Judul : Mimpi Buruk
Author :Namikaze Han (fb: Lavu Oerenji)
Genre : Romance-Hurt
Cast artis : Exo
Reposted at FFN
.
.
.
Ini pukul setengah sebelas malam, kedua belas personil EXO baru saja sampai di dorm mereka yang berada di Korea. Ada yang langsung masuk kamar, ada juga yang duduk-duduk dulu. Ada juga yang melamun
dengan wajah kusut seperti pakaian yyang tak pernah disetrika. Hanya ada satu, Do Kyungsoo.
Author :Namikaze Han (fb: Lavu Oerenji)
Genre : Romance-Hurt
Cast artis : Exo
Reposted at FFN
.
.
.
Ini pukul setengah sebelas malam, kedua belas personil EXO baru saja sampai di dorm mereka yang berada di Korea. Ada yang langsung masuk kamar, ada juga yang duduk-duduk dulu. Ada juga yang melamun
dengan wajah kusut seperti pakaian yyang tak pernah disetrika. Hanya ada satu, Do Kyungsoo.
"Hyung, wajahmu kusut. Ada
apa? Perlukah aku setrika?" sang dance machine EXO-K,
Kai bertanya pada Hyung-nya itu.
"Tidak" jawab Kyungsoo
datar.
"Hey, kau terdengar mirip
Youngie-ku" yang diujung sana, Baekhyun ikut-ikutan. Ya, karena baru saja
Kyungsoo berbicara dengan nada datar.
"Cerita saja Hyung" desak
Kai pada Hyung-nya itu.
"Ya Kyungsoo, cerita
saja" sambung Baekhyun.
"Sudah satu bulan Eunri tidak
memberiku kabar, aku juga tidak melihat kameranya saat kita show.
Dia kan stalker kita" akhirnya Kyungsoo menceritakan
masalahnya.
"Aku juga tidak melihatnya.
Kameranya kan yang paling beda" sahut Kai.
"Ada stiker jeruk besar
disana. Kkk~" sambung Baekhyun lalu tekekeh.
"Kenapa kau tidak meneleponnya
Hyung?" saran Kai kemudian.
"Aku takut ia sudah
tidur" balas Kyungsoo.
"Coba saja Kyung! Dia seorang
penulis kan? Siapa tahu dia masih mengetik?" ujar Baekhyun. Ada benarnya
juga.
"Baiklah" Kyungsoo mengambil
handphone-nya. Mencari kontak Eunri, lalu menlepon gadisnya itu.
"Moshi-moshi[halo]. Ini
siapa ya?"
"Kyungsoo. Kau lupa
namjachingu-mu?"
"Ani~ mianhae Oppa, ada
apa?"
"Kenapa kau tidak
menghubungiku sebulan ini?"
"APA?! SUDAH SEBULAN?!
Kenapa aku tidak menyadarinya. Mian Oppa, mian. Aku sibuk belakangan ini"
"Sibuk apa?"
"Hmm, aku beberapa kali
diundang seminar. Lalu aku ke Jepang selama satu minggu karena dipaksa kakak
sepupuku. Lalu aku juga harus menyelesaikan naskah serta ilustrasiku. Oh ya,
aku sekarang sedang menyelesaikan ilustariku. Kau tidak tidur?"
"Begitu ya. Aku baru sampai
dorm. Kau jangan tidur terlalu malam ne?"
"Tidak janji. Karena besok
aku harus menyerahkan ilustrasiku sekaligus, aku harus mengirim naskahku lewat
e-mail. Lihat saja. Kau baru sampai? Tidurlah! Aku tidak mau kau punya kantung
mata seperti Panda [read: Tao] itu"
"Nanti saja, aku belum
mengantuk. Apakah aku menganggu?"
"Tidak. Ini hanya
pengeditan saja. Ah dan ada satu setengah bab lagi yang harus kutulis. Kau
tidurlah duluan. Besok pasti ada show lagi kan?"
