Simpan template dan lihatl Red Bubble Rose: Bad Love Story

Rabu, 04 Juni 2014

Bad Love Story

Bad Love Story

Judul                : Bad Love Story
Authror            : RBRose(S)
Genre               : Romance
Main Cast        : Kim Jongin, Kim Junmyeon, Oh Sehun and others {Exo}
                                     Ahn Shinyeon, Lee Gyorin, etc {Oc}
Length             : Chapter (part 1)

.
.
.

Shinyeon’s POV

“Mwo? Apa kau gila, Oppa?” aku benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan Suho Oppa padaku. Memang benar dia atasanku, tapi melakukan hal segila itu..



“Aku sudah bisa menebak reaksi-mu.” Suho oppa terlihat santai menanggapinya. Ia meneguk dengan tenangnya secangkir kopi yang ada di atas mejanya.

“Aku tidak bisa melakukannya. Tidak. Aku tidak mau.” Ingin rasanya meninggalkan ruangan ini begitu saja kalau dia bukan bos-ku. Permintaannya kali ini benar-benar gila.

“Bukankah kau butuh uang untuk membayar rumah sakit temanmu? Apa kau lupa?” aku benci kata-katanya itu, cara seperti apa lagi yang akan dia gunakan untuk memojokkanku.

“Ah, aku lupa. Dia bukan hanya sahabatmu, tapi pria yang kau sukai, tepatnya kau cintai, bukan?” sambungnya.

“Tapi, aku..” aku benar-benar tidak tahu kalau dibalik wajah tampan mempesona nan elegan sepertinya memiliki otak yang benar-benar licik.

“Apa bukti-bukti ini belum cukup untukmu? Sudah jelas dia yang menabrak Sehun-mu. Anggap saja apa yang kau lakukan kali ini sebagai pembalasan untuknya.” Dia menyodorkan kembali surat kabar yang membahas tentang kecelakaan beberapa hari lalu oleh salah satu calon pewaris Kim Corp yang menyebabkan Sehun koma sampai hari ini.

“Aku tau itu.”

“Lalu, apalagi yang kau tunggu? Bukankah dulu alasanmu meninggalkan-ku karena kau mencintai Oh Sehun, sahabatmu?” Ya, Suho Oppa memang kekasihku, dulu. Sebelum aku jatuh dalam pesona sahabatku sendiri, Oh Sehun. Itulah alasannya mengapa aku memanggilnya dengan sebutan ‘Oppa’ padahal dia adalah atasanku, dan karena dia yang memintanya.

“Sikapmu tidak berubah sama sekali, Oppa. Kau suka sekali memanfaatkan orang lain, kau memanfaatkanku.” Aku cukup kesal dengan sifatnya yang satu ini.

“Aku tau. Aku juga tidak melupakan alasan lainmu yang membenci sifatku ketika meninggalkanku dulu. Tapi kali ini aku tidak memanfaatkanmu, kita bekerja sama.” Kemenangan jelas tergambar diwajahnya demi melihatku mengiyakan untuk melakukan apa yang diinginkannya.

“Lalu, apa yang harus kulakukan?”

“Kau hanya perlu mengikuti alur yang kubuat, Yeon-ah.”

“Kau benar-benar licik, Junmyeon-ssi.” Ucapku ketus.

~~∞ő∞~~

Author’s POV

“Ada yang ingin kubicarakan. Temui aku nanti malam di Richson’s Caffe.”

   Kai mengerutkan kepalanya. Apa yang ingin sepupunya itu bicarakan sampai-sampai mengganggu makan siangnya hari ini.

“Kai-ah!” Gyorin melambai-lambaikan tangannya tepat diwajah Kai. Kekasihnya itu, apa yang sedang dipikirkannya saat ini.

“Kai-ah! Wae?” ulangnya lagi.

“Ah, aniyo. Gyorin-ah, aku tidak bisa menemanimu kerumah sakit nanti malam, mianhae. Suho hyung memintaku menemuinya.” Jelas Kai, ia sedikit tak enak hati dengan kekasihnya itu.

“Ah, gwenchana. Suho oppa? Tumben sekali. Sepertinya itu penting.”

“Entahlah. Mungkin dia sudah merubah pandangannya padaku.”

“ya, mungkin.”

