Genre : Romance, fantasy
Author : RBRose(s)
Length : Oneshoot
Cast : Jung Yonghwa (CNBLUE), Kim Yona (OC), etc
“Ah, hari ini sungguh melelahkan!” Yona membuka pintu
apartemennya, menggoyang-goyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Pekerjaannya
hari ini cukup melelahkan untuknya.
Baru saja ia akan menutup pintu apartemennya ketika seseorang
mengetuk pintunya dari luar.
“Eonni, bisakah kau
menjaga kucingku?” Tanya seorang gadis kecil yang tidak dikenalnya sama sekali.
Usianya sekitar 10 tahun.
“Ne?” Yona bingung
dengan permintaan anak kecil itu. Ia tak pernah memiliki hewan peliharaan,
terutama kucing. Lagipula, siapa yang
akan merawat kucing itu saat ia pergi bekerja?
“Mianhae, tapi aku tidak punya uang untuk membelinya.” Ucap Yona
pelan, berharap agar anak manis itu segera pergi. Ia benar-benar butuh
istirahat.
“Aku tidak menjualnya. Kumohon, tolong jaga kucingku ini. Aku
tidak bisa membawanya bersamaku.” Anak itu bersikeras untuk memberikan
kucingnya pada Yona.
“Tapi…”
“Eonni, aku tidak
punya banyak waktu untuk menunggu jawabanmu. Annyeong.” Anak itu berlari meninggalkan Yona dan kucingnya di depan
pintu.
“Ya! Tunggu, kau
meninggalkan kucingmu.” Panggil Yona, tapi sia-sia saja karena gadis kecil itu
sepertinya sudah pergi jauh. Kalau saja saat ini ia punya banyak tenaga, pasti
ia akan mengejar gadis kecil itu.
“Ck, harus kuapakan kucing ini?” Ucap Yona bingung seraya membawa kucing itu masuk ke apartemennya.
“Kau tunggu di sini, aku akan lihat apakah ada makanan yang
bisa kau makan.” Yona melangkahkan kakinya menuju meja makan. Kosong. Ia belum
memasak apapun.Tepatnya, Yona tidak pernah memasak. Kenyataan bahwa ia adalah seorang yatim piatu
membuatnya terbiasa hidup sendiri dan makan di luar untuk mengisi kekosongan.
“Sepertinya kau harus berpuasa hari ini.” Ujar Yona
seolah-olah kucing itu mengerti apa yang ia ucapkan.
“Ah, sepertinya aku masih punya sisa-sisa tulang ayam makan
siangku. Tunggu sebentar.” Yona membongkar tasnya. Mencari-cari sisa makan
siangnya tadi. Sikap kepeduliannya akan lingkungan membuatnya selalu menyimpan
sampah di dalam tasnya jika ia belum menemukan tempat sampah.
“Ini, makanlah. Sudah baik aku masih memberimu makan. Besok akan kuantar kau ke tempat pemeliharaan
hewan liar di kota. Jadi bersabarlah.” Yona menyodorkan tulang-tulang itu ke depan
kucing berbulu putih polos dengan kakinya
berwarna coklat. Kucing yang lucu, tapi tetap saja ia tidak menyukai hewan
jenis apapun, apalagi kucing, hewan yang cukup dibencinya.
Yona membuka buku pelajarannya. Walaupun ia seorang
yatim-piatu dan harus bekerja keras untuk menghidupi kebutuhannya sendiri, ia
termasuk mahasiswi terpintar di kampusnya. Tekadnya untuk menjadi orang kaya
yang sukses agar hidupnya tidak terus-menerus menderita seperti ini membuatnya
selalu memanfaatkan waktu luangnya untuk belajar.
“Ya! Kau tidak akan
benar-benar menempatkanku di tempat penangkaran hewan liar, kan.” Sebuah suara
asing mengejutkan Yona. Tidak ada siapapun kecuali dirinya di apartemen itu.
“Aku di sini. Kucing yang dititipkan gadis kecil tadi.
Bisakah kau mengeluarkanku dari kandang ini?”
