Simpan template dan lihatl Red Bubble Rose: That Man "ff lomba"

Rabu, 18 Juni 2014

That Man "ff lomba"

Judul             : That Man

Author          : KuroiZora

Genre            : Romance-Drama

Cast artist      : Exo, SNSD


Mata Kai terus menuju gadis yang tengah menunduk di sebuah bangku taman yang menghadap ke sungai, gadis itu terisak sambil sesekali menyeka airmata. Ini bukan pertama kalinya Kai melihat orang yang ia cintai seperti itu. Ratusan mungkin, ia hanya bisa melihat linangan air mata itu jatuh sia-sia, tanpa bisa menghapusnya dengan tangan Kai sendiri. Dia hanya bisa mengepal kedua tangannya untuk menahan amarah yang sedari tadi bergejolak. Marah pada dirinya yang takut.

Ketakutan kehilangan gadis berambut ikal itu membuat ia mengurungkan langkahnya untuk mendekati gadis itu, ia takut bila gadis itu tahu tentang perasaannya membuat semua berubah. Ia takut jarak yang mungkin, akan menghapus kenangan indah mereka.

Mungkin sudah hampir satu jam Kai hanya berdiri di balik pohon sakura yang saat ini masih gundul karena musim dingin masih menyelimuti kota Seoul. Sedangkan gadis itu masih setia duduk di bangku taman dengan tatapan kosong.

            Akhirnya gadis itu beranjak pergi, meninggalkan taman yang selalu menemaninya kala air mata harus menggenang dikedua kelopak mata gadis berambut pirang itu. Kai mengikutinya perlahan, hingga jarak yang tersisa hanya 3 meter. Mereka menyusuri pinggiran sungai hingga mendapati jalan raya. Kemudian berjalan ke arah jembatan penyebrangan, tak jauh dari sana gadis itu masuk ke sebuah café bernuansa mexico dan Kai masih setia mengikuti gadis yang selalu mengisi hari-harinya.

            Akhirnya Kai memberanikan diri untuk menghampiri gadis itu yang sudah duduk sambil memesan secangkir coklat panas.

            “noona,” panggil Kai seolah ia tidak sengaja bertemu dengan gadis itu.

            “oh, Kai-ah … kemarilah temani aku,” jawab gadis itu ceria, tak tampak ia habis menangis, gadis itu seakan tersenyum seperti semua baik-baik saja.

            “noona, darimana?” tanya Kai yang sudah duduk berlawanan arah dengan gadis yang masih mengenakan mantel putih gadingnya.

            “jalan-jalan, kau sendiri?”

            “jalan-jalan, aku sedang bosan di rumah,” jawab Kai dengan aktingnya seolah ia benar-benar sedang bosan, “oh iya, tifanny noona. Besok valentine, berikan aku coklat,” Ujar Kai sambil menengadah kedua telapak tangannya ke depan Tifanny.

            “ish… jangan pikir aku tidak tahu. Tak perlu kuberi kau coklat pun, kau sudah kaya dengan coklat-coklat dari fans mu,” Ujar Tifanny sambil melepas mantelnya kemudian mengangkat sebelah tangannya bermaksud memanggil pelayan café.

            “aigoo… noona ini pelit sekali,” Jong In berwajah meledek dan hal itu merupakan ekspresi Kai yang berhasil membuat kesal Tifanny.

            “arraseo,” jawab Tifanny terpaksa. Sedang Kai hanya tersenyum tipis. Pelayan café itu datang dan menerima pesanan Jong In yang sangat banyak. Jong In hampir memesan seluruh hidangan dalam café tersebut. Tifanny menelan ludahnya, bagaimana ia akan membayar semua itu. Uang bulanannya sudah hampir habis. Secara, dia sunbae seharusnya dia yang traktir, bukan?

            “aku yang traktir,” ujar Kai bangga. Tifanny hanya tersenyum kecut melihat tingkah Kai yang sok mau mentraktir. Walau sebenarnya ia sedikit bersyukur hoobaenya di klub teater ini mengerti kondisi dompetnya.