"Aku tidak percaya. Ya,
baiklah aku akan tidur. Tidak, besok aku break. Datanglah
kemari"
"Um ya, kalau aku bisa
pasti aku datang"
"Selamat malam. Saranghae,
ingat itu!"
"Oyasumi watashi no
koibito[selamat tidur kekasihku]. Aku akan ingat terus, karena aku juga"
Tut.
Telepon dimatikan.
Dan Kyungsoo pergi tidur. Bagaimana
dengan Kai dan Baekhyun? Mereka sudah lebih dulu.
~nightmare~
Ini pukul enam pagi, dan gadis
dengan rambut sebahu itu belum menyentuh kasur. Ia masih sibuk berkutat dengan
laptopnya. Menyelesaikan beberapa paragaf lagi. Kantung mata terlihat jelas
dibawah kedua matanya.
Eunri –gadis itu- mengambil handphone-nya
yang tergeletak, menghubungi salah satu temannya.
"Ini Eunri"
"Bisa kau kemari?"
"Mengambil flashdisk yang
berisi data ilustrasi majalah"
"Secepatnya"
"Ya baiklah, aku
menunggu"
Ia kembali bekutat dengan
laptopnya. Hanya beberapa kalimat penutup, dan novelnya itu sudah mencium
kata the end.
"Ah~ selesai juga" ia
meregangkan bahunya yang kaku. Bersamaan dengan itu, bel rumahnya berbunyi.
Gadis itu membuka pintu rumahnya,
tampaklah seorang pemuda yang kira-kira seumuran dengannya.
"Kau tampak lelah, Michi-chan"
oh pemuda itu memanggil Eunri dengan nama Jepang gadis itu, ditambah suffix
chan lagi.
"Ya begitulah, aku belum
menyentuh kasur" balas Eunri sambil menggauk tengkuknya.
"Mana flashdisk-nya?
Aku akan meminta izin ke atasan kita untukmu" ujar pemuda itu.
"Ini" Eunri
menyerahkan flashdisk itu. "Arigatou Ryu-kun"
"Daijyoubu"
balas pemuda itu. lalu pergi.
~nightmare~
Eunri merebahkan tubuhnya diatas
kasurnya itu. Baru saja ia memejamkan mata, hendak masuk dalam alam mimpi,
namun ia teringat sesuatu.
"Yeonsoo belum bangun!"
baiklah, ini pukul enam pagi lewat beberapa menit dan Eunri belum tertidur sama
sekali. Ia harus membangunkan Yeonsoo juga membuatkan sarapan.
Kemana Ibunya? Tidak ada disana.
Jadi ia hanya berdua di rumah itu.
"Soo bangun!" Eunri
menggedor pintu kamar Yeonsoo kuat. "Bangun hey! Sudah jam 6!"
"Iya aku bangun" Yeonsoo
bangun, membuka sedikit pintunya, dan ia melihat Eunri dengan penampilan yang
menyeramkan. Kantung mata Eunri terlihat lebih jelas dari kemarin.
"Kau mau sarapan apa?"
tawar Eunri. Dirinya duduk di kursi berseberangan dengan Yeonsoo. Meja makan
menjadi batas antara mereka berdua.
"Onigiri"
sungguh Yeonsoo tidak tega meminta sarapan yang rumit membuatnya. Ia tahu kakak
sepupunya belum tidur sama sekali.
"Itu mudah. Tapi aku yakin
rasanya akan tidak karuan" Eunri mulai membuat itu. "Kau tahu
keadaanku"
"Ya, jelas sekali. Bahkan itu
menyaingi milik Panda Ahjussi [read: Tao]" balas Yeonsoo yang setia
menunggu.
"Ya, aku tahu" Eunri
masih membuatnya. Sedikit lagi selesai. "Sudah. Mau susu rasa apa?"
"Coklat"
Hanya mengaduk susu dalam gelas.
Itu mudah bagi Eunri. Ia membawa sarapan itu ke Yeonsoo. "Nah,
makanlah" ujarnya sambil sedikit mengacak rambut Yeonsoo yang memang masih
acak-acakan.
"Unnie, tidak?" tanya
Yeonsoo.