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!” Yona berteriak cukup atau bisa
dibilang sangat keras.
“Siapa dan apa maumu?!
Kumohon jangan ganggu aku! Aku tidak punya apapun. Kumohon jangan hantui aku.
Dihantui keluargaku saja aku tidak mau, apalagi hantu asing sepertimu. Kumohan
pergilah, aku masih ingin hidup!” Yona benar-benar ketakutan. Tanpa sadar ia
melempar tasnya ke arah kandang kucing tadi hingga terjatuh.
“Ya! Aku bukan
hantu. Cepat tolong aku, kakiku terjepit.” Lirih kucing itu.
Yona berusaha mati-matian mendekati kucing itu. Benar saja,
kaki kucing itu terjepit kandangnya. Karena iba, ia segera membantu kucing itu.
Lalu mengeluarkannya dari kandang.
“Kau bukan hantu, kan?” Tanya Yona ragu-ragu.
“Ck, sudah kubilang aku bukan hantu. Menjauhlah sedikit
dariku.” Yona menggerakkan badannya sedikit menjauh dari kucing itu tanpa
bertanya. 10 detik kemudian, berbagai cahaya datang entah darimana memenuhi tubuh kucing
itu. Sangat berkilau. Yona merasakan matanya sakit ketika mencoba untuk melihat
ke arah cahaya itu.
Sepasang kaki terlihat ketika cahayanya mulai memudar,
diikuti anggota tubuh lainnya. Seorang pria tampan muncul di balik cahaya itu.
Pakaian berwarna putih lengkap dengan jas dan sepatu coklat melekat di tubuhnya.
“Siapa kau?”
“Jung Yonghwa imnida.”
~~∞ő∞~~
Yona’s pov
Satu minggu sudah aku dan Yonghwa, si kucing ajaib itu
tinggal bersama. Meskipun ia berwujud manusia, tingkah lakunya masih sama
seperti kucing. Banyak hal yang harus kulakukan selain kuliah dan bekerja.
Memasak salah satunya. Walaupun Yonghwa adalah seekor kucing, tapi tetap saja
dengan wujud manusianya aku tidak bisa membiarkannya memakan ikan yang masih
mentah.
Hampir setiap makan malam kuhabiskan bersamanya. Dan itu
berarti setiap hari menu makanku adalah ikan. Dia benar-benar menyukainya. Dan
itu cukup menyulitkanku. Uangku tidaklah banyak untuk membeli jenis makanan
lain, ditambah uang sekolah yang harus kubayar sendiri.
Yonghwa hanya berubah menjadi manusia di malam hari, setelah
matahari menyembunyikan dirinya. Hal itu cukup menguntungkanku, setidaknya aku
tidak perlu mengkhawatirkannya melakukan tindakan-tindakan kriminal seperti
mencuri ikan dari rumah orang lain ketika aku pergi bekerja, karena nyatanya
itu adalah pekerjaan kucing kebanyakan. Satu-satunya hal yang membuatku
khawatir ketika ia menjadi seekor kucing adalah cakarnya. Ia selalu mengancamku
dengan cakarnya kalau aku tidak membelikannya ikan untuk dimakan. Merepotkan,
tapi apalagi yang harus kulakukan? Aku benar-benar tidak sabar menunggu anak
itu mengambil kucing ini, maksudku makhluk aneh bernama Jung Yonghwa ini.
“Kapan gadis kecil itu
akan membawamu kembali?” Tanyaku malam itu di meja makan.
“Wae? Apa kau tidak suka dengan kehadiranku?” Balas Yonghwa,
tetap sibuk dengan ikan di piringnya.
“Ck, apa aku bisa mengatakan kalau aku tidak suka tanpa
mendapat cakaran darimu, huh?”
“Tentu saja tidak, aku akan mencakarmu besok pagi kalau kau
mengusirku.” Jawab Yonghwa dengan mulut yang penuh dengan ikan, “Aku akan pergi
begitu kau benar-benar menginginkannya.” Sambungnya lagi.
“Kalau begitu, bisakah kau pergi sekarang? Pengeluaranku
bertambah sejak kau tinggal di sini.”