            “Spesial Valentine Days, kami mengadakan acara Couple Chocolate. Acara yang diadakan khusus bagi para pasangan untuk membuat coklat disini secara gratis. Dan tuan serta nona sudah memesan melebihi 75.000 won maka, anda berdua berhak mendapat voucher spesial Acara Couple Chocolate ini sebagai peserta,” ujar pelayan itu tiba-tiba, setelah menulis seluruh pesanan. Tifanny langsung membelalakan matanya karena mendengar kata gratis. Berbeda dengan Kai yang terkejut karena disebut Pasangan. “Bagaimana tiket ini mau diambil?” lanjut pelayan itu ramah..

            “kami bukan pa..” ujar Kai kikuk.

            “kita ambil,” potong Tifanny sontak membuat Kai membulatkan mata, dan berfikir Tifanny setuju disebut pasangan.

            “terimakasih, silahkan tunggu pesanan anda beserta tiketnya akan segera datang,” pelayan berpakaian serba merah muda itu beranjak pergi. Kai masih tertegun dan melirik kearah Tifanny yang tampak sangat bahkan luarbiasa bahagia.

            “wae?” tifanny yang sadar tatapan aneh Jong In langsung protes.

            “itu untuk PASANGAN, noona,” ujar Kai lalu menghela nafas panjang.

            “lalu?” Tifanny tampak santai dan kemudian langsung mencari cermin di tasnya dan membenahi rambutnya.

            “ayolah kita ini tidak seperti itu,” ujar Kai ragu, takut Tifanny marah. Namun hal tersebut sudah terlajur terucap. Seperti dugaannya Tifanny tampak tidak senang dengan perkataan Kai barusan.

            “kau bahkan tidak mau jadi pasanganku, kau jahat sekali Kai-ah,” rengek Tifanny cukup keras sehingga membuat seisi café melirik ke arah mereka berdua.

            “iyah.. iyah .. berhentilah menangis, uljimayo .. ” Kai tampak kebingungan kalau sudah seperti ini.

            “berarti kau mau ikut?” tanya Tifanny kembali ceria, wajah Kai tampak kaget dengan perubahan ekspresi yang mendadak seperti itu. Alisnya mengangkat sebelah dan matanya seolah mau keluar, dan hal itu membuat Tifanny berdiri dan beranjak dari tempat duduknya kesal. Namun langkah Tifanny terhenti, ketika ia menoleh tangannya sudah genggam tangan hangat Kai.

            “arra. Kajima,” ujar Kai tampak khawatir, Kai ikut berdiri dan memegang bahu Tifanny lalu, membuat gadis itu kembali duduk di tempatnya.

            “bukankah kau mau coklat dariku, nanti ku beri buatan ku sendiri, gimana? Kau harusnya merasa beruntung dapat coklat buatan tangan sendiri dari noona mu yang sangat cantik ini,” ujar Tifanny ceria tangan nya menggoyang-goyangkan tangan Kai manja. Mereka sudah tampak seperti pasangan dimata seluruh orang di café. Walau wajah Kai tampak tak begitu senang, tapi tersinggung senyum tipis yang membuat siapa saja meleleh di wajah tampannya. Sebenarnnya saat ini hati Kai tengah bergejolak luarbiasa senang.

            Sambil menunggu pesanan mereka mengobrol tetang sekolah, selalu ada tawa ketika mereka mengobrol tentang hal-hal biasa. Ditambah Tifanny memang senang berbicara dan Kai suka dengan ocehan Tifanny yang pembahasannya sudah muter-muter gak karuan. Akhirnya beberapa piring pesanan datang, perut mereka yang sudah tidak tahan itu langsung memulai acara makan siang mereka ini. Sesekali mereka saling menyuapi layaknya pasangan pada umumnya, namun Tifanny memang sejak kecil suka menyuapi Jong In. Menurutnya Jong In terlihat seperti anak kecil ketika makan. Sekedar tahu saja, Tifanny dan Jong In ini juga tetangga, sejak kecil Jong In selalu makan malam di rumah Tifanny karena keluarganya sibuk kerja.

            Setelah memuaskan perut, pelayan tadi datang sambil memberikan sebuah voucher Couple Chocolate dan bon makanan. Kai segera membayar bon itu sedang Tifanny masih memancarkan sinar dimatanya kepada voucher berwarna merah muda dan putih itu.

