Bad Love Story
Judul : Bad Love Story
Authror : Shinshin/ RBRose(s)
Genre : Romance
Main
Cast : Kim Jongin, Kim Junmyeon, Oh
Sehun and others {Exo}
Ahn Shinyeon, Lee Gyorin, etc {Oc}
Length : Part 2 ( part 1 )
.
Aku akan gila bila
kehilanganmu,
Dibanding kehilangan
harga diriku..
.
.
Kaki
jenjang Shinyeon berlarian menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Matanya sibuk
mencari nomor kamar tempat Sehun dirawat. Terakhir kali ia berlari seperti ini
karena mendapat berita jika Sehun kecelakaan. Tapi sekarang, kabar bahagia yang
akhirnya ia dapatkan.
“Nona
Shinyeon, anda datang tepat waktu. Lihatlah, tangan tuan Sehun sedikit
bergerak.” Sambut dokter Jong. Dari penampilannya, Shinyeon bisa menilai bahwa
umur dokter ini sudah lebih dari 45 tahun.
“Ye,
gamsahamnida.”
“Dia
masih belum sadar dan membuka matanya, tapi dia bisa mendengar apa yang kita
katakan. Trauma paska kecelakaan, itu penyebabnya.” Jelas dokter Jong lagi.
“Berapa
lama untuk menunggunya sadar, Dok?”
“Mungkin
butuh waktu sekitar 2 atau 3 bulan.Tapi, itu masih prediksi sementara.”
“Apa
tidak bisa lebih cepat disembuhkan, Dok?” Shinyeon benar-benar tidak sabar
menunggu Sehun sadar. Ia benar-benar merindukan sosok Sehun yang terkadang
bersikap menyebalkan baginya.
“Untuk
saat ini kita hanya bisa berdoa dan berharap agar ia membuka matanya lebih
cepat.” Ucap dokter Jong.
“Ye,
aku mengerti, Dok.”
“Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Ada
beberapa hal yang harus dikerjakan.” Sambungnya lagi.
Selepas
perginya dokter Jong dan suster-suster tadi, Shinyeon langsung meraih kursi
disamping ranjang Sehun dan menariknya, hingga posisinya benar-benar didekat
Sehun.
“Sehunnie,
aku merindukanmu.” Shinyeon menggenggam tangan besar Sehun.
“Kau
tau? Aku melakukan hal yang benar-benar tidak pernah kuduga, beberapa hari ini.
Aku benar-benar kacau tanpamu, Sehunnie.” Tanpa disadarinya, air mata Shinyeon
turun membasahi wajah cantiknya itu.
“Jeongmal
bogoshippeo… Cepatlah bangun, Sehunnie.” Shinyeon mengusap air matanya. Segera
diambilnya handphonenya yang sedari tadi berdering. Ia cukup kesal karena
merasa terganggu. Meskipun begitu ia tetap mengangkatnya.
Suho
Oppa, mau apa lagi dia? Shinyeon mengangkat telponnya dengan terpaksa.
“Wae?
Bukankah sudah kubilang aku menjenguk Sehun siang ini. Apa kau tidak bisa
berhenti menggangguku, eo? ” Ucap Shinyeon, jelas sekali ia ingin segera
mengakhiri telpon itu.
“Aigo,
bukankah aku sudah mengingatkanmu untuk memanggilku dengan sebutan oppa, apa
kau lupa, eo?” jawab Suho dari sebrang sana. Entah dia memang tidak tahu atau
dia memang tidak mempedulikan suara Shinyeon yang terdengar tidak suka menerima
telponnya.
“Ne,
arraseo. Kalau kau menelponku hanya untuk mengatakan itu, aku matikan telponnya
sekarang.” Balas Shinyeon, oh ayolah, semalaman ia membiarkan Sehun sendirian
dirumah sakit lalu mengapa saat ini harus orang itu yang mengganggunya.