"Tidak. Aku mau tidur. Selamat
pagi" balas Eunri sambil berlalu menuju kamarnya. Aneh sungguh mengucapkan
selamat pagi, tapi kau tidak bersiap sekolah atau kerja. Melainkan tidur.
"Selamat pagi" balas
Yeonsoo. Ia agak sedikit menyerngit karena benar peringatan Eunri, rasanya
tidak karuan. Ia memilih meminum susunya saja. "Ah, ini lebih baik. Dan
sebaiknya aku bersiap"
~nightmare~
Pukul delapan pagi, biasanya gadis
itu sudah sampai di dorm. Itu yang dikhawatirkan Kyungsoo. Kemana gadisnya saat
ini? Tidak tahukah gadisnya itu bahwa Kyungsoo khawatir?
"Kau yang datang kepadanya
jika dia tidak datang kepadamu" usul Kai yang jengah melihat Hyungnya
menekuk muka sambil berjalan mondar-mandir.
"Kenapa aku tidak kepikiran!
Aih kau ini dongsaeng yang pintar!" tak pakai lama,
Kyungsoo menyambar jaketnya menuju mobil. Dan melesatkan mobilya menuju rumah
Eunri –gadisnya.
Ia sampai. Tidak perlu lama, karena
lalu lintas Seoul cukup lengang. Dan apa ini? Rumahnya sangat sepi. Biasanya,
jika Kyungsoo kemari, akan terdengar berbagai keributan.
"Apa rumah ini kosong?"
Kyungsoo berpikir. Tidak mungkin. "Masuk sajalah, aku tahu dimana
kuncinya" ya, dia mengambil kunci itu dibawah pot berisi bunga lavender.
Memasukkan kunci itu. memutarnya, dan wala~ pintu terbuka.
Ia melangkahkan kakinya ke dapur,
ia tahu biasanya Ibu Eunri membuat kue. Nihil.
Ruang tengah menjadi tujuan
selanjutnya. Sama saja. Nihil.
Tidak ada pilihan lain, Kyungsoo
membuka pintu kamar Eunri perlahan. Dan apa yang ia lihat? Sangat berantakan.
Kertas dimana-mana, komik dan novel juga berserakan, belum lagi foto-foto yang
hendak dijadikan scrapbook. Tak luput pasti ada karton
berwarna-warni tergeletak pasrah dilantai. Lebih parah, cutter dan
gunting dibiarkan berada di lantai. Kalau terinjak kan? Ya ampun. Laptop gadis
itu juga belum dimatikan, menampakkan wallpaper yang membuat
Kyungsoo tersenyum. Itu, disitu ada foto selca mereka
berdua.
Dan ia menemukan gadisnys tertidur
diatas kasur. Satu yang ada dipikrannya.
Apa ini kamar seorang
penulis, illustrator, stalker,
dan anime lovers kalau berantakan? Menyeramkan.
Perlahan, ia menghampiri gadisnya
itu. "Eunri, Changi, ireonna" bisiknya
lembut ditelinga Eunri.
"Eungh~ dare?
[siapa?]"
"Kyungsoo. Kau lupa
namjachingu-mu huh?"
Eunri membukamatanya perlahan.
Terbuka, namun setengah. Pandangannya sayu dan matanya memerah. Kantung matanya
terlihat jelas sekali. Dan Kyungsoo melihat semua itu.
"Hmm, gomenne [maaf]
aku tidak bermaksud begitu. Hanya saja …" Eunri duduk. "Ugh!"
gadis itu memegangi kepalanya yang memang pusing.
"Kau kurang tidur hum?"
tanya Kyungsoo. Sepasang mata bulat itu menatap khawatir keadaan kekasihnya. Ia
lalu duduk disamping Eunri.
"Begitulah. Aku baru tertidur
selama …" Eunri menengok jam yang tergantung manis di dinding. Oh sekarang
pukul setengah sembilan.
Membuat sarapan sekitar 30
menit. Jadi aku tidur pukul setengah tujuh.
"Selama?"
