Bad Love Story
Judul : Bad Love Story
Authror : RBRose(S)
Genre : Romance
Main
Cast : Kim Jongin, Kim Junmyeon, Oh
Sehun and others {Exo}
Ahn Shinyeon, Lee Gyorin, etc {Oc}
Length : Chapter (part 1)
.
.
.
Shinyeon’s POV
“Mwo? Apa kau gila, Oppa?” aku benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang
dikatakan Suho Oppa padaku. Memang
benar dia atasanku, tapi melakukan hal segila itu..
“Aku
sudah bisa menebak reaksi-mu.” Suho oppa
terlihat santai menanggapinya. Ia meneguk dengan tenangnya secangkir kopi yang
ada di atas mejanya.
“Aku
tidak bisa melakukannya. Tidak. Aku tidak mau.” Ingin rasanya meninggalkan
ruangan ini begitu saja kalau dia bukan bos-ku. Permintaannya kali ini
benar-benar gila.
“Bukankah
kau butuh uang untuk membayar rumah sakit temanmu? Apa kau lupa?” aku benci
kata-katanya itu, cara seperti apa lagi yang akan dia gunakan untuk
memojokkanku.
“Ah,
aku lupa. Dia bukan hanya sahabatmu, tapi pria yang kau sukai, tepatnya kau cintai,
bukan?” sambungnya.
“Tapi,
aku..” aku benar-benar tidak tahu kalau dibalik wajah tampan mempesona nan
elegan sepertinya memiliki otak yang benar-benar licik.
“Apa
bukti-bukti ini belum cukup untukmu? Sudah jelas dia yang menabrak Sehun-mu. Anggap
saja apa yang kau lakukan kali ini sebagai pembalasan untuknya.” Dia
menyodorkan kembali surat kabar yang membahas tentang kecelakaan beberapa hari
lalu oleh salah satu calon pewaris Kim Corp yang menyebabkan Sehun koma sampai
hari ini.
“Aku
tau itu.”
“Lalu,
apalagi yang kau tunggu? Bukankah dulu alasanmu meninggalkan-ku karena kau
mencintai Oh Sehun, sahabatmu?” Ya, Suho Oppa
memang kekasihku, dulu. Sebelum aku jatuh dalam pesona sahabatku sendiri, Oh
Sehun. Itulah alasannya mengapa aku memanggilnya dengan sebutan ‘Oppa’ padahal dia adalah atasanku, dan karena
dia yang memintanya.
“Sikapmu
tidak berubah sama sekali, Oppa. Kau
suka sekali memanfaatkan orang lain, kau memanfaatkanku.” Aku cukup kesal
dengan sifatnya yang satu ini.
“Aku
tau. Aku juga tidak melupakan alasan lainmu yang membenci sifatku ketika
meninggalkanku dulu. Tapi kali ini aku tidak memanfaatkanmu, kita bekerja sama.”
Kemenangan jelas tergambar diwajahnya demi melihatku mengiyakan untuk melakukan
apa yang diinginkannya.
“Lalu,
apa yang harus kulakukan?”
“Kau
hanya perlu mengikuti alur yang kubuat, Yeon-ah.”
“Kau
benar-benar licik, Junmyeon-ssi.” Ucapku ketus.
~~∞ő∞~~
Author’s POV
“Ada yang ingin kubicarakan. Temui
aku nanti malam di Richson’s Caffe.”
Kai
mengerutkan kepalanya. Apa yang ingin sepupunya itu bicarakan sampai-sampai
mengganggu makan siangnya hari ini.
“Kai-ah!”
Gyorin melambai-lambaikan tangannya tepat diwajah Kai. Kekasihnya itu, apa yang
sedang dipikirkannya saat ini.
“Kai-ah!
Wae?” ulangnya lagi.
“Ah,
aniyo. Gyorin-ah, aku tidak bisa
menemanimu kerumah sakit nanti malam, mianhae.
Suho hyung memintaku menemuinya.”
Jelas Kai, ia sedikit tak enak hati dengan kekasihnya itu.
“Ah,
gwenchana. Suho oppa? Tumben sekali. Sepertinya itu penting.”
“Entahlah.
Mungkin dia sudah merubah pandangannya padaku.”
“ya, mungkin.”
~~∞ő∞~~
“kau
serius ingin melakukannya?” Shinyeon mengulang pertanyaan yang dilontarkannya
pada Suho sejak beberapa jam yang lalu. Ia benar-benar tidak yakin ia sanggup
melakukannya.