“Ada
hal penting yang ingin aku katakan.” Ucap Suho yang dibalas desisan kesal dari
Shinyeon.
“30
menit lagi temui aku. Akan kuberi tahu tempatnya nanti. Bersiap-siaplah.”
Plip..
Suho
memutuskan sambungan telponnya.
“Aku
tidak percaya pernah jatuh cinta pada pria seperti itu.” Komentar Shinyeon
seraya beranjak dari tempat duduknya.
“Sehunnie,
aku pergi dulu. Kau baik-baik disini, ya.” Shinyeon mencium pipi kiri Sehun.
Lama, cukup lama. Seperti yang dikatakannya, ia benar-benar merindukan pria
itu.
~~∞ő∞~~
“Mwo?”
Pekik Chanyeol, terkejut mendengar penjelasan Kai barusan.
“Ya!
Jangan berteriak sekencang itu. Ini tempat umum.” Kai menutupi wajahnya dengan
buku menu yang terletak diatas meja, malu akan sikap Chanyeol barusan.
“D.O-ya,
kau tidak terkejut?” Kini pandangan mata
Chanyeol tertuju pada sahabatnya yang hanya diam tidak memberikan reaksi apapun
yang berarti.
“Untuk
apa? Bukankah Kai telah membentuk image layaknya bad boy sejak dulu? jadi aku
rasa, berlebihan kalau aku terkejut mendengarnya.” D.O meraih jusnya yang ada
diatas meja tanpa mempedulikan tatapan heran Chanyeol.
“Ya!
Aku tidak mungkin melakukannya. Seseorang pasti menjebakku.” Ucap Kai membela
diri.
“Lalu,
apa yang harus kami lakukan?” Tanya Chanyeol lagi.
“Entahlah,
aku tidak tau.” Jawab Kai. Hening menyelimuti suasana mereka kali ini. Setiap
orang sibuk dengan pikirannya masing-masing.
“Nikahi
gadis itu.” Kata-kata D.O barusan lantas membuat kedua sahabatnya, Kai dan
Chanyeol membelalakkan matanya.
“Apa
kau gila? Aku tidak mungkin menikahinya, bagaimana dengan Gyorin nanti?” Kai
menolak mentah-mentah saran D.O.
“Ya!
Kyungsoo-ya, apa kau tidak bisa memberikan saran lain?” Ujar Chanyeol, terlihat
sekali kalau ia tidak sependapat dengan D.O.
D.O
melirik jam tangannya, “ Sekarang pukul 1 lebih 20 menit. Itu berarti kalian
telah membuang-buang waktuku selama satu jam. Kalau kalian tidak ingin
mendengar saranku, lebih baik aku pulang. Banyak pesanan kue yang harus aku
selesaikan.” D.O merapihkan kembali kemejanya yang terlihat kusut lantas
berdiri untuk meninggalkan kedua sahabatnya itu.
“Ani,
ani, bukan itu maksudku.” Chanyeol meraih lengan D.O dengan maksud memintanya
untuk duduk kembali.
“Ayolah,
aku meminta kalian kesini untuk membantuku menyelesaikan masalah ini.” Ucap Kai
yang melihat tingkah D.O dan Chanyeol.
“Arraseo.
Tidakkah kau lihat kami sedang berpikir, eo? Tapi, Kai-ah apa mungkin ini ulah
hyung-mu?” Chanyeol mulai terlihat serius.
“Maksudmu?”
“Bukankah
kau bilang bahwa kakekmu meminta kalian bersaing untuk mendapatkan saham
perusahaan terbesar? Apa kau tidak berpikir bahwa hyung-mu itu mungkin melakukan
ini padamu?” Sambung Chanyeol lagi.
“Ya!
Jangan mengatakan yang tidak-tidak. Hyung-ku tidak mungkin melakukan itu.” Kai
melipat kedua tangannya didepan dada, kebiasaannya kalau sedang berpikir.