“Ya! Berterimakasihlah
atas kehadiranku! Kalau tidak ada aku, mungkin kau akan merasakan kesepian
seumur hidupmu.”
“Aish, menyebalkan. Sudah, habiskan saja makanan yang ada di
sini! Aku mau belajar dan jangan berani-berani mendekati kamarku, arra?”
Aku meninggalkan Yonghwa yang masih sibuk menyantap makan malamnya itu
dan menuju ke kamarku.
Benar apa kata Yonghwa, setidaknya aku tidak pernah merasa kesepian lagi semenjak
kehadirannya. Kalau saja Yonghwa benar-benar manusia dan sifatnya tidak
menyebalkan, mungkin aku sudah jatuh cinta padanya, apalagi Yonghwa itu cukup
tampan dengan tubuh yang proporsional.
~~∞ő∞~~
"Ya! Yonghwa-ya, apa kau lihat bukuku?" Teriakku pagi itu
"Aniyo. Untuk apa aku mengambil bukumu? Itu sama sekali tidak berguna untukku." Yonghwa sibuk mengibas-ngibaskan ekornya diatas kursi.
"Kalau begitu, bantu aku mencarinya."
"Shireo!"
"Ya! Aku apa kau tidak lihat aku sedang terburu-buru saat ini, eo? Ck, bantu aku atau aku tidak akan membelikanmu ikan." Ancamku. Kulihat Yonghwa bergerak malas turun dari atas kursi dan menuju dibalik lemari dapur dan terlihat mengambil sesuatu.
"Ige!" Ucapnya setelah meletakkan sebuah buku kecil dari gigitannya. Buku catatanku yang hilang tepatnya.
"Aish, kalau kau tau buku itu ada disana kenapa kau hanya diam, eo??? Ck, kucing menyebalkan." Kalian pasti tahu betapa menyebalkannya situasi saat ini.
"Kau ini berisik sekali. Seharusnya kau berterimakasih padaku." Sekarang Yonghwa mengangkat kaki depannya yang sebelah kanan, menggaruk-garukkan diwajahnya. "Sudah, cepatlah pergi atau kau akan terlambat." Sambungnya lagi.
"Arrasseo. Annyeong!" Ucapku bergegas meninggalkan apartemen kecilku. Masih kudengar suaranya yang mengingatkanku untuk berhati-hati dijalan. Ck, kucing itu sejak kapan ia menjadi perhatian seperti itu padaku?
Tiiiiiiiiiiiiiiin....
Sebuah suara bising mengacaukan lamunanku. Dan, beberapa detik kemudian kurasakan tubuhku terdorong serta beberapa suara-suara teriakan. Kepalaku terasa sakit. Tidak, ini bukan sebuah benturan tapi.
"Yonghwa-ya!!!" Aku tak bisa menahan teriakanku yang keluar begitu saja ketika kulihat sosok yang kukenal terbaring berlumuran darah dengan sebuah mobil disampingnya. Air mataku tumpah dengan mudahnya. Tidak! Aku tidak ingin kejadian ini terulang lagi.
"Andwae!!! Yonghwa-ya, ireona!" kugerakkan tanganku untuk mengguncangkan tubuh Yonghwa yang terbaring dijalanan.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" Air mataku terus mengalir dengan deras.
"Andwae-yo! Shireo-yo! Kau tidak boleh mati!" isakku.
"Uljima. Nan gwenchana-yo." Kurasakan sebuah tangan besar menyentuh wajahku dan menghapus air mataku. "Bawa aku pulang sebelum wujud asliku kembali muncul." Ujar Yonghwa dengan susah payah.
"Otte? Aku tidak bisa mengangkat wujud manusiamu." Jawabku jujur. Yonghwa menggerakkan jari telunjuk tangan kanannya yang membuatku secara spontan mendekatkan wajahku.
Degg...
Jantungku berdegup dengan kencang. Kupejamkan mataku. Apa yang akan dia lakukan? Apa dia akan menciumku? Disituasi seperti ini? Ah, Demi keselamatannya apapun akan kulakukan.