Menjebak
salah satu pewaris Kim Corp? ah, mungkin itu kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Tapi apa yang bisa ia lakukan lagi? Dia benar-benar butuh uang dalam jumlah
besar untuk membayar rumah sakit sahabatnya. Lagipula tidak ada salahnya
menjebak laki-laki yang telah menyebabkan sahabatnya itu koma, anggap saja
sebagai pertanggung jawaban.
“Kau
tenang saja, semua akan berjalan lancar kalau kau melakukannya sesuai
perintahku.” Jawab Suho, “Dan satu lagi, berhenti memanggilku tanpa sebutan ‘Oppa’, arra?” Ia mendaratkan tangan
kirinya kewajah mulus Shinyeon, mengelusnya pelan meskipun sang pemilik hanya
memberikan reaksi tidak suka kepadanya.
“Jongin
sajangnim sudah datang, Sajangnim.” Ucap salah satu bawahan Suho
mengingatkan.
“Kau,
bersembunyilah dulu.” Perintah Suho yang hanya dibalas anggukkan dari Shinyeon.
Beberapa
menit kemudian, seorang pria muda tampan masuk kedalam caffe. Gayanya yang
tenang dan kulitnya yang sedikit gelap untuk style orang korea serta sinar
lampu caffe yang sedikit redup membuat ketampanan dan kharismanya benar-benar terpancar
dari tubuhnya. Kai bejalan mendekati salah satu meja di Caffe itu begitu
dilihatnya Suho yang melambai kearahnya.
“Kau
memang menepati janjimu untuk datang.” Komentar Suho memulai pembicaraan.
“Apa
yang ingin kau bicarakan, Hyung?”
Balas Kai tanpa basa-basi.
“Huh!
Apa ini sikapmu terhadapku setelah aku berusaha untuk berbaik hati padamu?”
Suho menjentikkan jarinya memanggil seorang pelayan dengan alasan untuk memesan
makanan atau secangkir minuman. Alih-alih melakukannya, tanpa sepengetahuan
Kai, ia meletakkan secarik kertas diatas papan menu yang dibawa pelayan tadi
sebagai tanda untuk bawahannya agar memberi tahu Shinyeon untuk segera kemari.
“Aku
hanya ingin mengajakmu makan malam bersama.” Sambung Suho lagi.
“Cukup
basa-basimu, Hyung. Apa yang sebenarnya
ingin kau katakan?” Kai mencoba untuk tidak terjebak dengan hyungnya itu,
karena jujur saja moment seperti ini benar-benar aneh baginya. Biasanya
hyungnya itu hanya melihatnya sebagai saingan, bukan sebagai saudara.
“Apa
kau tidak ingin memesan minuman?” Tanya Suho, “Atau aku yang memesankannya?
Bukankah kau menyukai americano’s coffe?”
“Ternyata
kau memperhatikan seleraku, hyung.
Aku tidak yakin kau bersikap baik padaku tanpa ada niat apapun, tapi kuhargai
itu.” Ucap Kai tanpa ragu-ragu. Diliriknya wajah Suho yang sedikit terlihat
geram, ia tahu pasti itu karena ucapannya barusan.
“Kau
boleh berburuk sangka padaku. Tapi alasanku melakukan ini sebagai tanda
persaingan kita sebagai calon perebut warisan kakek dengan persentase terbesar
telah dimulai. Aku harap kita melakukannya dengan sportif.” Jawab Suho, Kai
mengangguk setuju.
“Aku
tahu itu, hyung. Aku harap tidak
hanya satu pihak yang bermain jujur, tapi semua pihak.” Lagi-lagi perkataan Kai
menusuk tepat dijantung Suho.
Untung
saja Shinyeon datang tepat waktu. Kalau tidak, mungkin pembicaraan yang
membosankan dan menyebalkan bagi Suho itu akan membuatnya sulit mengontrol
emosinya.
“Oh,
Ahn Shinyeon-ssi!” Panggil Suho berpura-pura tidak mengenal Shinyeon.
“Oh,
Kim Junmyeon sajangnim.” Shinyeon
menundukkan kepalanya sopan. Sesuai rencana yang telah disusun Suho, mereka
akan berpura-pura tidak pernah memiliki hubungan apapun selain sebagai atasan
dan bawahan.