~~∞ő∞~~


“kau serius ingin melakukannya?” Shinyeon mengulang pertanyaan yang dilontarkannya pada Suho sejak beberapa jam yang lalu. Ia benar-benar tidak yakin ia sanggup melakukannya.

Menjebak salah satu pewaris Kim Corp? ah, mungkin itu kesalahan terbesar dalam hidupnya. Tapi apa yang bisa ia lakukan lagi? Dia benar-benar butuh uang dalam jumlah besar untuk membayar rumah sakit sahabatnya. Lagipula tidak ada salahnya menjebak laki-laki yang telah menyebabkan sahabatnya itu koma, anggap saja sebagai pertanggung jawaban.

“Kau tenang saja, semua akan berjalan lancar kalau kau melakukannya sesuai perintahku.” Jawab Suho, “Dan satu lagi, berhenti memanggilku tanpa sebutan ‘Oppa’, arra?” Ia mendaratkan tangan kirinya kewajah mulus Shinyeon, mengelusnya pelan meskipun sang pemilik hanya memberikan reaksi tidak suka kepadanya.

“Jongin sajangnim sudah datang, Sajangnim.” Ucap salah satu bawahan Suho mengingatkan.

“Kau, bersembunyilah dulu.” Perintah Suho yang hanya dibalas anggukkan dari Shinyeon.

Beberapa menit kemudian, seorang pria muda tampan masuk kedalam caffe. Gayanya yang tenang dan kulitnya yang sedikit gelap untuk style orang korea serta sinar lampu caffe yang sedikit redup membuat ketampanan dan kharismanya benar-benar terpancar dari tubuhnya. Kai bejalan mendekati salah satu meja di Caffe itu begitu dilihatnya Suho yang melambai kearahnya.

“Kau memang menepati janjimu untuk datang.” Komentar Suho memulai pembicaraan.

“Apa yang ingin kau bicarakan, Hyung?” Balas Kai tanpa basa-basi.

“Huh! Apa ini sikapmu terhadapku setelah aku berusaha untuk berbaik hati padamu?” Suho menjentikkan jarinya memanggil seorang pelayan dengan alasan untuk memesan makanan atau secangkir minuman. Alih-alih melakukannya, tanpa sepengetahuan Kai, ia meletakkan secarik kertas diatas papan menu yang dibawa pelayan tadi sebagai tanda untuk bawahannya agar memberi tahu Shinyeon untuk segera kemari.

“Aku hanya ingin mengajakmu makan malam bersama.” Sambung Suho lagi.

“Cukup basa-basimu, Hyung. Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?” Kai mencoba untuk tidak terjebak dengan hyungnya itu, karena jujur saja moment seperti ini benar-benar aneh baginya. Biasanya hyungnya itu hanya melihatnya sebagai saingan, bukan sebagai saudara.

“Apa kau tidak ingin memesan minuman?” Tanya Suho, “Atau aku yang memesankannya? Bukankah kau menyukai americano’s coffe?”

“Ternyata kau memperhatikan seleraku, hyung. Aku tidak yakin kau bersikap baik padaku tanpa ada niat apapun, tapi kuhargai itu.” Ucap Kai tanpa ragu-ragu. Diliriknya wajah Suho yang sedikit terlihat geram, ia tahu pasti itu karena ucapannya barusan.

“Kau boleh berburuk sangka padaku. Tapi alasanku melakukan ini sebagai tanda persaingan kita sebagai calon perebut warisan kakek dengan persentase terbesar telah dimulai. Aku harap kita melakukannya dengan sportif.” Jawab Suho, Kai mengangguk setuju.

“Aku tahu itu, hyung. Aku harap tidak hanya satu pihak yang bermain jujur, tapi semua pihak.” Lagi-lagi perkataan Kai menusuk tepat dijantung Suho.

Untung saja Shinyeon datang tepat waktu. Kalau tidak, mungkin pembicaraan yang membosankan dan menyebalkan bagi Suho itu akan membuatnya sulit mengontrol emosinya.

“Oh, Ahn Shinyeon-ssi!” Panggil Suho berpura-pura tidak mengenal Shinyeon.

“Oh, Kim Junmyeon sajangnim.” Shinyeon menundukkan kepalanya sopan. Sesuai rencana yang telah disusun Suho, mereka akan berpura-pura tidak pernah memiliki hubungan apapun selain sebagai atasan dan bawahan.