"Eum … dua jam" Eunri
menjawab. Ia tersenyum kaku pada kekasihnya itu.
"Dua jam?! Kau sudah
saparan?" Kyungsoo mulai khawatir.
Eunri menggeleng pelan. Matanya
menyapu dengan pandangan sayu ke penjuru kamarnya. Kata pertama yang mleuncur
di benak Eunri adalah, berantakan. Ia harus mebereskan ini.
Yang dipikiran Kyungsoo adalah,
sarapan untuk kekasihnya. Tapi apa? Bubur? Ya! Ia akan membuat bubur.
"Aku akan membuatkanmu
sarapan" putus Kyungsoo kemudian.
"Eum" sementara itu,
Eunri berdiam di kamar selagi Kyungsoo memasak. Ia sibuk membereskan kamarnya.
Eunri turun dan memasuki dapur
sekaligus ruang makan itu. ia mendapati Kyungsoo yang duduk menunggunya bersama
semangkuk bubur yang masih mengeluarkan uap panas dan –sesuatu yang dibencinya.
Susu. Segelas susu.
"Duduk, dan makanlah"
ujar Kyungsoo.
Eunri duduk. Ia termangu sebentar.
Ia berpikir, kenapa harus ada susu? Ia bahkan tidak sudi meminumnya.
"Kenapa diam? Perlu kusuapi
hum?" Eunri menggeleng pelan.
"Tidak" ia mulai makan.
Menelan sesendok bubur itu. "Masakanmu selalu enak, Oppa. Tapi …"
"Tapi apa?"
"Kau harusnya tahu aku benci
susu" demi apapun, Kyungsoo melupakan itu. Ia lupa gadisnya sangat
membenci susu.
"Aku lupa Changi.
Biar kubuatkan jeruk hangat saja ne?" tawar Kyungsoo. Ia
yakin yang satu ini tidak akan ditolak oleh gadisnya.
"Ya!" benar kan dugaan
Kyungsoo.
~nightmare~
"Oppa, apa tidak apa kalau aku
tidur?" tanya Eunri dalam pelukan Kyungsoo.
"Ne" jawab
Kyungsoo singkat. Tangan kirinya kini menjadi tumpuan bagi kepala Eunri. Dan
kepalanya berada diatas bantal berbentuk jeruk. Satu yang di pikirannya, anak
ini senang sekali dengan jeruk.
"Tapi, kalau aku tidur, Oppa
akan sendirian" balas Eunri, matanya yang sayu menatap Kyungsoo.
"Matamu merah, kantung matamu
bahkan menyaingi Tao, kau perlu tidur" tangan satunya yang menganggur
digunakan membelai poni Eunri.
"Apa tak apa?" Eunri
bertanya lagi.
"Sst …" Kyungsoo
menempelkan jari telunjuknya di bibir Eunri. "Tidurlah, jangan banyak
protes" jujur, daripada menempelkan jarinya, ia akan lebih senang
menempelkan bibirnya. Dasar mesum-_-
"Baiklah" Eunri mengalah.
Ia pejamkan matanya, dan pergi ke alam mimpi. Senandung yang keluar dari bibir
Kyungsoo mengantar dirinya lebih lelap.
"Aku, sebenarnya tidak suka
kau begini" jemari Kyungsoo memainkan lembut surai-surai kelam Eunri.
"…" tak ada balasan.
"Kemana Eunri-ku yang selalu
datang ke dorm bila aku dapat break? Kemana Eunri-ku yang senang
mengomeli Sehun atau menodong Kai dengan pisau di ruang makan?"
"…" masih tidak ada
balasan.
"Kau berubah. Dan aku tidak
suka itu"
"…"
"Dan –ugh- kenapa aku rasanya
ingin menindihmu hum? –tidak! Mungkin begini saja tidak apa" chu~
Kyungsoo mengecuppelan bibir Eunri. Takut terbangun. Kan-_- dasar mesum-_-
Tanpa terasa, Kyungsoo juga
tertidur. Tepat disebelah Eunri. Cuddle.