Gaun
biru selutut yang dikenakan Shinyeon benar-benar membuatnya terlihat sangat
cantik. Rambut hitam panjang sebahu yang dimilikinya yang telah didandani
sebaik mungkin menambah aura kecantikannya. Itupun termasuk dalam Skenario. Apa
yang dikenakan Shinyeon malam ini tujuan utamanya adalah membuat Kai jatuh
terpesona padanya meskipun tanpa dipungkiri, semua pria yang melihanya termasuk
Suho sendiri sudah jatuh dalam pesonanya.
“Kebetulan
sekali, apa kau ingin bergabung?” Tawar Suho, berusaha bersikap sewajar
mungkin.
“Ah,
aku tidak ingin mengganggu acara makan malammu, Sajangnim.” Jawab Shinyeon kelewat halus.
“Sudahlah,
lagipula kau sendiri, kan. Lebih baik bergabung bersama kami.” Ucap Suho.
“Ye, gamsahamnida.”
Balas Shinyeon malu-malu.
“Kai-ah,
perkenalkan ini Ahn Shinyeon, sekretaris baruku. Ahn Shinyeon, dia Kai,
sepupuku dan juga pewaris dari Kim Corp.” ucap Suho.
“Ahn
Shinyeon imnida.” Ada sedikit
keraguan dibenak Shinyeon. Kai, pria itu terlihat pintar dan berbahaya
dimatanya. Apa yang akan dihadapinya kalau ternyata pria ini mengetahui
kebohongan ini? Ah lagi-lagi, ini demi Oh Sehun, sahabatnya.
“Kim
Jongin imnida, kau cukup memanggilku
Kai.” Aroma khas dari parfum yang dikenakan Kai masuk memenuhi rongga hidung
Shinyeon.
“Jadi, aroma inikah yang akan aku
rasakan selama Sehun koma? Tidak buruk. Pria ini cukup tahu tentang fashion.”
Batin Shinyeon.
Tak
butuh waktu lama bagi Shinyeon untuk mengakrabkan diri dengan Kai. Karena pada
nyatanya Kai cukup terbuka dengan orang lain atau mungkin karena dia telah
mempercayai Shinyeon sebagai sekretaris Suho dan orang baik-baik.
“Aku
tinggal sebentar.” Suho melirik kearah Shinyeon sebelum sempat meninggalkan
mereka berdua.
“Ah,
ye.” Jawab Shinyeon, ia mengerti apa yang harus dilakukannya sekarang.
“Kai
sajangnim, apa anda tidak haus? Atau
ingin saya pesankan minum yang lain? Sepertinya anda tidak menyukai kopi itu.”
Ucap Shinyeon sengaja untuk memancing Kai meminum kopi yang telah diberi obat
tidur itu.
“Ah,
tidak perlu. Aku menyukai kopi ini.” Kai meraih cangkir didepannya, meminumnya
beberapa tegukan. Pada awalnya ia merasa baik-baik saja, tapi beberapa saat
kemudian ia merasakan kepalanya sedikit pusing.
Shinyeon
yang melihatnya berusaha untuk membantu, “Sajangnim,
apa anda baik-baik saja.” Tanya Shinyeon berpura-pura.
“Aku
baik-baik saja.” Jawab Kai meskipun ia merasa tidak baik-baik saja saat ini. “Apa
kau melihat Suho hyung?” tanyanya lagi.
“Sepertinya
Suho sajangnim sudah pulang. Barusan
aku mendapat pesan kalau ia harus menghadiri rapat mendadak.”
“Rapat?”
“Ye.
Dan sebentar lagi aku akan menyusulnya.” Jelas Shinyeon yang dibalas anggukkan
mengerti dari Kai.
“Baiklah,
kalau begitu aku permisi pulang. Sepertinya kondisi badanku sedang tidak baik.”
Ucap Kai berpamitan, masih dengan tangan kirinya yang memegang kepalanya yang
benar-benar terasa pusing.
“Apa
kau baik-baik saja, Sajangnim?” Tanya
Shinyeon lagi.
“Ah,
ne. Aku baik-baik saja.” Kai tetap meneruskan perjalanannya. Shinyeon sudah tau
apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia hanya menghitung dari tempat duduknya.
“Satu…Dua…Tiga!”
tepat pada hitungan ketiga tubuh Kai ambruk kelantai. Setelah yakin bahwa Kai
sudah benar-benar tertidur, barulah suruhan-suruhan Suho datang dan membawa Kai
ke tempat yang telah dipersiapkan, apalagi kalau bukan hotel.
