Simpan template dan lihatl Red Bubble Rose: Bad Love Story Part 2

Senin, 16 Juni 2014

Bad Love Story Part 2


Bad Love Story

Judul                : Bad Love Story
Authror            : Shinshin/ RBRose(s)
Genre               : Romance
Main Cast        : Kim Jongin, Kim Junmyeon, Oh Sehun and others {Exo}
                                     Ahn Shinyeon, Lee Gyorin, etc {Oc}
Length             :  Part 2 ( part 1 )
.
.
Aku akan gila bila kehilanganmu,
Dibanding kehilangan harga diriku..
.
.
Kaki jenjang Shinyeon berlarian menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Matanya sibuk mencari nomor kamar tempat Sehun dirawat. Terakhir kali ia berlari seperti ini karena mendapat berita jika Sehun kecelakaan. Tapi sekarang, kabar bahagia yang akhirnya ia dapatkan.

“Nona Shinyeon, anda datang tepat waktu. Lihatlah, tangan tuan Sehun sedikit bergerak.” Sambut dokter Jong. Dari penampilannya, Shinyeon bisa menilai bahwa umur dokter ini sudah lebih dari 45 tahun.

“Ye, gamsahamnida.”

“Dia masih belum sadar dan membuka matanya, tapi dia bisa mendengar apa yang kita katakan. Trauma paska kecelakaan, itu penyebabnya.” Jelas dokter Jong lagi.

“Berapa lama untuk menunggunya sadar, Dok?”

“Mungkin butuh waktu sekitar 2 atau 3 bulan.Tapi, itu masih prediksi sementara.”

“Apa tidak bisa lebih cepat disembuhkan, Dok?” Shinyeon benar-benar tidak sabar menunggu Sehun sadar. Ia benar-benar merindukan sosok Sehun yang terkadang bersikap menyebalkan baginya.

“Untuk saat ini kita hanya bisa berdoa dan berharap agar ia membuka matanya lebih cepat.” Ucap dokter Jong.

“Ye, aku mengerti, Dok.”

 “Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Ada beberapa hal yang harus dikerjakan.” Sambungnya lagi.

Selepas perginya dokter Jong dan suster-suster tadi, Shinyeon langsung meraih kursi disamping ranjang Sehun dan menariknya, hingga posisinya benar-benar didekat Sehun.

“Sehunnie, aku merindukanmu.” Shinyeon menggenggam tangan besar Sehun.

“Kau tau? Aku melakukan hal yang benar-benar tidak pernah kuduga, beberapa hari ini. Aku benar-benar kacau tanpamu, Sehunnie.” Tanpa disadarinya, air mata Shinyeon turun membasahi wajah cantiknya itu.
“Jeongmal bogoshippeo… Cepatlah bangun, Sehunnie.” Shinyeon mengusap air matanya. Segera diambilnya handphonenya yang sedari tadi berdering. Ia cukup kesal karena merasa terganggu. Meskipun begitu ia tetap mengangkatnya.

Suho Oppa, mau apa lagi dia? Shinyeon mengangkat telponnya dengan terpaksa.

“Wae? Bukankah sudah kubilang aku menjenguk Sehun siang ini. Apa kau tidak bisa berhenti menggangguku, eo? ” Ucap Shinyeon, jelas sekali ia ingin segera mengakhiri telpon itu.

“Aigo, bukankah aku sudah mengingatkanmu untuk memanggilku dengan sebutan oppa, apa kau lupa, eo?” jawab Suho dari sebrang sana. Entah dia memang tidak tahu atau dia memang tidak mempedulikan suara Shinyeon yang terdengar tidak suka menerima telponnya.

“Ne, arraseo. Kalau kau menelponku hanya untuk mengatakan itu, aku matikan telponnya sekarang.” Balas Shinyeon, oh ayolah, semalaman ia membiarkan Sehun sendirian dirumah sakit lalu mengapa saat ini harus orang itu yang mengganggunya.

“Ada hal penting yang ingin aku katakan.” Ucap Suho yang dibalas desisan kesal dari Shinyeon.

“30 menit lagi temui aku. Akan kuberi tahu tempatnya nanti. Bersiap-siaplah.”

Plip..

Suho memutuskan sambungan telponnya.

“Aku tidak percaya pernah jatuh cinta pada pria seperti itu.” Komentar Shinyeon seraya beranjak dari tempat duduknya.

“Sehunnie, aku pergi dulu. Kau baik-baik disini, ya.” Shinyeon mencium pipi kiri Sehun. Lama, cukup lama. Seperti yang dikatakannya, ia benar-benar merindukan pria itu.