"Ya! Apa yang kau lakukan? Cepat ambilkan aku ikan segar dimini market itu. Aku butuh tenaga untuk berjalan ke apartemenmu. Cepat, aku merasa sebentar lagi tubuhku akan berubah menjadi kucing." Perintahnya.
"Ne? Bukannya kau ingin menci... ah ani, ani. Ne, tunggu sebentar." Ucapku. Aish, kau benar-benar bodoh Kim Yona.
Dengan langkah yang terburu-buru, Yonghwa menghabiskan sekantung ikan segar yang kuambil dari minimarket tadi.
"Kajja!" Aku sedikit terpana dengan tingkahnya saat ini. Dia berdiri dengan mudahnya setelah menghabiskan ikan-ikan tadi, seolah-olah tidak terjadi apa-apa barusan. Padahal nyatanya tubuhnya penuh luka saat ini.
"Aish, gadis bodoh. Aku tidak punya waktu banyak untuk menunggumu seperti ini." Ucapnya tepat beberapa menit sebelum mengangkatku secara tiba-tiba dan langsung berlari dengan cepatnya seakan-akan ia sedang mengendarai angin. Lihatlah, keanehan apalagi yang belum ditunjukkan makhluk bernama Jung Yonghwa ini padaku?
~~∞ő∞~~
"Apa kau baik-baik saja?" tanyaku sesampainya diapartemen. Aku tidak yakin dengan luka yang memenuhi tubuhnya itu dia akan baik-baik saja.
"Menjauh, aku akan berubah menjadi kucing." Cih, dia memang suka memerintah. Lagi, berbagai cahaya memenuhi tubuhnya. Ini pertama kalinya aku melihatnya berubah menjadi seekor kucing. Sebelum-sebelumnya ia selalu berubah menjadi kucing ketika matahari terbit pada awal hari dan itu berarti aku masih menikmati mimpi indahku.
"Gomawo-yo." Ucapku lagi pada sosoknya yang kini berupa seekor kucing.
"Ne." Balasnya singkat,
"Akan kubersihkan lukamu." Tawarku.
"Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Aku hanya butuh tidur." Ucapnya sebelum ia meluruskan kedua kakinya lalu menekuknya kembali layaknya posisi seekor kucing yang sedang tertidur.
"Ne. Selamat tidur." Tanganku bergerak mengelus kepalanya pelan lalu beranjak meninggalkannya sendiri. Aku juga butuh istirahat. Kejadian hari ini cukup mengejutkan.
"Gomawo, Yonghwa-ya."
Suara bising alarm
membuatku terbangun. Jam menunjukkan pukul 7 malam.
"Menjauh, aku akan berubah menjadi kucing." Cih, dia memang suka memerintah. Lagi, berbagai cahaya memenuhi tubuhnya. Ini pertama kalinya aku melihatnya berubah menjadi seekor kucing. Sebelum-sebelumnya ia selalu berubah menjadi kucing ketika matahari terbit pada awal hari dan itu berarti aku masih menikmati mimpi indahku.
"Gomawo-yo." Ucapku lagi pada sosoknya yang kini berupa seekor kucing.
"Ne." Balasnya singkat,
"Akan kubersihkan lukamu." Tawarku.
"Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Aku hanya butuh tidur." Ucapnya sebelum ia meluruskan kedua kakinya lalu menekuknya kembali layaknya posisi seekor kucing yang sedang tertidur.
"Ne. Selamat tidur." Tanganku bergerak mengelus kepalanya pelan lalu beranjak meninggalkannya sendiri. Aku juga butuh istirahat. Kejadian hari ini cukup mengejutkan.
"Gomawo, Yonghwa-ya."
~~∞ő∞~~
“Oh, aku tertidur lagi.” Ucapku. Tak terasa ini sudah bulan ke-2 Yonghwa menemaniku. Segera kulangkahkan kakiku turun dari atas kasur dan menuju keluar kamar ketika kudengan suara bising dari arah dapur.
