cukup. Kita bisa berlatih lain kali. Atau kau minta tolong saja pada Kris, dia leader tim basket. Pastinya di lebih ahli dari aku. Aku harus pulang.”
“
Sebentar lagi Yonghwa-ssi, aku masih belum bisa shooting. Lagipula sahabatmu
itu pasti sudah pulang dari tadi. Lihat, sudah mau turun hujan.”
Deg
‘Yona?’
Batin Yonghwa
“
Arrgghh.. aku tidak peduli. Aku pergi.”
“ Ya!
Yonghwa-ssi! Kau tidak boleh pergi dulu! Yonghwa-ssi! Jung Yonghwa!” namun
percuma teriakan dari Seohyun. Yonghwa sudah berlari sangat cepat menuju taman,
walau diguyur hujan sekalipun.
‘ oh, Ya
Tuhan. Maafkan aku.’ Batinnya disela sela larinya.
Sesampainya
ditaman, dia melihat sosok itu. Dia masih disana. Betapa bencinya dia terhadap
dirinya sendiri melihat sosok itu begitu terlihat memprihatinkan karenanya.
Perlahan dia mendekati sosok itu.
“ Yona..”
Yonghwa bersimpuh di hadapan Yona yang duduk dikursi taman.
“ k-kau
kembali, hiks..” segera direngkuhnya tubuh mungil itu kedalam dekapan hangatnya
setelah mendengar isakan kecil dari Yona.
“ aku
kembali. Mianhae. Maafkan aku, maafkan aku.” Yonghwa terus menggumam kata maaf
sambil terus mengelus surai Yona.
“ hiks..
hiks.. tak apa, kau sudah kembali.” Ucap Yona di sela isakannya. Kini mulai
membalas pelukan Yonghwa.
“ Ayo
kita pulang.” Ucap Yonghwa lalu jongkok membelakangi Yona.
“ Ayo
naik ke punggungku.”
“ tidak
usah. Aku bisa berjalan sendiri.”
“ Aku
tidak terima penolakan.”
“ hhh..
baiklah”
Merekapun
pergi setelah hujan reda. Sebelumnya Yonghwa telah memakaikan jaketnya untuk
Yona. Keheningan melanda selama perjalanan itu.
Sesampainya
di depan rumah Yona, Yonghwa melepas gendongannya. Mereka berdiam diri disitu.
“
Masuklah. Mandi dengan air hangat dan pakai baju hangat. Jangan lupa minum
obat.” Ucap Yonghwa.
“ Kau juga.
Cepat pulang dan pakai baju hangat.”
“
Baiklah, aku masuk dulu.” Dibalas anggukan singkat dari Yonghwa.
“ Yona!”
“ ya?”
“ emm,
tidak. Selamat malam.”
“ nado..”
Yona pun kembali menuju pintu utama rumahnya. Namun saat di depan pintu, ia
kembali berbalik dan menghampiri Yonghwa.
“ ada
apa?” Tanya Yonghwa
“ Tidak.
Aku hanya ingin berterimakasih padamu.”
“
terimakasih?”
“ Ya.
Atas idemu tentang terapi itu. Aku sangat berterimakasih padamu.”
Yonghwa
diam. Dia mulai tidak suka.
“
Terimakasih atas semuanya. Kini aku sudah merasa lebih baik.” Lanjut Yona
“
Terimakasih sekali lagi, berkatmu kin-“
“
Berhentilah berterimakasih!” Yonghwa mulai tersulut emosi. “ Omong kosong
dengan terapi itu!”
Yona
menunduk. Matanya mulai berkaca kaca. Baru kali ini Yonghwa membentaknya
seperti itu. Menyadari itu, tatapan Yonghwa melembut.
“
Tidakkah kau menyadarinya? Tidakkah kau merasakannya?”
“ apa
maksudmu?” tanya Yona dengan suara bergetar menahan isak tangis.
“
Lupakan. Hanya aku yang merasa disini. Aku yang memulainya, aku yang harus
menanggungnya sendiri. Kau sungguh tidak
peka.”
“ apa
maksud ucapanmu?” Yona semakin tidak mengerti.
“
Lupakan. Masuklah.” Ucap Yonghwa dingin.
“ AKU
TIDAK MENGERTI!”
“ AKU
MENCINTAIMU!”
Yonghwa
terengah engah menahan emosinya. Akhirnya terucap juga. Tapi tidak ada balasan
apapun dari orang yang di ajak bicara. Namun,
“ hiks..”
isakan kembali terdengar dari bibir Yona.
Segera
Yonghwa merengkuh kembali Yona kedalam dekapannya.
“ Maafkan
aku. Anggap saja yang tadi tidak pernah terjadi. Lupakan saja kejadian tadi.
Maafkan aku.”
“ hiks..
kau jahat..”
“ Iya.
Maafkan aku..”
“ hiks..
kenapa kau baru bilang sekarang?”
“ eh?”
“ aku
juga mencintaimu bodoh hiks.. hiks..”
“ Tidak
usah mencoba menghiburku. Aku tidak apa apa.” Ucap Yonghwa masih memeluk Yona.