“Tapi
kalau memang dia yang melakukannya, kau harus berhati-hati Kai-ah.” D.O yang
tadi hanya diam mendengarkan, kini angkat bicara.
“Ne,
akan kupikirkan.”
~~∞ő∞~~
Shinyeon
melirik jam tangan putihnya, sudah 1 jam ia menemani Suho disini.
“Hal
penting apa yang ingin kau katakan padaku?” Tanya Shinyeon yang melihat Suho
tidak membicarakan hal apapun sedari tadi dan hanya sibuk menyantap makan
siangnya.
“Makanlah
dulu, aku sudah memesannya. Itu makanan kesukaanmu, kan?” Suho menunjuk kearah
steak daging sapi yang terletak dihadapan Shinyeon. Ya, kali ini Suho
mengajaknya kesalah satu restoran di Kota Seoul.
“Apa
tujuanmu hanya untuk makan siang denganku?” Sinis Shinyeon yang tidak disahut
sama sekali oleh Suho.
“Kim
Junmyeon-ssi, kalau kau masih berharap padaku, aku harap kau segera melupakan
niatanmu itu. Karena pada nyatanya aku sudah tidak menyukaimu lagi.” Ucapan
Shinyeon kali ini menghentikan kegiatan Suho yang sibuk dengan makanannya. Ia
meletakkan sendok dan pisau makannya dengan kasar diatas piring. Ah, Shinyeon benar-benar
merusak nafsu makannya .
“Ambil
makanan ini.” Ucap Suho memerintahkan pelayan restoran untuk merapikan meja.
Untung saja ia memesan ruang makan VIP. Kalau tidak, mungkin mereka akan
menjadi tontonan yang menarik bagi pengunjung restoran lainnya.
Suho
mengeluarkan sebuah amplop putih dari jasnya. “Ini, tunjukkan surat ini pada
Kai. Temui dia dikantornya.”
“Apa
ini?” Shinyeon meraih amplop putih yang diberikan Suho padanya.
“Itu
surat kehamilan palsu. Katakan padanya bahwa kau hamil. Hubungi aku setelah kau
memberikan surat itu padanya.” Setelah mengatakan itu ia segera beranjak dari
tempat duduknya, meninggalkan Shinyeon begitu saja tanpa berpamitan. Dari
tingkahnya Shinyeon mengerti Suho sedang marah saat ini. Tapi, apa pedulinya?
~~∞ő∞~~
Shinyeon
melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Ya, dia memang selalu
seperti itu, apalagi saat ini jalanan Kota Seoul cukup sepi. Beruntung karena
sekarang tidak ada polisi yang berjaga.
Cukup
30 menit bagi Shinyeon untuk sampai kekantor cabang Kim Corp yang dipegang Kai.
Waktu yang singkat, jika dibandingkan dengan pengendara lainnya yang
membutuhkan waktu sekitar lebih dari 1 jam.
Ia
melangkahkan kakinya dengan percaya diri. Beberapa karyawan kelas bawah yang pernah melihatnya –Karena ia sekretaris
Suho dan sering bolak-balik perusahaan untuk keperluan berbisnis- menundukkan
kepalanya hormat karena pangkatnya sebagai sekretaris direktur satu perusahaan
Kim Corp cabang yang dipegang Suho, lebih tinggi.
“Apa
Kai sajangnim ada?” Tanyanya pada karyawan wanita yang memang bertugas didepan
ruangan Kai.
“Maaf
nona, tapi tuan Kai sedang keluar saat ini. Ada perlu apa?” Tanya wanita itu
sopan.
“Ada
hal penting dari Suho sajangnim yang harus aku sampaikan langsung. Aku akan
menunggunya.” Ucap Shinyeon, ia melangkahkan kakinya menuju sofa terdekat
dengan ruangan Kai.
Beberapa
menit kemudian Kai beserta sekretarisnya, Byun Baekhyun, tiba. Kai terkejut
melihat Shinyeon yang berada dikantornya.