            “acaranya malam ini jam 7, silahkan datang pada waktu yang telah ditentukan,” ujar pelayan lalu beranjak pergi meninggalkan pasangan dadakan dan pura-pura ini.

            “acaranya jam 7, sampai jumpa nanti malam,” ujar Kai beranjak dari tempat duduknya namun, tertahan oleh dengan tangan kurus bewarna putih nan mulus milik Tifanny. Kai menoleh ke pemilik tangan itu. Wajahnya selalu datar walau ia senang

            “masih banyak waktu, temani aku jalan-jalan,” ujar Tifanny begitu semangat dan tentu saja Kai menurut karena dia memang selalu mengikuti kemauan Tifanny segila atau seaneh apapun permintaan itu.

            Mereka berjalan beriringan di trotoar yang sudah di penuhi berbagai orang yang sekedar lewat atau melakukan suatu pekerjaan. Tak jauh dari café itu terdapat sebuah pusat pembelanjaan bagi pejalan kaki, mereka berniat pergi kesana sekedar menghabiskan 5 jam waktu yang mereka miliki sebelum acara Couple chocolate di mulai.

            Tifanny memang suka jalan-jalan apalagi kalau urusan belanja, ia selalu memiliki tenaga untuk berkunjung ke berbagai toko. Gerbang pusat pembelajaan itu sudah terlihat, langkah Tifanny semakin besar karena tak sabar untuk menjajaki tempat itu. Sedang Kai hanya mengikuti dari belakang sambil senyum-senyum sendiri.

Brukk…

            “ahh… maaf kan aku,” ujar Tifanny sambil menunduk saat ia menabrak seseorang. Ia mengangkat kepala dan melihat wajah yang tak asing baginya. Mantan pacar Tifanny, Nickhun. Pria dengan wajah campuran Thailand itu tengah berdiri menghadap Tifanny bersama yeoja yang ia rangkul di sebelah kanannya.

            “tifanny! Kau sedang apa disini?” ujarnya pria itu sambil memamerkan barisan gigi putihnya.

            “ah .. Nickhun-ssi, tidak hanya sedang jalan-jalan saja,” ujar Tifanny sambil menoleh ke arah yeoja di sebelah pria tinggi didepannya.

            “perkenalkan ini yeojachingu ku, Victoria,” jawabnya sambil memperkenalkan gadis jangkung dengan rambut coklat lurus yang menggantung lembut. Gadis bernama Victoria itu mengulurkan tangannya dan tersenyum manis. Tifanny hanya mengangguk dan membalas uluran tangan itu. Sejujurnya saat ini ia sangat malu. Karena ia harus berjalan seorang diri tanpa memiliki pengganti Nickhun, yaa.. walau sebenarnya selepas pacaran dengan Nickhun ia berpacan lagi tapi, tadi pagi baru putus dengan namjachingu pengganti Nickhun itu, yaitu Kris.

            “kau sendiri?” akhirnya pertanyaan yang membuatnya bertambah malu itu terlontar juga, namun tiba-tiba sebuah tangan merangkul pundak Tifanny. Si pemilik tangan itu mendekatkan tubuh tifanny dalam pelukannya seolah berkata gadis ini bersamaku.

            “aku namjachingunya, Kai” ujar Kai sambil tersenyum manis, lalu mengulurkan tangannya ke Nickhun. Nickhun hanya tersenyum dan membalas uluran itu dengan sedikit keraguan.

            “bukannya kau hoobae Tifanny?” tanya Nickhun sehabis melepas jabatan tangan itu. Nada suaranya seolah menyimpan pertanyaan lain.

            “jika yang kau bicarakan status di sekolah, itu benar. Tapi saat ini aku namjanya,” ujar Kai santai dengan suara bassnya yang masih menggema di kepala Tifanny yang sedari tadi hanya bengong melihat tingkah Kai.

            “Chagi, ayo!” ujar yeoja bernama Victoria itu menarik Nickhun paksa karena merasa ada suasana yang aneh di antara mereka. Tanpa banyak bicara kedua pasangan itu menundukan kepalanya dan pergi begitu saja.