Gaun biru selutut yang dikenakan Shinyeon benar-benar membuatnya terlihat sangat cantik. Rambut hitam panjang sebahu yang dimilikinya yang telah didandani sebaik mungkin menambah aura kecantikannya. Itupun termasuk dalam Skenario. Apa yang dikenakan Shinyeon malam ini tujuan utamanya adalah membuat Kai jatuh terpesona padanya meskipun tanpa dipungkiri, semua pria yang melihanya termasuk Suho sendiri sudah jatuh dalam pesonanya.

“Kebetulan sekali, apa kau ingin bergabung?” Tawar Suho, berusaha bersikap sewajar mungkin.

“Ah, aku tidak ingin mengganggu acara makan malammu, Sajangnim.” Jawab Shinyeon kelewat halus.

“Sudahlah, lagipula kau sendiri, kan. Lebih baik bergabung bersama kami.” Ucap Suho.

“Ye, gamsahamnida.” Balas Shinyeon malu-malu.

“Kai-ah, perkenalkan ini Ahn Shinyeon, sekretaris baruku. Ahn Shinyeon, dia Kai, sepupuku dan juga pewaris dari Kim Corp.” ucap Suho.

“Ahn Shinyeon imnida.” Ada sedikit keraguan dibenak Shinyeon. Kai, pria itu terlihat pintar dan berbahaya dimatanya. Apa yang akan dihadapinya kalau ternyata pria ini mengetahui kebohongan ini? Ah lagi-lagi, ini demi Oh Sehun, sahabatnya.

“Kim Jongin imnida, kau cukup memanggilku Kai.” Aroma khas dari parfum yang dikenakan Kai masuk memenuhi rongga hidung Shinyeon.

“Jadi, aroma inikah yang akan aku rasakan selama Sehun koma? Tidak buruk. Pria ini cukup tahu tentang fashion.” Batin Shinyeon.

Tak butuh waktu lama bagi Shinyeon untuk mengakrabkan diri dengan Kai. Karena pada nyatanya Kai cukup terbuka dengan orang lain atau mungkin karena dia telah mempercayai Shinyeon sebagai sekretaris Suho dan orang baik-baik.

“Aku tinggal sebentar.” Suho melirik kearah Shinyeon sebelum sempat meninggalkan mereka berdua.

“Ah, ye.” Jawab Shinyeon, ia mengerti apa yang harus dilakukannya sekarang.

“Kai sajangnim, apa anda tidak haus? Atau ingin saya pesankan minum yang lain? Sepertinya anda tidak menyukai kopi itu.” Ucap Shinyeon sengaja untuk memancing Kai meminum kopi yang telah diberi obat tidur itu.

“Ah, tidak perlu. Aku menyukai kopi ini.” Kai meraih cangkir didepannya, meminumnya beberapa tegukan. Pada awalnya ia merasa baik-baik saja, tapi beberapa saat kemudian ia merasakan kepalanya sedikit pusing.

Shinyeon yang melihatnya berusaha untuk membantu, “Sajangnim, apa anda baik-baik saja.” Tanya Shinyeon berpura-pura.

“Aku baik-baik saja.” Jawab Kai meskipun ia merasa tidak baik-baik saja saat ini. “Apa kau melihat Suho hyung?” tanyanya lagi.

“Sepertinya Suho sajangnim sudah pulang. Barusan aku mendapat pesan kalau ia harus menghadiri rapat mendadak.”

“Rapat?”

“Ye. Dan sebentar lagi aku akan menyusulnya.” Jelas Shinyeon yang dibalas anggukkan mengerti dari Kai.

“Baiklah, kalau begitu aku permisi pulang. Sepertinya kondisi badanku sedang tidak baik.” Ucap Kai berpamitan, masih dengan tangan kirinya yang memegang kepalanya yang benar-benar terasa pusing.

“Apa kau baik-baik saja, Sajangnim?” Tanya Shinyeon lagi.

“Ah, ne. Aku baik-baik saja.” Kai tetap meneruskan perjalanannya. Shinyeon sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia hanya menghitung dari tempat duduknya.

“Satu…Dua…Tiga!” tepat pada hitungan ketiga tubuh Kai ambruk kelantai. Setelah yakin bahwa Kai sudah benar-benar tertidur, barulah suruhan-suruhan Suho datang dan membawa Kai ke tempat yang telah dipersiapkan, apalagi kalau bukan hotel.