“Kerja
bagus, chagiya!” Suho terlihat sangat senang. Ia mengacak-acak pucuk
kepala Shinyeon pelan. Kegiatan yang belum pernah ia lakukan lagi kepada gadis
manapun sejak hubungannya dan Shinyeon berakhir atau sekitar 5 tahun yang lalu.
“Aku
tidak dibayar untuk membiarkanmu mengelus rambutku.” Shinyeon berjalan
meninggalkan Suho dibelakangnya. Berniat untuk memasuki mobil pribadinya, tapi
lebih dulu tangannya ditahan oleh orang yang sangat dibencinya saat ini.
“Tunggu!
Kau ikut bersamaku.” Suho menarik paksa Shinyeon masuk kedalam mobilnya.
“Lepaskan!
Aku punya mobil sendiri.” Tepis
Shinyeon, tapi percuma. Pria didepannya tidak mendengarkannya sama sekali.
“Aku
takut kau akan kabur setelah ini.” Ucap Suho begitu berhasil membuat Shinyeon
masuk kedalam mobilnya.
~~∞ő∞~~
“Buka
bajunya.” Perintah Suho pada anak buahnya untuk membuka pakaian yang menutupi
tubuh Kai. Ia melihat kearah Shinyeon. Ia tidak tahu, apakah ia benar-benar
tega membiarkan gadis yang pernah dan sampai sekarang masih mengisi hatinya itu
untuk tinggal bersama orang yang menjadi saingannya saat ini, sepupunya, Kim
Jongin.
Keputusannya
sudah benar-benar bulat. Ia akan menjebak Kai. Kakeknya pasti terkejut kalau
tau Kai meniduri seorang gadis. Dan itu pasti akan berdampak baik baginya,
karena itu berarti saham Kai diperusahaan akan menurun dan diberikan padanya.
Sesuai isi didalam surat perjanjian yang sudah mereka tandatangani.
Suho
melirik sekilas kearah Shinyeon yang menutup kedua matanya dengan tangannya
ketika anak buahnya melepas pakaian Kai satu persatu.
“Anak ini masih sama, benar-benar polos.”
Batin Suho. Tanpa disuruh, ia menarik tubuh Shinyeon kedalam pelukannya.
“Ap..apa
yang kau lakukan?” Tanya Shinyeon melihat apa yang dilakukan Suho tiba-tiba
padanya. Ia menggeserkan tubuhnya berusaha melepas pelukan Suho. Tapi sayang,
itu malah membuat Suho mempererat pelukannya.
“Diamlah.
Jangan berpikir yang macam-macam terhadap kelakuanku. Aku tau kau akan tidur
dengannya, tapi bukankah kau sendiri takut melihat tubuh seorang pria yang tidak
menggunakan sehelai benangpun, eo?” Ucapan Suho barusan membuat Shinyeon
mengurungkan niatnya untuk kembali protes.
“Sekarang
giliranmu.” Kata Suho beberapa menit setelah anak buahnya mengubah pakaian yang
dipakai Kai menjadi sebuah balutan selimut.
“Mwo?” Shinyeon membelalakkan matanya.
Apa maksud ucapan Suho barusan?
“Aniyo, jangan berpikir yang macam-macam.
Tentu saja kami tidak akan melihatmu. Aku dan yang lain akan tunggu diluar.”
Suho terlihat gugup. Ia benar-benar terlihat memalukan.
“Sebentar
lagi Lee ahjumma akan masuk untuk
membantumu.” Jelas Suho sebelum menutup pintu.
“Ne, arraseo.” Jawab Shinyeon.
“Sehunnie, maafkan aku.”
~~∞ő∞~~
“Dia
sudah siap tuan.” Ucap Lee ahjumma begitu keluar dari kamar hotel.
“Ah,
ne. Terimakasih, aku harap kau tutup mulut soal ini.” Ucap Suho lebih terdengar
seperti ancaman.
“Ye, sajangnim. Sepertinya make-upnya
tidak akan bertahan lama kalau gadis itu terus menangis. Aku permisi.” Ucap wanita
paruh baya itu lantas pergi meninggalkan Suho dan anak buahnya.