            Mata Tifanny dan Kai kembali beradu, 5 detik berlalu dan Kai yang baru sadar kalau tangannya masih menggantung di pundak Tifanny cepat-cepat melepasnya. Kemudian memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan wajah kemerahannya. Ia yakin wajahnya sekarang mirip tomat. Tak hanya Kai, Tifanny juga merasa pipinya merah bukan karena cuaca dingin melainkan suatu getaran lain di dalam tubuhnya.

            “gumawo,” ujar Tifanny lalu berjalan terlebih dahulu, namun Kai menahan gadis itu hingga gadis berponi itu menoleh kaget.

            “supaya tidak menabrak orang lagi, jalannya pelan-pelan saja,” ujar Kai lembut sambil tersenyum manis. Satu langkah besar di kakinya membuat mereka sejajar, kemudian mereka berjalan dengan langkah yang sama. Di sisi lain Tifanny sesekali menoleh ke wajah Kai, kemudian menunduk melihat ke arah sepatu bootnya. Kai sendiri tahu sikap Tifanny yang diam-diam melihat wajahnya, tapi ia berusaha bersikap seolah tidak tahu.

=*=

            “Ahhh… yeopo naa…” Mata tifanny tertarik pada sebuah toko aksesoris. Tanganya terus melihat kumpulan gelang bertema snow, ada juga yang bertali-tali.

            “Kai kemarilah!” pinta Tifanny pada namja berwajah masam yang sudah berjalan mengelilingi pusat pembelanjaan ini selama 4 jam terakhir. Ia menghampiri gadis itu yang sedang memilah-milah gelang bewarna merah atau warna biru.

            “ada apa?” ujar Kai malas.

            “merah atau biru?” tanya gadis itu dengan mata bersinar sambil menunjukan gelang yang tersusun dengan tali warna merah itu.

            “biru,”

            “tapi, menurutku lebih bagus warna merah … ”

            “kalau begitu beli yang merah,”

            “ahh .. kau ini, sudahlah ayo pergi beli tteopoki. Tadi aku sempat lihat penjual tteopoki dan banyak sekali orang yang yang beli disana. Kau lapar kan?” Tifanny menaruh gelang itu dan mendorong Kai keluar dari toko itu.

            Mereka sampai di tempat tujuan, dengan sekaleng minuman hangat dan sepiring tteopoki pedas, mereka meregangkan kaki yang sedari tadi sudah berkeliling namun tak membeli satu pun barang.

            “ahhh… noona. Kenapa kau tak membeli satu pun barang? Jika kau mau aku bisa membelikannya,” ujar Kai dengan tteopoki di mulutnya.

            “uang bulanan ku sudah menipis, tak mungkin aku meminjam kepada mu. Kurasa aku akan mencari kerja sambilan, apa di bar tempat kau bekerja ada lowongan?”

            “ada, mereka sedang mencari penyanyi. Penyanyi sebelumnya berhenti karena hamil. Tapi memangnya kau bisa nyanyi? Sekalipun bisa, aku tak yakin suara mu bagus,” ledek Kai, ia paling suka melihat wajah Tifanny berubah kesal.

            “YA! Kau belum tahu saja suaraku sangat bagus,” Tifanny tampak banga dengan kemampuan yang baru ia pelajari akhir-akhir ini.

            “benarkah? Aku tidak percaya,” ledek kai sambil terkekeh.

            “mau bukti?” tantang Tifanny dengan mata tajam kea rah pria yang masih terkekeh.

            “tidak perlu, aku takut nanti sakit perut,” jawab Kai sambil memegang perutnya, dan kembali terkekeh dengan tteopoki di dalam mulutnya.

            “Yak!” Tifanny menggetuk kepala Kai dengan sendok di tangannya. Kai hanya tersenyum geli dan bertingkah seolah ia sakit karena dipukul oleh garpu kecil.

            “Appo… aku ke sana dulu. Sebentar,” ujar Kai sambil memegang kepalanya. Tifanny hanya mengangguk, dan membiarkan hoobaenya pergi tanpa banyak bertanya. Ia masih setia dengan tteopoki di hadapannya.