~nightmare~
Hari-hari berlalu, Eunri semakin
sibuk dengan kegiatannya. Seminar para penulis yang entah mengapa semakin
sering saja. Tuntutan dari penerbit untuk membuat novel lagi. Karena novel
sebelumnya best seller. Redaksi yang juga menuntutnya untuk
membuat ilustrasi yang lebih kreatif. Juga tugas kuliahnya yang semakin
menumpuk.
"Skripsi! Skripsi! Apalah
itu?! Biar kuberi Lee Seosangnim setumpuk novel karyaku.
Biar dia tahu bahwa aku ini bagus dalam sastra!"
Sementara itu, Kyungsoo semakin
sibuk dengan EXO. Show dimana-mana. Diundang menjadi bintang
tamu di beberapa variety show. Belum lagi, kini ia menjadi tokoh
sebuah drama. Dan lawan mainnya adalah, yeoja yang
menurutnya cantik. Dan ada lagi, syuting untuk MV terbaru mereka. [oke plis ini
yang terakhir beneran khayalan author-_-]
Mereka termakan dengan kesibukan
masing-masing. Hampir tak ada pikiran melintas untuk menghubungi satu sama
lain. Benar-benar sibuk. Merasa seakan mereka tidak punya kekasih. Pada
kenyataannya, mereka punya.
…
"Kau sedang apa Youngie?"
tanya gadis kita, Eunri pada sahabt es-nya itu.
"Membalas pesan dari
Baekhyun" jawab –yah, kalian harusnya tahu namanya. Miyoung.
"Oh begitu" hanya itu
tanggapan Eunri. Ia kembali sibuk dengan jemarinya yang tak mau lepas dari
keyboard laptopnya. Ia mengetik di kantin kampus.
"Ia bertanya tentang kenapa
aku tidak ke dorm lagi" ujar Miyoung.
"Kenapa?" Eunri terlalu
focus pada laptopnya hingga hanya dapat menanggapi sedikit.
"Karena kau tidak mengajakku
kesana" kini perhatian Eunri sepenuhnya kepasa Miyoung. "Ia
bertanya kenapa, dan aku jawab kau sibuk. Ia bilang, Kyungsoo
juga sibuk" deg! Eunri teringat namjachingu-nya itu. "Ia juga
bilang, Kyungsoo terlalu sibuk bahkan untuk mengingat yeojachingu-nya.
Dan Kris-ge sangat merindukan untuk bertemu Yeonnie. Entah apa Eunri sesibuk
itu hingga ia tidak juga menghubungi namjachingu-nya. Kemudian dia akhir
ia bertanya, kenapa kau tidak ke dorm berdua dengan Yeonnie tanpa
Eunri?" asal kalian tahu, Miyoung berbicara sepanjang itu dan
menghabiskan satu paragraph dengan nada daaaaatttttttaaaaaarrrrr.
"Kau jawab apa?" tanya
Eunri.
"Aku buta arah" jawab
Miyoung.
Oh! Eunri lupa sahabatnya ini
memang buta arah. Dan hanya mengingat jalan ke rumahnya sendiri, rumah Eunri
juga ke kampus. Itu saja ia lupa dimana letak kelasnya. Sahabatnya ini selalu
sibuk dengan komik bila berpergian hingga tidak pernah memperhatikan jalan yang
mereka lalui. Dan bila tanpa Eunri, Miyoung adalah orang yang lebih ahli dengan
tersesat dibanding Yeonsoo.
…
"Hyung?" Kyungsoo berani
bertaruh, tak ada satu hari pun di dorm tanpa panggilan dari dongsaeng gelapnya
ini. Kai.
"Hmm?" Kyungsoo menyahut
dengan gumaman singkat.
"Bagaimana dengan
hubunganmu?" tanyanya. Dan ini membuat Kyungsoo berpikir.
"Hubungan ap … Ya ampun!"
Kyungsoo ingat. Ia melirik tanggal yang tertera di layar handphone-nya,
mengecek pesan masuk dan terkirim yang terakhir. "Sudah dua bulan …"
lirihnya.