Suho
membuka pintu kamar hotel perlahan. Tidak ada sahutan. Dilihatnya Shinyeon yang
sedang menangis dengan tubuh mulusnya yang hanya dibalut selimut hotel. Kalau
saja situasinya tidak seperti ini, ingin sekali rasanya ia memeluk tubuh mungil
itu. Memberinya pakaian yang layak dan tak akan membiarkan pria manapun
menyentuhnya. Tapi, untuk sementara ini ia harus merelakan gadisnya itu demi
keegoisannya dulu. Setidaknya setelah ini berakhir, ia akan berusaha merebut
kembali gadis itu.
“Aku
pulang dulu. Hubungi aku bila terjadi sesuatu. Tapi, aku yakin Kai tidak akan
berbuat macam-macam padamu.” Ucap Suho berpamitan meski Shinyeon masih sibuk
dengan tangisannya.
“Anyyeong, Yeonnie. Selamat malam.”
~~∞ő∞~~
Kai
menggeliatkan tubuhnya. Ah, entah mengapa kepalanya masih sedikit pusing.
“Hiks…hiks..”
Ia mendengar suara seorang gadis menangis. Ditolehkannya kepalanya
kesampingnya.
“AAAAAAAAAAAAAAAA!”
pekiknya.
“A…Apa..apa
yang kau lakukan disini Shinyeon-ssi?” Tanya Kai.
“Mworago?! Kau tanya apa yang aku lakukan
disini????”
“Pakaianku?
Dimana pakaianku?” Kai terlihat bingung.
“Apa…
apa..apa yang terjadi? Apa yang telah kita lakukan???” Kini Kai benar-benar
terlihat panik. Tubuhnya dan Shinyeon hanya dibalut selimut hotel. Dia
benar-benar bingung dengan apa yang terjadi padanya pagi hari ini.
“Kau
bercanda, kan? Shinyeon-ssi! Katakan padaku kalau ini semua bercanda, kan?!”
Bentak Kai. Ia yakin ia tidak melakukan apapun pada gadis yang baru dikenalnya
itu.
“AAAAAAAAAAAAAAAA!”
Kai berteriak frustasi. Seplayboy apapun dia, dia yakin ia tak mungkin
melakukan hal sebejat ini. Bayang-bayang Gyori, kekasihnya dan Kim Myunseok, Kakeknya
memenuhi kepalanya. Apa yang akan mereka katakan kalau mengetahui masalah ini.
“Jelaskan!
CEPAT JELASKAN!”
“Mwo? Apa sekarang kau menyalahkanku? Kau
pikir aku bisa apa kalau seorang pria yang baru aku kenal mengancam akan
membunuhku kalau aku tidak melayaninya?! HAH! APALAGI YANG PERLU AKU JELASKAN, HAH!” Kini tangis Shinyeon menjadi-jadi. Ia
yakin Suho pasti sangat senang bila menyaksikan ini.
“Kai-ssi, mianhae. Kau harus membayar apa
yang telah kau lakukan pada Sehunku.” Gumam Shinyeon dalam hati.
“Tidak
mungkin. Aku tidak dalam keadaan mabuk tadi malam. Kau pikir kau bisa
membodohiku? Aku hanya meminum segelas kopi. Tidak mungkin aku mabuk.” Bantah
Kai.
Jantung
Shinyeon berdegup kencang. Bagaimana kalau Kai tau ini semua hanya rekayasa?
Apa yang akan dilakukan Kai pada dirinya? Menuntutnya, kah? Prasangka-prasangka
buruk itu memenuhi kepala Shinyeon.
“Lalu?
Apa maksudmu aku menggodamu? Kau pikir aku wanita serendah itu?” Shinyeon
berusaha keras agar aktingnya terlihat senatural mungkin. Sungguh, menerima
tawaran Suho untuk menjebak pria bernama Kai itu tidak mudah.
“Pakai
bajumu. Aku yakin, pegawai hotel akan memberitahukan siapa yang melakukan ini.
Dan bersiaplah, jika ini semua omong kosong, aku tidak akan melepaskanmu begitu
saja.” Ancam Kai lantas bergegas memakai pakaiannya dan menunggu Shinyeon
bersiap-siap didepan pintu.
~~∞ő∞~~
“Jeongmal?” Kai hampir tak percaya
mendengar ucapan resepsionis didepannya barusan.
“Tidak!
Kau pasti salah. Aku tidak pernah memesan kamar itu.” Kai masih yakin dengan
apa yang diingatnya.
“Maaf,
tuan. Tapi tadi malam anda dan nyonya muda ini memesan kamar dengan nomor 201.”
Ulang resepsionis itu.