“Ada
apa?” Tanya Kai.
“Apa
aku perlu mengatakannya disini?” jawab Shinyeon.
“Baiklah,
aku mengerti. Silahkan masuk. Sekretaris Byun, bisa biarkan kami berdua?” Tanya
Kai yang dihadiahi tatapan sedikit curiga dari Baekhyun.
“Ada
hal penting yang ingin disampaikan Suho hyung lewat sekretarisnya.” Ralat Kai.
“Ye,
sajangnim.” Jawab Baekhyun tanpa banyak protes.
Shinyeon
mengikuti langkah Kai dari belakang.
“Silahkan
duduk.” Ucap Kai. Dari pandangannya, jelas sekali ia tidak suka akan kehadiran
Shinyeon dikantornya.
“Ruanganmu
cukup berkelas.” Komentar Shinyeon basa-basi.
“Apa
yang ingin kau katakan?” Kai melipat kedua tangannya.
“Kau
bahkan tidak membuatkanku minuman. Ini, aku hanya akan memberikan ini.”
Shinyeon menyerahkan amplop putih yang diterimanya dari Suho tadi.
“Apa
itu?” Tanya Kai.
“Kau
akan mengetahuinya setelah kau melihatnya.” Balas Shinyeon.
Kai
membukanya ragu. Shock??? Mungkin itu kata terpantas untuk menggambarkan
keadaan Kai ketika membaca isi amplop itu.
“Bohong
ini tidak mungkin.” Kai tertawa kecut. “kau bohong Shinyeon-ssi.”
“Setelah
kejadian tadi pagi, aku langsung memeriksakan kondisiku. Dan, itu hasilnya.”
Ucap Shinyeon tanpa ragu-ragu. Ia benar-benar berharap Kai percaya kali ini.
Jujur saja, ia sudah lelah untuk terus-menerus merangkai kata kebohongan
seperti ini, meskipun ini masih tahap awal permainan Suho.
“Cih,
omong kosong!.” Kai menunjukkan senyum kecutnya.
“Kau
pengecut Kai, kau benar-benar orang yang tidak bertanggung jawab.”
“Apa
Suho hyung yang memintamu melakukan ini? Katakan berapa uang yang dibayarnya,
aku akan membayarmu lebih, tapi pergi dan bawa semua omong kosong ini.” Jawab
Kai.
Plakk,…
Satu
tamparan telak mendarat tepat dipipi Kai. Ia memegangi pipinya yang kini terasa
sakit. Sepertinya Shinyeon melakukan pukulan terbaiknya.
“Kau
benar-benar pengecut Kai! Tidak perlu membawa-bawa nama hyungmu itu. Ini murni
kesalahanmu dan kecerobohanku yang membiarkanmu mengancamku demi melakukan
nafsu gilamu itu!” Kini ketegangan memenuhi ruang kerja Kai itu.
“Terserah
apa yang akan kau katakan. Jangan salahkan aku kalau berita kehamilanku akan
menyebar dan merusak karirmu.” Shinyeon melangkahkan kakinya keluar ruang kerja
Kai. Tanpa ia sadari semua mata para karyawan menatapnya bingung.
Tak
sedikit dari mereka berpikir yang tidak-tidak. Bahkan ada yang berpikir bahwa
Kai berusaha menyuap Shinyeon agar berkhianat terhadap Suho tetapi ditolak
mentah-mentah dan berbagai pendapat lain. Ya, semua karyawan tau bahwa Kai dan
Suho memang sedang bersaing besar-besaran. Semua ini adalah ulah kakek mereka,
Kim Myunseok yang beranggapan jika seluruh karyawan tahu maka mereka bisa
memilih siapa calon pemegang perusahaan pusat sesuai dengan pilihan mereka
meskipun mereka tidak memilih direktur mereka sendiri, berkhianat lebih
tepatnya.