“Kerja bagus,  chagiya!” Suho terlihat sangat senang. Ia mengacak-acak pucuk kepala Shinyeon pelan. Kegiatan yang belum pernah ia lakukan lagi kepada gadis manapun sejak hubungannya dan Shinyeon berakhir atau sekitar 5 tahun yang lalu.

“Aku tidak dibayar untuk membiarkanmu mengelus rambutku.” Shinyeon berjalan meninggalkan Suho dibelakangnya. Berniat untuk memasuki mobil pribadinya, tapi lebih dulu tangannya ditahan oleh orang yang sangat dibencinya saat ini.

“Tunggu! Kau ikut bersamaku.” Suho menarik paksa Shinyeon masuk kedalam mobilnya.

“Lepaskan! Aku punya mobil sendiri.”  Tepis Shinyeon, tapi percuma. Pria didepannya tidak mendengarkannya sama sekali.

“Aku takut kau akan kabur setelah ini.” Ucap Suho begitu berhasil membuat Shinyeon masuk kedalam mobilnya.

~~∞ő∞~~

“Buka bajunya.” Perintah Suho pada anak buahnya untuk membuka pakaian yang menutupi tubuh Kai. Ia melihat kearah Shinyeon. Ia tidak tahu, apakah ia benar-benar tega membiarkan gadis yang pernah dan sampai sekarang masih mengisi hatinya itu untuk tinggal bersama orang yang menjadi saingannya saat ini, sepupunya, Kim Jongin.

Keputusannya sudah benar-benar bulat. Ia akan menjebak Kai. Kakeknya pasti terkejut kalau tau Kai meniduri seorang gadis. Dan itu pasti akan berdampak baik baginya, karena itu berarti saham Kai diperusahaan akan menurun dan diberikan padanya. Sesuai isi didalam surat perjanjian yang sudah mereka tandatangani.

Suho melirik sekilas kearah Shinyeon yang menutup kedua matanya dengan tangannya ketika anak buahnya melepas pakaian Kai satu persatu.

“Anak ini masih sama, benar-benar polos.” Batin Suho. Tanpa disuruh, ia menarik tubuh Shinyeon kedalam pelukannya.

“Ap..apa yang kau lakukan?” Tanya Shinyeon melihat apa yang dilakukan Suho tiba-tiba padanya. Ia menggeserkan tubuhnya berusaha melepas pelukan Suho. Tapi sayang, itu malah membuat Suho mempererat pelukannya.

“Diamlah. Jangan berpikir yang macam-macam terhadap kelakuanku. Aku tau kau akan tidur dengannya, tapi bukankah kau sendiri takut melihat tubuh seorang pria yang tidak menggunakan sehelai benangpun, eo?” Ucapan Suho barusan membuat Shinyeon mengurungkan niatnya untuk kembali protes.

“Sekarang giliranmu.” Kata Suho beberapa menit setelah anak buahnya mengubah pakaian yang dipakai Kai menjadi sebuah balutan selimut.

“Mwo?” Shinyeon membelalakkan matanya. Apa maksud ucapan Suho barusan?

“Aniyo, jangan berpikir yang macam-macam. Tentu saja kami tidak akan melihatmu. Aku dan yang lain akan tunggu diluar.” Suho terlihat gugup. Ia benar-benar terlihat memalukan.

“Sebentar lagi Lee ahjumma akan masuk untuk membantumu.” Jelas Suho sebelum menutup pintu.

“Ne, arraseo.” Jawab Shinyeon.

“Sehunnie, maafkan aku.”

~~∞ő∞~~


“Dia sudah siap tuan.” Ucap Lee ahjumma begitu keluar dari kamar hotel.

“Ah, ne. Terimakasih, aku harap kau tutup mulut soal ini.” Ucap Suho lebih terdengar seperti ancaman.

“Ye, sajangnim. Sepertinya make-upnya tidak akan bertahan lama kalau gadis itu terus menangis. Aku permisi.” Ucap wanita paruh baya itu lantas pergi meninggalkan Suho dan anak buahnya.