"Kau tahu apa reaksinya
nanti?" dan yang muncul di otak Kyungsoo adalah serenteran omelan. Panjang
× lebar × tinggi = luas. Oh ini buruk.
"Mengerikan" gumamnya
pelan.
"Kyungsoo Hyung, sesibuk
apapun kau, harusnya dapat memberinya kabar" oh sang dokter cinta sedang
memberi nasihat.
"Tapi, Kai, kurasa ia juga
sibuk. Kau tahu perkerjaannya kan?"
"Ya. Banyak" jawab Kai.
"Dengar, jangan jatuh cinta pada lawan mainmu di drama jika kau tidak mau
kehilangan dia"
"Aku tahu"
"Hubungi dia Hyung"
"Ya. Baiklah"
…
Lagu Crazy Clown yang
dinyanyikan duet Hatsune Miku dengan Shion Kaito mengalun
melalui speaker handphone milik Eunri.
Incomming
Call
Kyungie
Oppa
0123
– 456 – 789
"Etdah thor, nomer
teleponnya cakep bener"
"Weh iya dong. Author yang
buat"
"Serah lu dah"
.
.
.
.
.
.
Bek tu de stori …
.
.
.
Eunri mengangkat telepon dari
namjachingu-nya itu.
"Moshi-moshi?
[halo?]"
"Aku juga. Sangat"
"Bukan salahmu sepenuhnya.
Salahku juga yang terlalu sibuk dengan pekerjaan dan tugasku"
"Kapan?"
"Ya, aku bisa"
"Ne, aku
mengerti"
"Ppai~ nado Oppa"
"Youngie, besok kau pergilah
ke dorm. Bawa Yeonnie sekalian. Akan kuberikan alamatnya, jadi kalian harus
naik taksi" ujar Eunri pada sahabt yang duduk disampingnya itu.
"Ne" jawab
Miyoung singkat.
~nightmare~
Mereka duduk di atas pasir pantai.
Duduk berdua. Menikmati semilir angin memainkan surai-surai mereka.
Mendengarkan debur ombak yang memecah keheningan diantara mereka. Menikmati
kicauan burung camar yang mengisi pendengaran mereka. Tidak ada yang memulai.
Terlalu enggan.
Pantai ini sepi, sengaja memang
lelaki dengan mata bulat itu mengajak kekasihnya kesini. Hanya untuk berdua.
"Eunri-ya?" akhirnya sang
pemuda memulai pembicaraan.
Tidak ada panggilan Changi seperti
yang biasa keluar dari bibirnya yang berbentuk love itu.
"Ya, Kyungsoo Oppa?"
Kyungsoo Oppa? Tidak ada Anata,
tidak ada Kyungie Oppa seperti biasa.
Apa mereka lupa? Hanya jarak dua
bulan mereka tidak bersama dan mereka lupa? Ajaib sekali.
"Sudah dua bulan …"
"Kita tidak saling
menghubungi" Eunri menyambung perkataan kekasihnya itu. jari telunjuk
miliknya mengukir sesuatu diatas pasir.
"Ya" tidak ada genggaman
atau pelukan hangat yag diberikan Kyungsoo.
Semua ini seperti, mereka hanya
teman biasa. Tidak lebih.
"Oppa, kau tahu?"
"Hmm?"
"Aku merasa, seperti
aku bukan yeojachingu-mu. Tapi aku iya" telunjuk Eunri masih sibuk
mengukir sesuatu.
"Entah mengapa, aku merasa
hampa. Aku merasa kurang selama ini. Namun aku tidak tahu penyebabnya"
"Karena aku menghilang?"
kepala Eunri mendongak, melihat wajah kekasihnya yang menatap keatas. Dengan
kacamata hitam bertengger manis di hidungnya.