~~∞ő∞~~
Kai
mengerang frustasi diruang kerjanya. Jam telah menunjukkan pukul 12 malam, tapi
ia belum pulang kerumah. Kehadiran Shinyeon tadi siang dikantornya masih
mengganggu pikirannya. Tidak dipedulikannya handphonennya yang terus-menerus
berdering. Bahkan ia tidak mempedulikan sekretarisnya yang sedang menunggunya
khawatir diluar.
Dokumen
kerja yang harusnya telah ditandatanganinya masih menumpuk diatas meja,
begitupula rapat yang seharusnya dihadirinya tadi, semua ditunda untuk seminggu
kedepan. Ia bisa membayangkan bagaimana wajah kecewa yang ditunjukkan para
klientnya tadi. Dan tidak dipungkiri, mungkin salah satu investornya akan
menarik modal-modalnya kembali.
Ia
tidak ingin pulang, belum siap tepatnya. Ia tidak tahu apa yang akan
dikatakannya pada kakek sekaligus bos besarnya itu. Berbagai prasangka buruk
memenuhi kepalanya. Bagaimana kalau Shinyeon benar-benar menyebarkan berita
bohong itu? Bagaimana kalau...
“AAAAAAAAAAAAAAARG!”
Kai benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Handphonenya
berdering kembali. Tapi, kali ini yang menghubunginya bukan Gyorin ataupun
Baekhyun, tetapi orang yang sangat dihindarinya, Kim Myunseok, kakeknya.
“Kim
Jongin, dimana kau?”
Degg,
‘Kim Jongin’ kakeknya memanggilnya dengan nama itu. Ah, itu pertanda buruk
baginya.
“Aku
masih dikantor, Kek.” Jawabnya, sedikit bergetar.
“Apa
tugasmu begitu banyak sehingga lupa untuk kembali kerumah?” Tanya Kakeknya,
atau lebih tepatnya sindiran.
“Aku
akan pulang beberapa jam lagi.” Jujur saja, Kai sama sekali tidak suka
diatur-atur seperti ini. Ayolah, dia bukan anak kecil lagi.
“Aku
tunggu dalam waktu 30 menit. Aku tidak ingin melihatmu datang terlambat.”
Plip,
telpon diputuskan begitu saja dari sana. Dia benar-benar frustasi, mengapa hari
ini kesialan bertubi-tubi menghampirinya??? Beruntung karena Gyorin sedang
membantu ayahnya dirumah sakit. Kalau tidak, mungkin ia akan melihat betapa
kacaunya keadaan Kai saat ini.
“Ya
Tuhan, tolong aku kali ini.” Doa Kai dalam hati.
~~∞ő∞~~
Sebuah
mobil sport putih tiba dihalaman rumah yang bisa dibilang, salah satu dari
sedikit rumah termewah di Seoul, yang bahkan desainya didesain sendiri. Kai
turun dari mobilnya, Diserahkannya kunci mobilnya itu pada salah satu pelayan
yang menyambutnya didepan pintu.
Ia
membasuh wajahnya terlebih dahulu sebelum memasuki rumah untuk menemui
kakeknya. Ia tau kakeknya tidak menyukai penampilan yang berantakan, meskipun
itu adalah cucunya.
“Tuan
muda, anda ditunggu diruang kerja Tuan besar.” Seorang pelayan memberitahu Kai.
“Ne,
arraseo.” Kai berlalu begitu saja.
Diketuknya
pintu ruangan besar dihadapannya. Tidak ada sahutan, tapi ia yakin kakeknya ada
didalam.
“Selamat
malam, araboji.” Ucap Kai sopan seraya membungkukkan badannya pertanda hormat.
“Kau
sudah datang?” Myunseok meletakkan buku yang dibacanya.
“Ye,
araboji.”
“Apa
kau bisa menjelaskan ini?” Myunseok mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat
dari laci mejanya.
“Seseorang
mengirimiku foto-foto itu.” Sambung Myunseok melihat Kai sedang memperhatikan
satu persatu foto-foto yang memperlihatkan dirinya sedang merangkul seorang
gadis menuju kedalam hotel.