“Annyeong.” Ucapnya tepat sebelum menutup pintu kamar rawat Sehun.


~~∞ő∞~~


“Mwo?” Pekik Chanyeol, terkejut mendengar penjelasan Kai barusan.

“Ya! Jangan berteriak sekencang itu. Ini tempat umum.” Kai menutupi wajahnya dengan buku menu yang terletak diatas meja, malu akan sikap Chanyeol barusan.

“D.O-ya, kau tidak terkejut?”  Kini pandangan mata Chanyeol tertuju pada sahabatnya yang hanya diam tidak memberikan reaksi apapun yang berarti.

“Untuk apa? Bukankah Kai telah membentuk image layaknya bad boy sejak dulu? jadi aku rasa, berlebihan kalau aku terkejut mendengarnya.” D.O meraih jusnya yang ada diatas meja tanpa mempedulikan tatapan heran Chanyeol.

“Ya! Aku tidak mungkin melakukannya. Seseorang pasti menjebakku.” Ucap Kai membela diri.

“Lalu, apa yang harus kami lakukan?” Tanya Chanyeol lagi.

“Entahlah, aku tidak tau.” Jawab Kai. Hening menyelimuti suasana mereka kali ini. Setiap orang sibuk dengan pikirannya masing-masing.

“Nikahi gadis itu.” Kata-kata D.O barusan lantas membuat kedua sahabatnya, Kai dan Chanyeol membelalakkan matanya.

“Apa kau gila? Aku tidak mungkin menikahinya, bagaimana dengan Gyorin nanti?” Kai menolak mentah-mentah saran D.O.

“Ya! Kyungsoo-ya, apa kau tidak bisa memberikan saran lain?” Ujar Chanyeol, terlihat sekali kalau ia tidak sependapat dengan D.O.

D.O melirik jam tangannya, “ Sekarang pukul 1 lebih 20 menit. Itu berarti kalian telah membuang-buang waktuku selama satu jam. Kalau kalian tidak ingin mendengar saranku, lebih baik aku pulang. Banyak pesanan kue yang harus aku selesaikan.” D.O merapihkan kembali kemejanya yang terlihat kusut lantas berdiri untuk meninggalkan kedua sahabatnya itu.

“Ani, ani, bukan itu maksudku.” Chanyeol meraih lengan D.O dengan maksud memintanya untuk duduk kembali.

“Ayolah, aku meminta kalian kesini untuk membantuku menyelesaikan masalah ini.” Ucap Kai yang melihat tingkah D.O dan Chanyeol.

“Arraseo. Tidakkah kau lihat kami sedang berpikir, eo? Tapi, Kai-ah apa mungkin ini ulah hyung-mu?” Chanyeol mulai terlihat serius.

“Maksudmu?”

“Bukankah kau bilang bahwa kakekmu meminta kalian bersaing untuk mendapatkan saham perusahaan terbesar? Apa kau tidak berpikir bahwa hyung-mu itu mungkin melakukan ini padamu?” Sambung Chanyeol lagi.

“Ya! Jangan mengatakan yang tidak-tidak. Hyung-ku tidak mungkin melakukan itu.” Kai melipat kedua tangannya didepan dada, kebiasaannya kalau sedang berpikir.

“Tapi kalau memang dia yang melakukannya, kau harus berhati-hati Kai-ah.” D.O yang tadi hanya diam mendengarkan, kini angkat bicara.

“Ne, akan kupikirkan.”

~~∞ő∞~~


Shinyeon melirik jam tangan putihnya, sudah 1 jam ia menemani Suho disini.

“Hal penting apa yang ingin kau katakan padaku?” Tanya Shinyeon yang melihat Suho tidak membicarakan hal apapun sedari tadi dan hanya sibuk menyantap makan siangnya.

“Makanlah dulu, aku sudah memesannya. Itu makanan kesukaanmu, kan?” Suho menunjuk kearah steak daging sapi yang terletak dihadapan Shinyeon. Ya, kali ini Suho mengajaknya kesalah satu restoran di Kota Seoul.

“Apa tujuanmu hanya untuk makan siang denganku?” Sinis Shinyeon yang tidak disahut sama sekali oleh Suho.

“Kim Junmyeon-ssi, kalau kau masih berharap padaku, aku harap kau segera melupakan niatanmu itu. Karena pada nyatanya aku sudah tidak menyukaimu lagi.” Ucapan Shinyeon kali ini menghentikan kegiatan Suho yang sibuk dengan makanannya. Ia meletakkan sendok dan pisau makannya dengan kasar diatas piring. Ah, Shinyeon benar-benar merusak nafsu makannya .