            Kai pergi ke seorang yang tampak ia kenal. Sambil berusaha merai pundak orang tersebut. Namun, sepertinya ia salah orang. hanya bentuk tubuhnya saja sama, wajah orang yang Kai maksud berbeda. Awalnya ia hendak kembali tapi ia melirik ke sebuah toko aksesoris yang tadi sempat ia kunjungi bersama Tifanny, ia membeli sepasang gelang tali merah, setelah itu ia berlari kembali ke tempat tifanny berada secepat yang ia bisa.

            “kau dari mana?” tanya tifanny dengan tteopoki yang masih penuh di rongga mulutnya.

            “tadi aku lihat temanku, jadi kami mengobrol sebentar,” jawab Kai setengah berbohong. Walau ia tak suka berbohong, tapi kalau memberitahu tifanny bukan kejutan namanya.

            “ohh..” Tifanny hanya mengangguk dan menikmati tteopoki yang sebagian besar di habiskan olehnya itu. Sedang tangan Kai kembali meraih potongan kue beras bewarna merah menyala itu dan sesekali melirik kea rah Tifanny yang masih sibuk dengan tteopoki di mulutnya.

            “aishh… mulutmu,” Kai menunjuk ke ujung bibir bawah Tifanny.

            “bersihkan,” ujar Tifanny sambil mendekatkan ke wajah Kai.
Dag.. dig … dug.. begitulah detak jantung kai saat jempolnya membersikan mulut tipis Tifanny. Ini memang bukan pertama kalinya, hanya saja saat ini ada rasa yang membuat Kai ingin mencium bibir bewarna merah muda itu ketika menyentuhnya.

            “sudah selesai? Ayo kita ke café itu,” ujar Kai yang lansung beranjak dari tempat duduknya. Tifanny langsung mengikutinya dari belakang.

            Sekitar 10 menit mereka berjalan santai, mereka tiba di café yang mereka kunjungi tadi. Disana sudah penuh dengan pasangan kekasih yang menikmati suasana Valentine. Kai masuk diikuti Tifanny mereka berjalan ke arah pelayan dan memberikan Voucher tadi, si pelayan itu langsung mengantar mereka berdua ke meja nomor 2.

Disana ada 10 meja dengan 2 kursi dan di atasnya sudah di susun berbagai peralatan untuk membuat coklat. Tak lama kemudian acara dimulai pertama seorang pria berambut putih mempraktekan cara membuat coklat. Kemudian diikuti para peserta, Kai tampak bingung saat harus memotong coklat batang. Sedang Tifanny sedari tadi hanya memerintah dan mengomel tetang coklat. Karena Kai sudah biasa maka ia tak terlalu menghiraukan kicauan tifanny yang memang tidak penting.

Akhirnya coklat mereka jadi dan tinggal di cetak. Kemudian coklat yang sudah di cetak tersebut di masukan ke dalam freezer. Acara berlanjut ke acara Romance Couple yaitu acara di mana siapa yang berani menyatakan perasaan paling romantis akan mendapatkan hadiah chocolate cake yang di buat langsung oleh kepala chef di restoran itu.

            Tentu saja hal itu membuat Tifanny memaksa kai untuk melakukannya. Dan Kai tak bisa menolak. Sekalipun ia tidak mau, karena menurutnya itu memalukan.

            “noona, aku mencintai mu … ” ujar Kai datar dan kikuk. Seketika keheningan merajai café itu, sedari tadi orang menyatakan cintanya dengan puisi dan lagu. Sedang Kai hanya sesingkat itu, Kai sendiri bingung dan tidak tahu. Tangannya menggaruk-garuk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.

Beberapa detik kemudian sebuah tawa mengema, dan kemudian diikuti tawa-tawa karena melihat wajah datar Kai yang sangat datar seperti jalan tol itu. Tifanny langsung memasang wajah poker face, dan menatap Kai seolah berkata lakukan dengan benar atau kau mati!. Kai hanya bisa menghela nafas.
            Kai bersimpuh di depan Tifanny.