Suho membuka pintu kamar hotel perlahan. Tidak ada sahutan. Dilihatnya Shinyeon yang sedang menangis dengan tubuh mulusnya yang hanya dibalut selimut hotel. Kalau saja situasinya tidak seperti ini, ingin sekali rasanya ia memeluk tubuh mungil itu. Memberinya pakaian yang layak dan tak akan membiarkan pria manapun menyentuhnya. Tapi, untuk sementara ini ia harus merelakan gadisnya itu demi keegoisannya dulu. Setidaknya setelah ini berakhir, ia akan berusaha merebut kembali gadis itu.

“Aku pulang dulu. Hubungi aku bila terjadi sesuatu. Tapi, aku yakin Kai tidak akan berbuat macam-macam padamu.” Ucap Suho berpamitan meski Shinyeon masih sibuk dengan tangisannya.

“Anyyeong, Yeonnie. Selamat malam.”

~~∞ő∞~~

Kai menggeliatkan tubuhnya. Ah, entah mengapa kepalanya masih sedikit pusing.

“Hiks…hiks..” Ia mendengar suara seorang gadis menangis. Ditolehkannya kepalanya kesampingnya.

“AAAAAAAAAAAAAAAA!” pekiknya.

“A…Apa..apa yang kau lakukan disini Shinyeon-ssi?” Tanya Kai.

“Mworago?! Kau tanya apa yang aku lakukan disini????”

“Pakaianku? Dimana pakaianku?” Kai terlihat bingung.

“Apa… apa..apa yang terjadi? Apa yang telah kita lakukan???” Kini Kai benar-benar terlihat panik. Tubuhnya dan Shinyeon hanya dibalut selimut hotel. Dia benar-benar bingung dengan apa yang terjadi padanya pagi hari ini.

“Kau bercanda, kan? Shinyeon-ssi! Katakan padaku kalau ini semua bercanda, kan?!” Bentak Kai. Ia yakin ia tidak melakukan apapun pada gadis yang baru dikenalnya itu.

“AAAAAAAAAAAAAAAA!” Kai berteriak frustasi. Seplayboy apapun dia, dia yakin ia tak mungkin melakukan hal sebejat ini. Bayang-bayang Gyori, kekasihnya dan Kim Myunseok, Kakeknya memenuhi kepalanya. Apa yang akan mereka katakan kalau mengetahui masalah ini.

“Jelaskan! CEPAT JELASKAN!”

“Mwo? Apa sekarang kau menyalahkanku? Kau pikir aku bisa apa kalau seorang pria yang baru aku kenal mengancam akan membunuhku kalau aku tidak melayaninya?! HAH! APALAGI YANG PERLU AKU JELASKAN, HAH!” Kini tangis Shinyeon menjadi-jadi. Ia yakin Suho pasti sangat senang bila menyaksikan ini.

“Kai-ssi, mianhae. Kau harus membayar apa yang telah kau lakukan pada Sehunku.” Gumam Shinyeon dalam hati.

“Tidak mungkin. Aku tidak dalam keadaan mabuk tadi malam. Kau pikir kau bisa membodohiku? Aku hanya meminum segelas kopi. Tidak mungkin aku mabuk.” Bantah Kai.

Jantung Shinyeon berdegup kencang. Bagaimana kalau Kai tau ini semua hanya rekayasa? Apa yang akan dilakukan Kai pada dirinya? Menuntutnya, kah? Prasangka-prasangka buruk itu memenuhi kepala Shinyeon.

“Lalu? Apa maksudmu aku menggodamu? Kau pikir aku wanita serendah itu?” Shinyeon berusaha keras agar aktingnya terlihat senatural mungkin. Sungguh, menerima tawaran Suho untuk menjebak pria bernama Kai itu tidak mudah.

“Pakai bajumu. Aku yakin, pegawai hotel akan memberitahukan siapa yang melakukan ini. Dan bersiaplah, jika ini semua omong kosong, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja.” Ancam Kai lantas bergegas memakai pakaiannya dan menunggu Shinyeon bersiap-siap didepan pintu.

~~∞ő∞~~


“Jeongmal?” Kai hampir tak percaya mendengar ucapan resepsionis didepannya barusan.

“Tidak! Kau pasti salah. Aku tidak pernah memesan kamar itu.” Kai masih yakin dengan apa yang diingatnya.

“Maaf, tuan. Tapi tadi malam anda dan nyonya muda ini memesan kamar dengan nomor 201.” Ulang resepsionis itu.