"Mungkin"
"Aku juga begitu. Taganku
gatal untuk menulis pesan kepadamu. Namun, aku takut menganggu semua
kesibukanmu" Eunri kembali mengukir di pasir. "Kau pikir aku tidak
tahu kau ikut syuting sebuah drama? Biarpun aku menulis di fansite bahwa
aku hiatus, tidak sepenuhnya begitu. Sesibuknya aku, aku masih berusaha mencari
info dan berita tentang kalian. Terutama tentangmu. Aku sibuk bergulir dari web
ke web, fansiteke fansite, blog ke blog. Jadi aku
tidak ketinggalan"
"…" Kyungsoo terdiam.
Tidak tahu harus berkata apa.
"Penerbit memintaku menulis
lagi, karena novelku yang sebelumnya best seller. Pihak redaksi
juga memintaku lebih kreatif dalam ilustrasi, karena ilustrasi buatanku
meningkatkan penjualan entah mengapa. Tugas kuliahku juga semakin menumpuk,
skripsi ini skripsi itu. Aku ingin sekali memberikan Lee Seosangnim setumpuk
novel best seller karyaku dan dia akan tahu bahwa aku ini berbakat
dalam sastra. Aku juga sibuk mengedit foto, dan membuat scrapbook.
Untuk diriku sendiri" bahkan Kyungsoo tak tahu menahu satu pun tentang
semua itu.
"Oh ya, Oppa, kau harus baca
novelku. Aku ingin tahu penilaian darimu" dan kini Eunri menatap Kyungsoo
penuh harap.
"Baiklah" hanya itu yang
keluar dari mulut Kyungsoo. Tangannya bergerak, mengusak pelan rambut Eunri. Ia
rindu rasanya mengusak rambut gadisnya. Terutama …
"Oppa! Kau merusak poniku
tercinta!" merusak tatanan poni Eunri, dan Eunri akan cemberut. Kyungsoo
suka itu. karena menurutnya, gadis ini lucu. Dan satu lagi, Kyungsoo ingin
mengunci bibir itu sekarang. Dasar mesum-_-
"Lawan mainku seorang yeoja.
Dan ia cantik. Tapi satu hal kau harus ingat"
"Nani? [apa?]"
"Kaulah yang kumiliki, maka
itu jangan cemburu dengan apa yang tidak kumiliki" Eunri mengerti sastra.
Maka ia mengerti arti perkataan Kyungsoo.
"Aku mengerti konsekuensi
menjadi kekasih seorang yang terkenal. Terkadang aku ingin ia menjadi biasa
saja. Namun aku berpikir, jika ia biasa saja, mungkinkah kami bertemu? Tidak.
Kami tidak akan bertemu dan menjalin hubungan. Dengan itu aku bersyukur, karena
Dia telah menggoreskan takdir yang manis bagiku. Hitam yang digoreskanNya
diatas putih itu membuatku bahagia. Kareka dengan hitam itu aku bertemu
dengamu"
"Dan aku bersyukur menemukan
bunga yang paling sempurna diantara sekian banyak bunga yang
mengelilingiku"
"…"
"…"
Hening kembali menyelimuti mereka.
Debur ombak masih ada. Camar masih mengeluarkan nyanyiannya.
"Eunri-ya?" lagi,
Kyungsoo memanggil.
"Ne, Oppa?"
"Boleh aku jujur?"
"Aku lebih suka jujur"
"Aku tidak suka"
"Nani?"
"Aku tidak suka kau sibuk
dengan semua itu. Aku lebih suka Eunri-ku yang dulu, Eunri-ku yang selalu
datang ke dorm saat aku dapat break"
"Huh? Kalau begitu salahkan
penerbit, salahkan redaksi, dan salahkan Lee Seosangnim! Lantas,
aku harus berhenti dengan semua duniaku?"
"Bukan begitu"
"Kalau aku berhenti dengan
duniaku, aku juga berhenti darimu!"
"Eunri-ya?!" Kyungsoo
tidak menyangka akan keluar kalimat itu dari mulut Eunri.
Eunri berdiri. Tangannya terkepal
disamping tubuhnya. "J-jika itu maumu, aku – aku akan berhenti. Aku juga
a-akan behenti …" bahu Eunri bergetar. "Berhenti da-darimu … hiks"
dan kini ia terisak.