“ Aku
mencintaimu Jung Yonghwa bodoh!”
“ kau
serius?” Yonghwa melepaskan pelukannya dan beralih menangkup wajah Yona dengan
kedua telapak tangannya.
“ Kau
pikir aku main main? Hah?”
“
Gomawo.. Jeongmal gomawo.. saranghae.” Ucap Yonghwa penuh keyakinan. Dan
kembali membawa Yona kedalam pelukannya.
“ Kau
tidak sedang mengatakan cinta atas nama terapi itu kan?”
“ Berhentilah berterimakasih!Omong kosong
dengan terapi itu!” Ucap Yona jahil menirukan ucapan Yonghwa tadi.
“ eh? Kau
mulai berani..”
“
Hahahaha..” Yona mulai berlari dan dikejar Yonghwa.
“ dapat
kau setan kecil.” Yonghwa mendapatkan Yona dan dipeluknya berputar putar.
“
hihihi.. ampun ahjussi.”
Mereka
pun berhenti berputar putar. Dan kini mereka berdiri berhadapan.
“ ah,
jadi sekarang ini kita apa?” tanya Yona
“ kita?”
“ iya,
kita.”
“ tentu
saja aku kekasihmu dan kamu kekasihku.”
“
Benarkah? Tapi aku belum dengar kau memintaku jadi kekasihmu.”
“
baiklah, dengarkan aku baik baik. Yona, maafkan aku atas segala yang telah
kuperbuat padamu. Aku tahu aku tidak sempurna-“
“ ck,
tidak usah lama lama.”
“ hhh..
baiklah. Yona, will you be mine?”
“ yes, I
will.”
“
saranghae..”
“ nado
saranghae..”
Merekapun
berpelukan dibawah sinar rembulan, walau badan basah kuyup karena kehujanan
tadi. Mereka tetap tidak menghiraukannya. Sepertinya mereka akan masuk angin
besok -_-
Tanpa
mereka sadari, ada yang mengintip mereka sedari tadi. Siapakah itu? Mari kita
intip.
“ mereka
romantis sekali. Aku jadi ingin.” Ucap sehun masih mengintip Yona dan Yonghwa
dari jendela rumahnya, sesekali mengelap air matanya dengan tisu. Dapat bioskop
gratis, eoh? Sehun?
“ Aku
akan seperti mereka. Lihat saja nanti.” Ucapnya menggebu gebu lalu masuk ke
dalam kamarnya.
***
Esok
harinya
“
SEHUNAAAA!!! Bangun! Kenapa kau jadi malas begini?” Ucap eommanya tidak habis
pikir melihat kelakuan anak satunya.
“
Entahlah eomma, sepertinya aku juga butuh kekasih.” Ucapnya to the point.
“
Baiklah, tapi kau harus bisa berubah, arra?”
“ arraseo
eomma..”
‘ Yess!
Tinggal meminta tolong pada sahabat. Misi lancar’ ucapnya dalam hati.
Di tempat lain
“
Hatchi..”
“
Hatchi..”
“ Yona,
Yonghwa, kalau kalian sakit lebih baik istirahat di UKS saja.”
“ Baik
saem..” Kata mereka kompak.
Tuh kan,
pasti masuk angin.
Kita
kembali ke masalah sehun.
Sehun
kini menyusuri lorong kampusnya. Dia berjalan sambil memikirkan ‘mangsanya’.
Sesampainya
di kelas, dia duduk di bangkunya.
Tidak
lama, seorang lagi masuk ke kelasnya. Seorang namja mungil, tampan sekaligus
cantik dalam waktu yang bersamaan. Sehun melotot melihatnya.
‘ Astaga,
aku baru ingat. Sahabatku Luhannie, masa iya aku berpacaran dengannya? Jeruk
makan jeruk dong?’
“ heh!
Kenapa kau melihatku seperti itu? Seperti melihat hantu saja.” Tanya Luhan
mendudukkan diri di kursi sebelah sehun.
Sehun
hanya geleng geleng. Matanya masih melotot.
“ Kau
kesambet Sehunnie. Kau baik baik saja kan?”
“ Aku
menghadapi masalah hidup yang sangat berat Luhan.” Jawab Sehun.
“ oh,
selamat kalau begitu.”
Sehun
kini menatap Luhan dari atas sampai kebawah. Luhan yang melihatnya menjadi
heran.
“ kenapa
kau melihatku seperti itu? Oh, astaga. Apa jangan jangan kau seorang gay
maniak? Dan kau ingin memacariku?” Luhan bertanya sekaligus terkejut
‘Astaga’
-END-
Ya ampun
ini apa??? Inspirasinya dari RBRose(S) yang melukai sunbae kita masjid. Wkwk
Okelah,
maaf kalau jelek. Belum berpengalaman. Maaf juga untuk typonya. Tadinya mau
bikin castnya hunhan (maklum hunhan shipper xD). Tapi nanti aja deh aku bikin
hunhan atau chanbaek di akun ffn aku =)
Gomawoo..
0 komentar:
Posting Komentar