            “Seorang pria mencintaimu, dia mencintai mu dengan sepenuh hatinya... Setiap hari dia mengikutimu seperti bayangan… ketika Pria itu tertawa berkata semua baik-baik saja, ketika itu pula ia menangis… ia bertanya, Berapa lama lagi pria itu harus menatap mu sendirian dari jauh? … Cintanya datang seperti angin. Dan Cintanya tumbuh semakin besar… Jika cinta pria itu bertahan, akankah kau berbalik mencintainya? … Pria itu selalu mencintai mu, dia selalu berada disisi mu…. Pria itu adalah aku,” ujar Kai lembut disetiap baris kalimatnya. Kedua mata hitam menatap lembut ke arah gadis yang sedari tadi diam terpaku. Memaksa gadis itu untuk melihat isi hatinya yang tulus, berharap gadis dihadapannya mencintainya kembali.

            Semua orang yang berada di café itu terdiam, kemudian sepasang tepuk tangan berbunyi di sudut café diikuti riuh tepuk tangan dari semua orang yang berada di café itu. Tifanny masih terdiam, ia sadar apa yang Kai katakan bukanlah sekedar kata kosong. Semua yang hoobaenya katakan adalah tulus, perasaan sedih dan cinta yang Kai utarakan jelas Tifanny rasakan. Hingga tanpa ia sadari setetes air mata keluar dari kelopak matanya sebelah kanan.

            “Yak! Noona, uljama … ini hanya akting .” bisik Kai saat ia sudah berdiri dari posisinya. Mata Tifanny langsung menatap ke arah Kai tak percaya. Jelas-jelas ia dapat merasakan perasaan Kai yang sesungguhnya. Tapi, kenapa pria di depannya ini tak mau juga mengakui.

            “iyah,” Tifanny hanya menghela nafas kecewa, memaksakan senyum di bibirnya. Kemudian melingkarkan tangannya ke leher, Kai. Semua orang yang berada di café itu sekali lagi menepuk tangan mereka. berfikir pasangan ini sangatlah romantis. Namun, disudut hati gadis yang tengah menahan tangisnya ia kecewa.

=*=

            Ini sudah seminggu semenjak acara di café itu, mereka menang dalam Couple Romance berkat perkataan Kai yang menyentuh hati setiap orang. Namun, tak membuat Kai dan Tifanny menjadi semakin dekat, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Mereka  saling menjauh. Mereka tak lagi saling bicara satu sama lain, setiap bertemu hanya menyapa hai, sudah itu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Jikapun di tinggal berdua mereka akan langsung memainkan ponsel mereka, tak ada yang mau memulai obrolan terlebih dahulu. Biasanya Tifanny akan mengomel atau memerintah Kai ini itu, dan Kai hanya akan mengeluh atau meledek Tifannya. Dan hal itu selalu bisa menjadi hiburan tersendiri bagi orang-orang di Klub Teater, namun sudah seminggu terasa sepi. Saat di tanya ke Kai atau ke Tifanny, mengapa mereka jadi seperti itu, mereka hanya menjawab tidak ada apa-apa, kami seperti biasa. Atau saat ditanya mereka sedang bertengkar. Keduanya juga menjawab, tidak tidak ada yang kami pertengkarkan.

            “Fanny, kau kenapa ceritakan padaku?” tanya Taeyeon, sahabat Tifanny. Mereka sedang duduk di bangku penonton, menghadap lapang baseball yang kosong.

            “kenapa apanya? Justru aku yang ingin bertanya kenapa dari tadi semua orang bertanya kenapa denganku,” Ujar Tifanny sambil bercermin membenahi rambutnya.

            “kau dan Kai, kalian kenapa? Ceritakan kepadaku?”

            “huh … soal itu lagi,” Tifanny menghela nafas panjang dan menaruh cerminnya kedalam tas.

            “ayolah ceritakan,” paksa Taeyon, akhirnya Tifanny menceritakan malam Valentine yang ia habiskan bersama Kai.

“kau baru sadar Kai menyukai mu?” ujar Taeyon sambil memegang mulutnya seolah terkejut, tapi dimatanya ada mata meledek.