“Ambil makanan ini.” Ucap Suho memerintahkan pelayan restoran untuk merapikan meja. Untung saja ia memesan ruang makan VIP. Kalau tidak, mungkin mereka akan menjadi tontonan yang menarik bagi pengunjung restoran lainnya.

Suho mengeluarkan sebuah amplop putih dari jasnya. “Ini, tunjukkan surat ini pada Kai. Temui dia dikantornya.”

“Apa ini?” Shinyeon meraih amplop putih yang diberikan Suho padanya.

“Itu surat kehamilan palsu. Katakan padanya bahwa kau hamil. Hubungi aku setelah kau memberikan surat itu padanya.” Setelah mengatakan itu ia segera beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Shinyeon begitu saja tanpa berpamitan. Dari tingkahnya Shinyeon mengerti Suho sedang marah saat ini. Tapi, apa pedulinya?

~~∞ő∞~~


Shinyeon melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Ya, dia memang selalu seperti itu, apalagi saat ini jalanan Kota Seoul cukup sepi. Beruntung karena sekarang tidak ada polisi yang berjaga.

Cukup 30 menit bagi Shinyeon untuk sampai kekantor cabang Kim Corp yang dipegang Kai. Waktu yang singkat, jika dibandingkan dengan pengendara lainnya yang membutuhkan waktu sekitar lebih dari 1 jam.

Ia melangkahkan kakinya dengan percaya diri. Beberapa karyawan kelas bawah  yang pernah melihatnya –Karena ia sekretaris Suho dan sering bolak-balik perusahaan untuk keperluan berbisnis- menundukkan kepalanya hormat karena pangkatnya sebagai sekretaris direktur satu perusahaan Kim Corp cabang yang dipegang Suho, lebih tinggi.

“Apa Kai sajangnim ada?” Tanyanya pada karyawan wanita yang memang bertugas didepan ruangan Kai.

“Maaf nona, tapi tuan Kai sedang keluar saat ini. Ada perlu apa?” Tanya wanita itu sopan.

“Ada hal penting dari Suho sajangnim yang harus aku sampaikan langsung. Aku akan menunggunya.” Ucap Shinyeon, ia melangkahkan kakinya menuju sofa terdekat dengan ruangan Kai.

Beberapa menit kemudian Kai beserta sekretarisnya, Byun Baekhyun, tiba. Kai terkejut melihat Shinyeon yang berada dikantornya.

“Ada apa?” Tanya Kai.

“Apa aku perlu mengatakannya disini?” jawab Shinyeon.

“Baiklah, aku mengerti. Silahkan masuk. Sekretaris Byun, bisa biarkan kami berdua?” Tanya Kai yang dihadiahi tatapan sedikit curiga dari Baekhyun.

“Ada hal penting yang ingin disampaikan Suho hyung lewat sekretarisnya.” Ralat Kai.

“Ye, sajangnim.” Jawab Baekhyun tanpa banyak protes.

Shinyeon mengikuti langkah Kai dari belakang.

“Silahkan duduk.” Ucap Kai. Dari pandangannya, jelas sekali ia tidak suka akan kehadiran Shinyeon dikantornya.

“Ruanganmu cukup berkelas.” Komentar Shinyeon basa-basi.

“Apa yang ingin kau katakan?” Kai melipat kedua tangannya.

“Kau bahkan tidak membuatkanku minuman. Ini, aku hanya akan memberikan ini.” Shinyeon menyerahkan amplop putih yang diterimanya dari Suho tadi.

“Apa itu?” Tanya Kai.

“Kau akan mengetahuinya setelah kau melihatnya.” Balas Shinyeon.

Kai membukanya ragu. Shock??? Mungkin itu kata terpantas untuk menggambarkan keadaan Kai ketika membaca isi amplop itu.

“Bohong ini tidak mungkin.” Kai tertawa kecut. “kau bohong Shinyeon-ssi.”

“Setelah kejadian tadi pagi, aku langsung memeriksakan kondisiku. Dan, itu hasilnya.” Ucap Shinyeon tanpa ragu-ragu. Ia benar-benar berharap Kai percaya kali ini. Jujur saja, ia sudah lelah untuk terus-menerus merangkai kata kebohongan seperti ini, meskipun ini masih tahap awal permainan Suho.

“Cih, omong kosong!.” Kai menunjukkan senyum kecutnya.

“Kau pengecut Kai, kau benar-benar orang yang tidak bertanggung jawab.”

“Apa Suho hyung yang memintamu melakukan ini? Katakan berapa uang yang dibayarnya, aku akan membayarmu lebih, tapi pergi dan bawa semua omong kosong ini.” Jawab Kai.