“Kau bangun? Kukira kau akan tidur sepanjang hari.” Tanya
Yonghwa dengan tangan yang masih sibuk menata piring di atas meja, lebih terdengar seperti sindiran. Kulihat
wajahnya penuh dengan luka.
“Aneh.” Komentarku.
“Mwo?”
“Wajahmu, darimana kau dapatkan luka-luka itu? Bukankah luka bekas kecelakaan waktu itu sudah hilang?” Tanyaku bingung.
“Sudah, cepat makan sebelum makanan ini dingin!” Jawabnya
mengalihkan pertanyaan.
“Apa kau
mencuri makanan-makanan ini?”
“Ya! Kau pikir aku
serendah itu? Sudah, cepat makan.” Perintahnya padaku.
Hening, tidak ada percakapan sama sekali di meja makan pagi
itu. Entah mengapa, akhir-akhir ini aku merasa bahwa aku menyukainya. Sikapnya
yang terlihat dingin ternyata menyimpan sosoknya yang baik hati dan perhatian.
Kalian ingat, kan, kejadian beberapa minggu lalu? Ketika Yonghwa menyelamatkanku dari sebuah mobil yang hampir menabrakku. Dan aku
hanya merawatnya di rumah dengan obat-obatan tradisional yang aku racik
sendiri. Yang kalian tahu bahwa saang pengemudi pergi begitu saja melihat Yonghwa yang cukup sekarat
saat itu, entahlah aku tidak tau memang pengemudi itu yang melarikan diri atau Yonghwa yang menjadi sehat kembali setelah memakan ikan-ikan yang kuambil dari minimarket. Anehnya, semenjak kejadian itu, ia jadi sering melukai dirinya
sendiri dan selalu mengalihkan pembicaraan untuk tidak membahas tentang
luka-luka yang didapatnya.
“Yona-ya!” Panggilnya membuyarkan lamunanku.
“Wae?”
“Aniyo. Bagaimana? apa
masakanku enak?”
“Tidak buruk.” Jawabku singkat.
“Ck, kau benar-benar
tidak bisa berkomentar yang baik.” Jawabnya tanpa balasan dariku.
“Yonghwa-ya, kapan kau
akan pergi?”
“Aish, baiklah kalau kau menginginkannya. Aku akan pergi
setelah aku menghabiskan makan malamku.” Balasnya terlihat kesal.
“Aniyo, akan lebih
baik kalau kau tidak pergi.”
Degg… Aku tidak mengerti mengapa aku mengatakan hal seperti
itu.
“Ne?”
“Aku… Aku menyukaimu, Yonghwa-ya.” Ucapku pelan, tapi cukup
untuk membuatnya tersedak.
“Kau terlihat menggelikan.” Komentarnya.
“Apa aku terlihat
bercanda?” Kini mataku menatap lurus ke dalam matanya.
Suasana kembali hening.
“Segera temui aku di depan seusai kau menghabiskan
sarapanmu.” Ucap Yonghwa seraya
meninggalkan meja makan begitu saja.
Aku tidak mengerti situasi apa yang terjadi saat ini.
Sikapnya membuatku takut bahwa dia akan meninggalkanku setelah apa yang aku
lakukan tadi. Walaupun aku tahu bahwa dia tidak akan pergi meninggalkanku
sebelum aku yang memintanya untuk pergi.
~~∞ő∞~~
Sikapnya sepanjang perjalanan memaksaku mengikutinya dalam
diam. Aku merasa benar-benar bodoh mengatakan isi hatiku padanya.
“Eonni.” Tunjukku
pada salah satu makam yang berada di depanku. Aku tidak mengerti mengapa
Yonghwa membawaku ke pemakaman.
"Ya! Kenapa kau membawaku kesini?" tanyaku
"Ya! Kenapa kau membawaku kesini?" tanyaku
Dia masih diam dengan tubuhnya yang membelakangiku, membuatku
menyimpulkan sendiri alasannya membawaku ke sini.
“Gadis kecil itu… Apa kau tidak ingat?”
“Ne?” Pikiranku
menerawang, mengingat-ingat wajah gadis kecil yang memberikan Yonghwa padaku.