“Aku
tidak melakukan apapun, araboji.” Jawab Kai.
“Lalu
jelaskan surat diamplop putih itu.”
Lagi,
Kai melihatnya lagi. Amplop putih yang diberikan Shinyeon padanya tadi pagi.
Gadis itu, dia benar-benar serius atas ucapannya.
“Bodoh!”
ucap Myunseok tiba-tiba. Kai tidak terlalu terkejut mendengarnya. Kata yang
paling buruk didunia pun bisa keluar dari mulut orang seperti kakeknya bila ia
sedang marah.
“Kau
melakukan kesalahan yang fatal Kai. Apa kau ingin membuat malu nama perusahaan
kita?!” Ucap kakeknya, lagi terderngar lebih seperti bentakan.
“Aku
benar-benar tidak melakukan apapun, araboji.” Jelas Kai.
“Membatalkan
seluruh rapat dan mengabaikan dokumen-dokumen penting yang seharusnya menjadi
tanggung jawabmu, benar-benar mengecewakan. Ya, kau memang tidak melakukan
apapun.”
“Ani,
bukan itu maksudku-”
“DIAM!” Bentak kakeknya yang spontan membuat
Kai berhenti bicara.
“Bawa
gadis itu kemari. Buat dia tinggal bersamamu.”
“Mwo?”
Kai menatap Kakeknya tak percaya, bukankah Myunseok sudah tau kalau Kai
mencintai Gyorin?
“Gadis
itu berbahaya. Kalau sampai citramu menjadi benar-benar buruk, kemungkinan
besar investor akan menarik sahamnya. Dengan tinggal bersamamu, dia akan lebih
mudah diawasi.”
Kai
tau, jika kakeknya sudah berkata seperti itu, tidak ada yang bisa ia lakukan
lagi. Tapi, apa yang akan terjadi dengan Gyorin kalau ia sampai mengetahui hal
ini?
“Tapi,
aku mencintai Gyorin.” Ucap Kai, ia menundukkan kepalanya.
“Bodoh!
Kau masih mementingkan perasaanmu dalam keadaan segenting ini? Lakukan apa yang
kuperintahkan!” Kini raut wajah Myunseok benar-benar mengerikan.
Kau
telah melakukan hal yang salah Kai, lihatlah kakekmu benar-benar seperti
monster yang kehilangan makan malamnya.” Rutuk Kai dalam hati.
“Arraseo,
araboji.” Kai meninggalkan ruang kakenya itu dengan wajah yang tertunduk lesu.
Apa yang diperintahkan kakeknya barusan benar-benar ujian yang berat untuknya, “nikahi gadis itu kalau perlu. Apapun, lakuakan
segala cara untuk membuat gadis itu bungkam. Aku tidak ingin kehilangan
investorku.”
Kakeknya
benar-benar kejam. Bagaimana mungkin ia menikahi gadis yang telah menjadi perusak
hidupnya itu. Bayangan Gyorin kembali memenuhi kepalanya, lalu lambat laun
dikacaukan dengan ingatan kejadian tadi pagi.
“AAAARGH!”
Kai melempar beberapa buku yang tersusun rapi diatas meja kamarnya. Lalu
beralih kearah mejanya yang lain dan kembali melempar barang-barang yang
terletak diatasnya. Pikirannya sedang buruk saat ini, benar-benar kacau.
“Ahn
Shinyeon, kau telah mencari gara-gara denganku.”
************************************************************************
Yay! Alhamdulillah part 2-nya selesai :)) sebenernya udah lama sih dan ini dipos dibeberapa grup FB sama saya :))) Jangan lupa komen + likenya ya reader :)))) Berharap banget bukan silent reader ( habisnya liat jumlah pengunjung ratusan tapi yang komen cuma dikit) :))))

0 komentar:
Posting Komentar