“Berapa uang yang kau butuhkan, huh? Cepat katakan yang sebenarnya dan aku akan membayarmu 10 kali lebih banyak.” Kai masih berusaha menahan emosinya, meskipun raut wajahnya benar-benar terlihat mengerikan.

“Maaf, tuan. Tapi disini benar-benar tertulis atas nama tuan Kim Jongin.” Sang resepsionis tetap pada ucapannya. Kai terdiam sejenak memperhatikan dengan jelas identitas yang tertulis dilayar computer sang resepsionis.

“Dimana ruang pengawas cctv?” Tanya Kai lagi. Ia masih tetap pada keyakinannya. Ia tidak mungkin melakukan hal sebodoh itu. Ia yakin seseorang pasti menjebaknya.

“Maaf, anda tidak bisa masuk ketempat itu.”

“Wae? Apa kau takut orang yang membayarmu ketahuan?”

“Maaf, tuan. Tapi saat ini ruang cctv kami sedang diperbaiki karena beberapa kamera dilantai 15 sampai 20 terjadi gangguan listrik.” Jelas wanita resepsionis itu lagi. 

"Apa kau bercanda? Kamarku terletak dilantai 17! Bagaimana mungkin ini terjadi?" Jujur, andai saja ini bukan tempat umum, Kai pasti sudah memecahkan beberapa guci yang menjadi penghias hotel ini.

“Kau benar-benar licik, Suho oppa.” Shinyeon sibuk dengan pikirannya sendiri begitu melihat ekspresi Kai yang kacau.

Drrrrt…drrrrtt

Kai merogoh saku celananya. Pikirannya yang sedang kacau membuatnya tidak sadar kalau sedari tadi Gyorin menelponnya.

“Kai-ah? Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau tidak mengangkat telponku dari tadi?” Gyorin terdengar panik dari sebrang sana.

“Ah, mianhae chagi. Aku bangun kesiangan hari ini.” Jawab Kai bohong.

“Ah, baiklah kalau begitu. Selamat bekerja, hwaiting!”

“Ne, annyeong.” Kai menutup telponnya.

“Ck, laki-laki brengsek.” Komentar Shinyeon.

“Mwo? Apa katamu?”

“Bagaimana mungkin kau mengucapkan kata sayang padahal kau baru saja meniduri wanita lain? Kau benar-benar pria brengsek. Aku tidak mau tau, kau harus bertanggung jawab. Kau tau, aku tidak berniat mengatakan ini. Tapi kalau sampai tubuhku mengandung janinmu, maka aku tidak akan membiarkanmu hidup dengan tenang.” Shinyeon pergi meninggalkan Kai begitu saja. Rasa bersalah menyelimuti pikirannya. Begitupun perasaan senang karena telah berhasil melihat pria yang menabrak sehun dalam keadaan kacau.

“Aku rasa, permainan ini boleh juga.” Batin Shinyeon.

Sebelum benar-benar meninggalkan hotel, ia membukan handphone-nya, mengetikkan beberapa kata.

Form          : Shinyeon
To              : Kim Junmyeon
Langkah awal berhasil. Katakan apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Tapi jangan siang ini, aku akan menjenguk Sehun dirumah sakit.

 ******************************************************************

Waiting for the next part yawwwww! :))))
Jangan lupa RCL-nyaaaaaaaa :)))))
Maaf typo dan tulisan Ga-Je bertebaran ! :)))))

3 komentar:

Anonim mengatakan...

sebar...pesona....wkwkwk ternyata cewek satu ini pinter juga yah..bukan si authornya.... -,-
kai and suho sepupu tapi bersaing gara2 ingin merebut harta warisannya si kakek -,- huft kenapa gk bersaing buat ngerebutin aku.... -,,- gk ah nanti si sehun cemburu lagi sama kai si temsek and si suhoLANGKAYA....... ------,,,,,,,------

Anonim mengatakan...

wow bagus banget ceritanya,ceweknya se cantik apa sih -,- apakah melebihi aku?-;,-
aduh beruntung banget yah yg jadi yeojacingu nya suho,bisa di beliin apa aja (matre wkwkwk).sekian dari aku.

oh_byun_kai mengatakan...

anyeong.....kenalin aku saudaranya kai a.k.a kim jong in temsek.bagus thor ceritanya....aku tunggu ke lanjutannya.wajib secepatnya....ada salam dari si temsek....

Posting Komentar