“kau tahu?” tifanny kembali menghela nafas

“tentu, semua orang tahu itu,” Taeyon menghela nafas lebih panjang, menatap sinis ke arah sahabatnya itu

“lalu kenapa aku tidak?” tanya polos Tifanny, membuat Taeyon rasanya ingin memukul kepala TIfanny supaya sadar.

“karena kau bodoh,” ujar Taeyon sinis.

“Yak! …. Lalu aku harus bagaimana?” tak terima disebut bodoh ia mendorong Taeyon pelan dan kembali menatap penuh harap.

“kau menyukainya tidak?” Tifanny diam saat Taeyeon melontarkan pertanyaan itu. “kalau kau suka bilang suka, jika tidak bilang tidak. Jangan buat dia berharap. Kau selalu memperhatikannya melebihi pacarmu sendiri, kau ingat! Kau memilki janji kencan dengan Nickhun waktu itu. tapi, karena Kai sakit kau malah membatalkan janji itu dan pergi merawat Kai. Besoknya kau putus dengan Nickhun iyakan? Lalu minggu kemarin, kau putus dengan Kris juga karena kau bilang ingin membeli Kai hadiah di banding membeli pacarmu hadiah, tentu saja dia marah dan memutuskan mu. Kau ini sadar tidak sih?” jelas Taeyeon panjang lebar dan berapi-api.

“benarkah?”

“haduhh… kau cantik tapi ..”

“Taeyeon, aku pergi dulu,” seolah sebuah lampu yang rusak tiba-tiba menyala di kepala Tifanny, ia langsung melesat pergi.

“yak aku belum selesai bicara!” teriak Taeyon walau Tifanny sudah menghilang di jangkauan penglihatannya.

Tifanny berlari, terus berlari mencari sosok namja jangkung berambut hitam. Namun sekalipun ia mengitari kampusnya, ia tidak bisa menemukan Kai. Ia masih tidak tahu apa jawabannya, saat ini ia ingin bertemu Kai. Ia ingin melihat pria itu menatapnya, mungkin ia akan tahu jawabannya setelah melihat senyum namja itu.

=*=

           Sebuah bar bernuasa klasik, Kai sedang mengelap setiap gelas wine yang baru saja ia cuci. Tatapannya kosong, walau ia sedang bekerja. Namun akhir-akhir ini, ia tampak seperti mahluk hidup. Ingatan seminggu yang lalu membuat dia menyesal mengatakan perasaannya. Ia yakin Tifanny membencinya, ia masih ingat tatapan Tifanny malam itu. walau Tifanny memberikan coklat padanya, tapi ia tak bisa memberikan gelang merah itu.

Langkah sepatu heels yang sangat akrab di telinga Kai membuatnya menoleh ke pintu masuk.
           Tifanny terengah-engah dan berjalan ke arah Kai. Ia menatap namja yang sudah berhenti mengelap gelas wine.

            “aku ingin melamar kerja,” ujar Tifanny mengalihkan pandangannya kepada seorang pria dengan dasi bergaris biru. “kudengar disini sedang mencari penyanyi,” lanjutnya sambil berusaha mengatur nafas kepada pak manager bar itu.

            “aku ingin dengar dulu suaramu,” ujar sang manager sambil melipat tangan. Matanya menyadari tatapan Kai kepada gadis berambut blonde itu.

            “minumlah,” kai memberikan segelas air putih, yang langsung Tifanny habiskan dalam beberapa tegus saja.
            “ini lagu Avril lavigne, judulnya wish you were here,” ujar Tifanny saat sudah sampai di depan mic. Mata tifanny terus menatap mata Kai seakan takut kedua mata yang ia lihat itu tak melirik ke arahnya.

“I can be tough
I can be strong
But with you
It’s not like that at all
There’s a girl
That gives a shit
Behind this wall
You just walked through it
And I remember all those crazy things you said
You left them running through my head
You re alwayse there, you everywhere
But right now I wish you were here
Damn, damn, damn
What I do have you here, here, here
I wish you were here
Damn, damn, damn
What I do have you near, near, near
I wish you were here
…”

Tifanny terus bernyanyi hingga air matanya mulai menetes sedikit demi sedikit, tapi matanya tetap menuju ke arah Kai. Iya yakin perasaannya tersampaikan. Ia yakin Kai akan memeluknya, ia sangat yakin Kai akan ada bersamanya. Bertahan dengan cintanya kepada Tifanny.