“Berapa
uang yang kau butuhkan, huh? Cepat katakan yang sebenarnya dan aku akan
membayarmu 10 kali lebih banyak.” Kai masih berusaha menahan emosinya, meskipun
raut wajahnya benar-benar terlihat mengerikan.
“Maaf,
tuan. Tapi disini benar-benar tertulis atas nama tuan Kim Jongin.” Sang
resepsionis tetap pada ucapannya. Kai terdiam sejenak memperhatikan dengan
jelas identitas yang tertulis dilayar computer sang resepsionis.
“Dimana
ruang pengawas cctv?” Tanya Kai lagi. Ia masih tetap pada keyakinannya. Ia
tidak mungkin melakukan hal sebodoh itu. Ia yakin seseorang pasti menjebaknya.
“Maaf,
anda tidak bisa masuk ketempat itu.”
“Wae? Apa kau takut orang yang membayarmu
ketahuan?”
“Maaf,
tuan. Tapi saat ini ruang cctv kami sedang diperbaiki karena beberapa kamera
dilantai 15 sampai 20 terjadi gangguan listrik.” Jelas wanita resepsionis itu
lagi.
"Apa kau bercanda? Kamarku terletak dilantai 17! Bagaimana mungkin ini terjadi?" Jujur, andai saja ini bukan tempat umum, Kai pasti sudah memecahkan
beberapa guci yang menjadi penghias hotel ini.
“Kau benar-benar licik, Suho oppa.”
Shinyeon sibuk dengan pikirannya sendiri begitu melihat ekspresi Kai yang
kacau.
Drrrrt…drrrrtt
Kai
merogoh saku celananya. Pikirannya yang sedang kacau membuatnya tidak sadar
kalau sedari tadi Gyorin menelponnya.
“Kai-ah? Apa yang terjadi padamu?
Kenapa kau tidak mengangkat telponku dari tadi?”
Gyorin terdengar panik dari sebrang sana.
“Ah,
mianhae chagi. Aku bangun kesiangan
hari ini.” Jawab Kai bohong.
“Ah, baiklah kalau begitu. Selamat
bekerja, hwaiting!”
“Ne, annyeong.” Kai menutup telponnya.
“Ck,
laki-laki brengsek.” Komentar Shinyeon.
“Mwo? Apa katamu?”
“Bagaimana
mungkin kau mengucapkan kata sayang padahal kau baru saja meniduri wanita lain?
Kau benar-benar pria brengsek. Aku tidak mau tau, kau harus bertanggung jawab.
Kau tau, aku tidak berniat mengatakan ini. Tapi kalau sampai tubuhku mengandung
janinmu, maka aku tidak akan membiarkanmu hidup dengan tenang.” Shinyeon pergi
meninggalkan Kai begitu saja. Rasa bersalah menyelimuti pikirannya. Begitupun
perasaan senang karena telah berhasil melihat pria yang menabrak sehun dalam
keadaan kacau.
“Aku rasa, permainan ini boleh
juga.” Batin Shinyeon.
Sebelum
benar-benar meninggalkan hotel, ia membukan handphone-nya, mengetikkan beberapa
kata.
Form :
Shinyeon
To : Kim
Junmyeon
Langkah awal berhasil. Katakan apa yang
harus aku lakukan selanjutnya. Tapi jangan siang ini, aku akan menjenguk Sehun
dirumah sakit.
******************************************************************
Waiting for the next part yawwwww! :))))
Jangan lupa RCL-nyaaaaaaaa :)))))
Maaf typo dan tulisan Ga-Je bertebaran ! :)))))
3 komentar:
sebar...pesona....wkwkwk ternyata cewek satu ini pinter juga yah..bukan si authornya.... -,-
kai and suho sepupu tapi bersaing gara2 ingin merebut harta warisannya si kakek -,- huft kenapa gk bersaing buat ngerebutin aku.... -,,- gk ah nanti si sehun cemburu lagi sama kai si temsek and si suhoLANGKAYA....... ------,,,,,,,------
wow bagus banget ceritanya,ceweknya se cantik apa sih -,- apakah melebihi aku?-;,-
aduh beruntung banget yah yg jadi yeojacingu nya suho,bisa di beliin apa aja (matre wkwkwk).sekian dari aku.
anyeong.....kenalin aku saudaranya kai a.k.a kim jong in temsek.bagus thor ceritanya....aku tunggu ke lanjutannya.wajib secepatnya....ada salam dari si temsek....
Posting Komentar