Plakk,…

Satu tamparan telak mendarat tepat dipipi Kai. Ia memegangi pipinya yang kini terasa sakit. Sepertinya Shinyeon melakukan pukulan terbaiknya.

“Kau benar-benar pengecut Kai! Tidak perlu membawa-bawa nama hyungmu itu. Ini murni kesalahanmu dan kecerobohanku yang membiarkanmu mengancamku demi melakukan nafsu gilamu itu!” Kini ketegangan memenuhi ruang kerja Kai itu.

“Terserah apa yang akan kau katakan. Jangan salahkan aku kalau berita kehamilanku akan menyebar dan merusak karirmu.” Shinyeon melangkahkan kakinya keluar ruang kerja Kai. Tanpa ia sadari semua mata para karyawan menatapnya bingung.

Tak sedikit dari mereka berpikir yang tidak-tidak. Bahkan ada yang berpikir bahwa Kai berusaha menyuap Shinyeon agar berkhianat terhadap Suho tetapi ditolak mentah-mentah dan berbagai pendapat lain. Ya, semua karyawan tau bahwa Kai dan Suho memang sedang bersaing besar-besaran. Semua ini adalah ulah kakek mereka, Kim Myunseok yang beranggapan jika seluruh karyawan tahu maka mereka bisa memilih siapa calon pemegang perusahaan pusat sesuai dengan pilihan mereka meskipun mereka tidak memilih direktur mereka sendiri, berkhianat lebih tepatnya.

~~∞ő∞~~


Kai mengerang frustasi diruang kerjanya. Jam telah menunjukkan pukul 12 malam, tapi ia belum pulang kerumah. Kehadiran Shinyeon tadi siang dikantornya masih mengganggu pikirannya. Tidak dipedulikannya handphonennya yang terus-menerus berdering. Bahkan ia tidak mempedulikan sekretarisnya yang sedang menunggunya khawatir diluar.

Dokumen kerja yang harusnya telah ditandatanganinya masih menumpuk diatas meja, begitupula rapat yang seharusnya dihadirinya tadi, semua ditunda untuk seminggu kedepan. Ia bisa membayangkan bagaimana wajah kecewa yang ditunjukkan para klientnya tadi. Dan tidak dipungkiri, mungkin salah satu investornya akan menarik modal-modalnya kembali.

Ia tidak ingin pulang, belum siap tepatnya. Ia tidak tahu apa yang akan dikatakannya pada kakek sekaligus bos besarnya itu. Berbagai prasangka buruk memenuhi kepalanya. Bagaimana kalau Shinyeon benar-benar menyebarkan berita bohong itu? Bagaimana kalau...

“AAAAAAAAAAAAAAARG!” Kai benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Handphonenya berdering kembali. Tapi, kali ini yang menghubunginya bukan Gyorin ataupun Baekhyun, tetapi orang yang sangat dihindarinya, Kim Myunseok, kakeknya.

“Kim Jongin, dimana kau?”

Degg, ‘Kim Jongin’ kakeknya memanggilnya dengan nama itu. Ah, itu pertanda buruk baginya.

“Aku masih dikantor, Kek.” Jawabnya, sedikit bergetar.

“Apa tugasmu begitu banyak sehingga lupa untuk kembali kerumah?” Tanya Kakeknya, atau lebih tepatnya sindiran.

“Aku akan pulang beberapa jam lagi.” Jujur saja, Kai sama sekali tidak suka diatur-atur seperti ini. Ayolah, dia bukan anak kecil lagi.

“Aku tunggu dalam waktu 30 menit. Aku tidak ingin melihatmu datang terlambat.”

Plip, telpon diputuskan begitu saja dari sana. Dia benar-benar frustasi, mengapa hari ini kesialan bertubi-tubi menghampirinya??? Beruntung karena Gyorin sedang membantu ayahnya dirumah sakit. Kalau tidak, mungkin ia akan melihat betapa kacaunya keadaan Kai saat ini.

“Ya Tuhan, tolong aku kali ini.” Doa Kai dalam hati.

~~∞ő∞~~


Sebuah mobil sport putih tiba dihalaman rumah yang bisa dibilang, salah satu dari sedikit rumah termewah di Seoul, yang bahkan desainya didesain sendiri. Kai turun dari mobilnya, Diserahkannya kunci mobilnya itu pada salah satu pelayan yang menyambutnya didepan pintu.

Ia membasuh wajahnya terlebih dahulu sebelum memasuki rumah untuk menemui kakeknya. Ia tau kakeknya tidak menyukai penampilan yang berantakan, meskipun itu adalah cucunya.