Flashback
“Hyori eonni!”
Sebuah mobil truk menabrak tubuh
mungil Hyori eonni, satu-satunya
keluarga yang aku miliki.
“Eonni!”
Teriakku.
Percuma, eonni tewas saat itu juga. Ia mengorbankan nyawanya hanya demi menyelamatkan
seekor kucing putih dengan bulu kaki berwarna coklat yang selalu menemaninya
mengantar susu setiap pagi ke rumah-rumah, dari tabrakan tersebut. Meninggalkan
aku sendiri di dunia dan menyisakan dendam terdalam terhadap salah satu makhluk
ciptaan Tuhan itu yang menyebabkannya pergi.
Flashback ends
“Eonni...”
Air mataku jatuh begitu saja.
“Yona-ya, aku kucing itu.” Yonghwa
memelukku.
“Mianhae,
jeongmal mianhae.” Bisiknya padaku.
Tubuhku kaku dan mati rasa seketika.
Apa yang baru saja dikatakannya benar-benar membuat otakku sulit bekerja dengan
baik.
“Mianhae
Yona-ya.” Yonghwa mempererat pelukannya.
“Pergi!” Aku melepaskan pelukannya.
“Yona-ya,..”
“PERGIII!!!” Emosiku sampai pada
puncaknya. Bagaimana bisa aku jatuh cinta pada sesuatu yang seharusnya kubenci.
Tangisku memecah kesunyian makam
malam itu. Lagi, kejadian 10 tahun itu terulang lagi. Kehilangan sesuatu yang
berharga untukku. Tapi kali ini aku yang memintanya untuk pergi, pergi dari
hidupku.
~~∞ő∞~~
16 November, hari ini adalah hari
kelulusanku sekaligus ulang tahunku. Tidak ada perayaan apapun. Beruntung
karena tadi pagi, Park Eunri-sahabatku- membawakan kue ulang tahun untukku yang
setidaknya membuatku merasa masih ada yang peduli terhadapku.
Kulangkahkan kaki ke makam Hyori eonni sepulang sumpah kelulusan. Sepi,
makam ini benar-benar sepi, sesepi hatiku.
“Eonni,
apa kabarmu di sana? Apa kau ingat hari ini hari ulang tahunku?” Aku tersenyum
lirih.
“Apa aku boleh meminta sesuatu
padamu?” Kini air mataku menetes.
“Kembalikan Yonghwa padaku… Aku
membutuhkannya, kumohon eonni. Hiks, kumohon,
eonni…” Isakku.
Benar-benar hal yang percuma, bukan?
Tapi itulah satu-satunya cara yang kupikirkan untuk mendapatkan Yonghwa
kembali. Kulangkahkan kaki keluar makam setelah mendoakan eonni. Aku masih diselimuti perasaan tak menentu ketika sepasang
kaki jenjang menghadangku.
Akhirnya.
Aku melihatnya lagi.
Yonghwa.
“Yonghwa-ya!” Aku langsung menghambur
ke dalam pelukannya.
“Apa kau mencariku, Yona-ssi?”
Degg… Dia memanggilku dengan
panggilan formal. Kata-kata itu cukup untuk menusuk hatiku.
“Yonghwa-ya, kau boleh marah padaku.
Tapi kumohon, jangan anggap aku sebagai orang asing.” Aku mempererat pelukanku
meskipun tidak ada balasan darinya.
"Ya! Kau mendengarku, kan? Yonghwa-ya, jeongmal mianhae." Dia masih mendiamiku.
“Wae? Apa kau benar-benar membenciku, eo? Kau tidak boleh membenciku. Karena, hiks.. hiks... Aku mencintaimu. Hiks..hiks..Yonghwa-ya, saranghae.” Ucapku di tengah-tengah isakanku. Aku tidak tahu lagi
hal apa yang bisa kulakukan padanya.
Yonghwa melepaskan pelukanku dari tubuhnya.