            Kai berjalan cepat menghampiri Tifanny, ia berdiri tepat di depan gadis itu yang mulai kehilangan suaranya karena tangis. Mata kai sendu, tangannya meraih pundak Tifanny. Membawa gadis itu kedalam pelukannya. Membiarkan dia merasakan detak jantungnya saat ini. Tangannya mengelus-elus punggung kecil di dalam dekapanya. Menaruh dagunya di atas gadis yang mulai menghentikan tangisannya.

            “kenapa kau bilang itu acting, eoh?” lirih Tifanny.

            “kau tahu aku mencintaimu?” tanya Kai lembut.

            “tentu, aku tahu … aku tahu Kai,” kembali isak tangis keluar dari mata Tifanny.

            “berhentilah menangis, uljima. Fanny-ah,” suara bass Kai yang lembut di telinga Tifanny membuatnya nyaman. Suara itu mampu membuat ia berhenti menangis. Suara itu seperti magic yang akan membuatnya bahagia.

            “arraseo,” jawab Tifanny samberi melingkarkan tangannya ke pinggang Kai.

            “berikan tanganmu,” ujar Kai melepaskan pelukannya dan meraih tangan kanan tifanny. Langsung memasukan gelang tali bewarna merah yang pernah ia beli ke dalam pergelangan kurus itu. Kemudian mengikatnya hingga keras dan sulit untuk dibuka kembali. Jadi jika ingin melepaskan gelang itu maka harus menggunakan gunting.

            “kenapa keras sekali? Sulit melepaskannya,” omel Tifanny sambil melihat ke arah gelang yang tak asing di matanya.

            Seketika mata Tifanny membulat, wajahnya seperti habis terkena serang listrik. Tapi ini lebih dari sengatan listrik menurut Tifanny. Sebuah ciuman mendarat di bibir tipisnya. Ciuman singkat berasal dari pria yang telinganya sudah memerah ini.

            “supaya kau tidak kabur dari Kai,” ujar Kai sambil menunjukan tangan kanannya yang sudah bergelang dengan gelang yang sama Tifanny pakai.

            Gadis itu tersipu, senyumnya ditambah dengan eye smile di wajahnya sangatlah cantik. Hingga membuat siapapun langsung jatuh hati. Tifanny menjingjitkan kakinya, mendekatkan wajahnya kepada pria yang dicintainya selama ini. Ia mencium Kai, Kai menarik tubuh Tifanny semakin dekat dengan tubuhnya. Tangan kirinya sudah berada di pinggang dan tengkuk leher Tifanny.

            “ehem,” pak manager berdehem, ia sedari tadi membalikan badannya agar tak melihat kemesraan pasangan baru ini. Menyadari kalau ini bukan tempat yang tepat, mereka berhenti dan saling menatap usil, kemudian terkekeh bersama.

-THE END-

Note: Kepada para reader, dimohon komentarnya. Dan untuk mendukung author FF ini, harap sertakan kata ''LIKE" yang dipisah dengan sebuah enter pada komentar anda dan masukkan nama salah satu akun anda (twitter/Facebook/email) untuk menunjukkan bahwa tidak adanya pengulangan komentar dukungan. Para author boleh mendukung FFnya sendiri ataupun FF peserta lain :)
Terimakasih :))

Contoh :
Dari: Rbroseff@gmail.com (jika menggunakan email. Akun FB/Twitter dimasukkan jika berkomentar sebagai Anonymous)
Isi komentar:
Like (wajib)

Saya suka FF ini. Keren. Semangat ya, semoga menang :))) (bebas mau berkomentar apapun)

3 komentar:

Unknown mengatakan...

Like

Wah, FF-nya bagus :)) Aku suka. Terimakasih :))

Anonim mengatakan...

Rbrose(S)

Like

Wah, co cweeet =))))) Daebakk thor

Anonim mengatakan...

Keren! :3

Posting Komentar