“Tuan muda, anda ditunggu diruang kerja Tuan besar.” Seorang pelayan memberitahu Kai.

“Ne, arraseo.” Kai berlalu begitu saja.

Diketuknya pintu ruangan besar dihadapannya. Tidak ada sahutan, tapi ia yakin kakeknya ada didalam.

“Selamat malam, araboji.” Ucap Kai sopan seraya membungkukkan badannya pertanda hormat.

“Kau sudah datang?” Myunseok meletakkan buku yang dibacanya.

“Ye, araboji.”

“Apa kau bisa menjelaskan ini?” Myunseok mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat dari laci mejanya.

“Seseorang mengirimiku foto-foto itu.” Sambung Myunseok melihat Kai sedang memperhatikan satu persatu foto-foto yang memperlihatkan dirinya sedang merangkul seorang gadis menuju kedalam hotel.

“Aku tidak melakukan apapun, araboji.” Jawab Kai.

“Lalu jelaskan surat diamplop putih itu.”

Lagi, Kai melihatnya lagi. Amplop putih yang diberikan Shinyeon padanya tadi pagi. Gadis itu, dia benar-benar serius atas ucapannya.

“Bodoh!” ucap Myunseok tiba-tiba. Kai tidak terlalu terkejut mendengarnya. Kata yang paling buruk didunia pun bisa keluar dari mulut orang seperti kakeknya bila ia sedang marah.

“Kau melakukan kesalahan yang fatal Kai. Apa kau ingin membuat malu nama perusahaan kita?!” Ucap kakeknya, lagi terderngar lebih seperti bentakan.

“Aku benar-benar tidak melakukan apapun, araboji.” Jelas Kai.

“Membatalkan seluruh rapat dan mengabaikan dokumen-dokumen penting yang seharusnya menjadi tanggung jawabmu, benar-benar mengecewakan. Ya, kau memang tidak melakukan apapun.”

“Ani, bukan itu maksudku-”

 “DIAM!” Bentak kakeknya yang spontan membuat Kai berhenti bicara.

“Bawa gadis itu kemari. Buat dia tinggal bersamamu.”

“Mwo?” Kai menatap Kakeknya tak percaya, bukankah Myunseok sudah tau kalau Kai mencintai Gyorin?

“Gadis itu berbahaya. Kalau sampai citramu menjadi benar-benar buruk, kemungkinan besar investor akan menarik sahamnya. Dengan tinggal bersamamu, dia akan lebih mudah diawasi.”

Kai tau, jika kakeknya sudah berkata seperti itu, tidak ada yang bisa ia lakukan lagi. Tapi, apa yang akan terjadi dengan Gyorin kalau ia sampai mengetahui hal ini?

“Tapi, aku mencintai Gyorin.” Ucap Kai, ia menundukkan kepalanya.

“Bodoh! Kau masih mementingkan perasaanmu dalam keadaan segenting ini? Lakukan apa yang kuperintahkan!” Kini raut wajah Myunseok benar-benar mengerikan.

Kau telah melakukan hal yang salah Kai, lihatlah kakekmu benar-benar seperti monster yang kehilangan makan malamnya.” Rutuk Kai dalam hati.

“Arraseo, araboji.” Kai meninggalkan ruang kakenya itu dengan wajah yang tertunduk lesu. Apa yang diperintahkan kakeknya barusan benar-benar ujian yang berat untuknya, “nikahi gadis itu kalau perlu. Apapun, lakuakan segala cara untuk membuat gadis itu bungkam. Aku tidak ingin kehilangan investorku.”

Kakeknya benar-benar kejam. Bagaimana mungkin ia menikahi gadis yang telah menjadi perusak hidupnya itu. Bayangan Gyorin kembali memenuhi kepalanya, lalu lambat laun dikacaukan dengan ingatan kejadian tadi pagi.

“AAAARGH!” Kai melempar beberapa buku yang tersusun rapi diatas meja kamarnya. Lalu beralih kearah mejanya yang lain dan kembali melempar barang-barang yang terletak diatasnya. Pikirannya sedang buruk saat ini, benar-benar kacau.


“Ahn Shinyeon, kau telah mencari gara-gara denganku.”

************************************************************************

Yay! Alhamdulillah part 2-nya selesai :)) sebenernya udah lama sih dan ini dipos dibeberapa grup FB sama saya :))) Jangan lupa komen + likenya ya reader :)))) Berharap banget bukan silent reader ( habisnya liat jumlah pengunjung ratusan tapi yang komen cuma dikit) :))))

0 komentar:

Posting Komentar