Kukira ia akan mendorongku dan meninggalkanku begitu saja, namun…
“Nado
saranghae.” Sedetik kemudian, Yonghwa mendaratkan bibirnya di bibirku. Aku
terkejut dengan apa yang dilakukannya. Aku benar-benar tidak menduga ia akan
melakukan hal ini padaku.
“Nado
saranghae, Yona-ya.” Bisiknya dengan aku di pelukannya.
“Kumohon, jangan pernah pergi
walaupun aku yang memintanya.” Aku mempererat pelukanku.
“Ne,
aku tidak akan pernah pergi darimu. Tidak akan pernah, selamanya.”
Aku tersenyum mendengarnya. Tapi ada
sesuatu yang mengganjalku. Bagaimana mungkin Yonghwa bisa berubah menjadi
manusia di siang hari seperti ini.
“Yonghwa-ya, bukankah saat ini
seharusnya kau masih menjadi seekor kucing?” Tanyaku.
“Wae?
Apa kau tidak suka melihat wujudku seperti ini?”
“Aniyo.
Tapi…”
“Apa kau pernah dengar kucing punya 9
nyawa?”
“Ne?”
“Kau tahu, aku rela mengalami
sakitnya kematian sebanyak 8 kali hanya untuk menjadi manusia sungguhan.”
Jelasnya.
“Tuhan memberiku tantangan. Jika aku
berani menghadapi kematianku dan menyisakan satu nyawaku, maka aku akan menjadi
manusia sungguhan. Awalnya aku tidak tertarik karena belum memiliki tujuan yang
jelas untuk menjadi manusia. Tapi sejak menyelamatkanmu dari tabrakan mobil
truk itulah, akhirnya aku tahu. Jika aku menjadi manusia, maka aku bisa menjadi
pelindungmu dan hidup bersamamu.” Sambungnya lagi.
“Jadi selama ini kau melukai dirimu
hanya untuk menjadi manusia?”
“Ani,
tapi untuk menjadi pendampingmu.” Balasnya.
“Ck, kau benar-benar bodoh. Bagaimana
kalau bekas lukamu tidak hilang? Kau tahu? Kau tidak akan terlihat tampan.”
Ejekku bercanda.
“Aku tidak peduli, karena kau akan
selalu mencintaiku.” Yonghwa mengangkatku tiba-tiba.
“Ya!
Lepaskan!”
“Tunggu sampai kita tiba di rumah.”
Balasnya masih dengan kedua tangannya yang menggendongku.
"YA!"
"Kau harus berjanji menyiapkan makanan kesukaanku sesampainy dirumah. Arrasseo?"
"Wae? Shireo!"
"Aku tidak dengar. Aku tidak dengar." Yonghwa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aish, Ya!"
“Eonni,
terimakasih.” Ucapku dalam hati lalu mengeratkan kembali peganganku pada pundak Yonghwa.
"Terimakasih, Eonni."
"Terimakasih, Eonni."
Yona’s pov ends
Sepasang bola mata gadis kecil
memperhatikan tingkah Yona dan Yonghwa yang terlihat bahagia dari kejauhan.
Senyum manis mengembang di wajahnya, wajah yang masih sama dengan wajah sepuluh
tahun lalu.
“Kuharap kau bahagia dengan kucingku, Yona-ya. Annyeong. Aku akan menyusul eomma dan appa. Nae dongsaeng, annyeong.”
Cahaya putih menyelimuti tubuh gadis
itu yang lambat laun menghilang dengan pudarnya cahaya itu. Akhirnya, gadis
kecil itu bisa pergi dengan tenang ke alamnya tanpa perlu mengkhawatirkan adik
perempuan kecilnya yang telah tumbuh dewasa itu. Karena kini, adiknya telah
bahagia dengan seseorang yang benar-benar mencintainya, Jung Yonghwa.
The End
Komen sama like-nya jangan lupa yaaaaa :)))))))) Terimakasih banyak :))))))))) FF ini sebelumnya pernah diikutin lomba di FF CNBLUE Indo dengan cerita yang lebih pendek. Jadi, FF ini adalah FF versi panjang dari Love Pet :)))

0 komentar:
Posting Komentar