Kyungsoo terkejut. Ia ikut berdiri.
Sungguh bukan ini maksudnya, dan bukan ini juga maunya. "Aku …"
"DIAM! Kau – kau yang mau aku
… hiks … berhenti dengan – duniaku. Aku akan berhenti darimu
– denganmu. Karena kau … hiks … kau … kau juga du-duniaku
…" lirih Eunri, isakan demi isakan keluar dari bibirnya. Cairan bening
mengalir melalui dua pipinya membentuk dua buah sungai kecil.
Kyungsoo terkejut lagi. Ia tidak
tahu harus apa. Bibirnya terkatup. Bungkam.
Matahari mulai terbenam, semburat
merah dan jingga menghiasi kanvas besar milik Sang Pencipta. Eunri masih
terisak, dan Kyungsoo masih bungkam.
Gadis itu jatuh terduduk. Kakinya
lemas dan bahunya masih bergetar. Ia takut akan apa yang tadi dikatakannya. Ia
tak ingin berhenti dengan dunianya. Ia tak ingin berhenti dengan Kyungsoo-nya.
Kyungsoo berjongkok didepan gadis
yang entah masih menjadi gadisnya atau tidak. Ia tidak tahu. Kedua telapak
tangannya menangkup wajah Eunri. Perlahan mengusap kedua pipi gadis itu, takut
sewaktu-sewaktu hancur berkeping-keping. Sebuah nyanyian mengalun lembut dari
bibirnya …
"Baby don't cry tonight, eodumi
geochigo namyeon~ Baby don't cry tonight, eobseotdeon iri doel
geoya~ Mulgeopumi doeneum goeseun nega aniya~ kkeutnae mollaya haetdeon~ So
Baby don't cry~ cry~ nae sarangi neol jikil teni~"
Eunri terdiam. Namun matanya
terlanjur sembab dan memerah. Kyungsoo bernyanyi lembut tepat didepan wajahnya
dengan jarak yang cukup dekat. Dan suara Kyungsoo benar-benar terdengar jelas.
Dengan debur ombak sebagai musik latas yang alami.
"Oppa …?" ia tidak tahu
harus berkata apa.
"Jangan menangis. Jangan
berhenti dariku. Denganku. Jangan berhenti dengan duniamu. Karena bukan itu
maksudku. Aku hanya ingin kau mengurangi kesibukanmu. Dan baiklah, aku akan
menemui Lee Seosangnim-mu itu dan memarahinya karena memberi gadisku
setumpuk tugas"
"Kau serius?"
"Untuk yang Lee Seosagnim tidak"
"Eh? Doushite?
[kenapa?]"
"Aku tidak berani"
"Oppa! Baka
yarou! Baka baka baka!" tangan Eunri memukul dada
Kyungsoo. Kesal. Tentu saja. Kan kalau Kyungsoo benar-benar bicara dengan
dosennya itu, mungkin saja tugasnya dapat dikurangi.
"Ah! Mian! Changi, mianhae~"
kata Changi, akhirnya keluar lagi.
"Iie~! [tidak]"
Dan ini berakhir dengan mereka yang
berkejaran di pantai.
Bulan, debur ombak, camar, pasir
pantai, juga batu karang menjadi saksi bisu drama cinta mereka.
-The
End-
Note: Kepada para reader, dimohon komentarnya. Dan untuk mendukung author FF ini, harap sertakan kata ''LIKE" yang dipisah dengan sebuah enter pada komentar anda dan masukkan nama salah satu akun anda (twitter/Facebook/email) untuk menunjukkan bahwa tidak adanya pengulangan komentar dukukungan. Para author boleh mendukung FFnya sendiri ataupun FF peserta lain :)
Terimakasih :))
Contoh :
Dari: Rbroseff@gmail.com (jika menggunakan email. Akun FB/Twitter dimasukkan jika berkomentar sebagai Anonymous)
Isi komentar:
Like
Saya suka FF ini. Keren. Semangat ya, semoga menang :)))
1 komentar:
Like
Bagus, lucu thor. Terimakasih :))
Posting Komentar